Secuil Kisah Bahana Mahasiswa

Oleh Made Ali

Kisah ini hanya sebuah bunga rampai—semacam cerita “pendek”—perja lanan 25 tahun koran kampus. Koran kampus ini didirikan di tengah rezim orde baru.

Era presiden Soeharto, dikenal sebagai rezim otoriter, salah satu nya mengekang kebebasan berpendapat—termasuk kebebasan pers.
Sedikit saja mengkritik penguasa, akibatnya pers dibungkam dan izin pener bitan pasti dicabut. Nam un, di tengah era “hukum adalah penguasa” sebuah media agent of change mun cul di kampus sebagai kawah candradimuka war tawan Riau kelak.

Koran ini mendoku mentasikan momen-mo men besar di kampus maupun Riau. Tradisi menyatukan ideologi pers dan ideologi mahasiswa. diwujudkan dalam bentuk liputan independensi—menulis benar tetaplah benar atau sebaliknya.

Inilah sekilas perjalanan Perak itu:
Tahun 1982. Kampus Universitas Riau (Unri), Gobah—saat itu Unri masih di Gobah. Muncul ide agar kampus Unri me miliki media informasi tingkat universitas. Meski saat itu masing-masing fakultas telah memiliki media: Estuaria (Fakultas Perikanan dan Kelautan), Politea (Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik), Gaung (Fakutlas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Eko nomika (Fakultas Eko nomi), dan Beta (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Media-media tersebut dicetak sederhana umumnya dalam bentuk stensilan. Bahkan ada yang hanya ditempel di dinding.

Memang sekitar tahun 1979-1980 gairah perkem bangan media sedang booming di kampus. Kem bali ke tahun 1982. Pihak rektorat mengumpulkan perwakilan mahasiswa tiap fakultas sebanyak 30 orang dengan kriteria sederhana: bisa menulis. Perwakilan itu terdiri dari pengurus-pengurus media tingkat fakultas, rata-rata aktifis kampus yang tergabung dalam Badan Koordinasi Kemahasis waan (BKK) maupun perwakilan Senat Mahasis wa (Sema) dan Badan Per wakilan Mahasiswa (BPM). Artinya, didirikan oleh aktifis-aktifis kampus.

Rapat pembentukan koran kampus perdana digelar. Dipimpin oleh Pembantu Rektor (PR) III, (Almarhum) Anwar Syair. Dalam rapat setuju. Nama medianya : Surat Kabar Kampus (SKK) Bahana Mahasiswa (BM) Unri. Nama itu diberikan lang sung oleh (almarhum) Muchtar Luthfi, rektor Unri. BM bermakna gema, gaung atau sipongi.
Beberapa hari kemu dian. Tepatnya, tanggal 9 September 1982, BM disahkan dalam bentuk Surat Keputusan (SK) Rektor Unri No.368/PT.22/0.1982 tentang Pener bitan surat kabar kampus mahasiswa Unri serta struktur dan personalia pengasuhnya. Bubuhan tandatangan (alm) Much tar Luthfi tertera dalam SK tersebut.

Dalam SK tercantum 30 orang pengurus—terma suk job description. Job description tersebut terdiri dari Pelindung atau pena sehat, Pimpinan Umum, Pemimpin Redaksi, Wakil Pemred, Dewan Redaksi, Sekretaris Redaksi, Editor, Ilustrator, Wartawan Foto, Sirkulasi dan Keuangan.
Fachrunnas MA Jabbar tercatat sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) per tama. Pimpinan Umum langsung di bawah kendali PR III Unri. Fachrunnas MA Jabbar dipilih melalui rapat dan menang secara aklamasi. Fachrunnas MA Jabbar dipilih. Pertimbangan sederhana—selain punya pengalaman sebagai warta wan umum—spirit Estuaria yang pertama kali diter bitkan oleh Fachrunnas adalah salah atu faktor nya—Estuaria saat itu rutin terbit. Meski saat rapat perdana itu Fachrunnas tak mengikuti rapat karena sedang penataran P-4 selama dua minggu di Pekanbaru.

“Usai rapat pemben tukan pengurus, seingat saya Dasri Almubari (almarhum, red) mene lepon. Saya sedang  istira hat. Dasri mengucapkan selamat bahwa saya terpilih sebagai Pemimpin Redaksi pertama secara aklamasi. Karena tak ada alasan saya menerima nya,”kenang Fachrunnas.
Syarat formil selan jutnya segera diurus—setelah mendapat SK dari rektor. Usaha diteruskan mengurus rekomendasi ke Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Departemen Penerangan Provinsi Riau sebagai salah satu syarat memperoleh izin dari Departemen Penerangan RI. Setelah mendapatkan rekomendasi, PR III Unri, berangkat ke Jakarta bersama W.E Tinambunan mengurus izin ke Menteri Penerangan RI. Akhirnya terbitlah STT dari Menteri Penerangan RI dengan No 1013/SK/Ditjen PPG/STT/1983 tanggal 30 Mei 1983.

Setelah urusan legalitas terpenuhi. Tanggal 17 Juli 1983 edisi perdana BM terbit sebanyak 16 (enam belas) halaman dengan jumlah tiras 5000 eksem plar. Hampir separuh halaman berisi pengu muman penerimaan maha siswa baru. Edisi pertama BM dicetak dengan meng gunakan kertas folio. Edisi  kedua baru kertas koran. Dicetak di PT Bumi Indah.

“Dari 1982 ke 1983 menjelang terbit perdana kita sibuk menyiapkan pembentukan pengurus Bahana,”kata Fachrunnas mengingat 25 tahun silam. “Ultah Bahana diambil dari edisi Bahana pertama terbit bukan berpatokan SK perdana Bahana,”lanjut nya.
Dan BM pun mulai berproses menapakai jalan panjang dan berliku

Generasi Fachrunnas MA Jabbar
Generasi Fachrunnas MA Jabbar adalah peletak pondasi dasar dan hukum BM ditabalkan. Karena dasar, mulai dari rapat penerbitan, isi rubrik, sistem perekrutan hingga pembinaan kru dibentuk. Selain itu liputan BM tak melulu soal kampus tapi juga mengkritik pendidi kan Riau yang ada kaitan nya dengan kampus. Mereka berproses dari awal. “Mereka mau belajar. meskipun tak punya bakat menulis,”ujar Fachrunnas.

Ujian berat dialami era ini. Edisi pertama hingga ke tiga dana cetak ditalangin universitas. BM sudah dibagikan secara gratis ke mahasiswa. “Sedihnya  koran Bahana dijadikan alas duduk,”cerita Fachru nnas, mengenang sam butan mahasiswa terhadap BM kala itu.

Strategi pun dicari agar BM sampai ke tangan mahasiswa. Edisi berikut nya BM dikirim ke fakul tas-fakultas sesuai jumlah mahasiswa. Tapi tak jalan, karena senatnya tak jalan. Tak semua mahasiswa mau baca dengan mutu penerbitan awal. “Ah apa ini,” kata Fachrunas meni rukan cemoohan mahasis wa kala itu.

Memasuki bulan ke empat mulailah dana cetak BM dari Unri tak ada. “Kalau mau, kalian jual sendiri,” kata PR III. BM pun mecoba menjual seharga 250 perak per koran. Namun hasil penjua lan malah rugi.
Kru BM, terus mencari akal agar BM tak “mati suri” karena cekak dana. Akhirnya, kru BM menghadap PR III. BM mengusulkan agar dana cetak dianggarkan dalam Persatuan Orang Tua Mahasiswa (Potma). Ternyata usulan itu tak langsung diterima. Usulan itu  dibawa ke rapat senat Unri. Namun, anggota senat ada yang pro dan kontra.  “Saya baru tahu pak Tabrani, ibu Asna Mamun, pak Arifin Mashyur dan bebe rapa dosen  mendu kung kita banyak.” Dan satu masalah krusial—dana cetak—melegakan kru BM.

Liputan BM pada awalnya ha nya mengangkat persoalan lembaga maha siswa. Lambat laun mulai berani pada semua kebijakan yang dilaukan Unri. Karena mengkritik rektor, BM dipanggil rektor Unri, Muchtar lutfi. “Koran kampus ini tempat latihan, kalau mau mengkritik kami (rektorat) silakan bicarakan dulu dengan kami baru diterbitkan,”kata rektor kala itu.
“Sewaktu kita menja wab bahwa pers kampus sebagai kontrol sosial. Rektor marah-marah,”ujar Fachrunnas. Sejak saat itu sebelum BM naik cetak harus di edit rektor.  “Wak tu itu sekitar edisi 8-9. Rektor menyensor luar biasa.”
Tiga edisi rektor mela kukan penyensoran deng an intensif. Rektor menyuruh liputan BM seputar kampus. “Rektor capek membaca BM sebelum terbit  dengan tulisan sebanyak 12 halaman,” imbuhnya.
Setahun setelah itu. PR III memanggil pengurus BM. PR III  mengatakan akan ada penataran pers se-Sumatra. Sekaligus menjadikan BM sebagai pilot projek koran kampus nasional untuk Sumatera. BM ditunjuk sebagai tuan rumah.

Tanggal 11-15 April 1985 BM menghelat Latihan Pers Kampus Ting kat Pengelola se-Sumatra di Unri. Para peserta belajar kep ada BM cara mengelola rubrikasi. Televisi Repub lik Indonesia (TVRI) mena yangkan liputan khusus selama setengah jam. TVRI menyorot acara penataran pers, rapat redaksi BM. “Jam satu malam sutingnya,”kenang Fach runnas.  Bertepatan hari pendidikan nasional tanggal 2 Mei 1985, liputan TVRI ditayangkan se-Indonesia.  Atas keber hasilan itu khusus untuk Indonesia bagian barat, BM menjadi kebang gaan.

Fachrunnas MA Jabbar, sastrawan, budayawan Riau dan Vice presiden PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP), tercatat sebagai Pemred sejak tahun 1983-Mei 1987. Meski sudah diwisuda, PR III Unri kala itu tetap meminta kepada Fach runnas untuk mengasuh dan membina kader berikut nya.

Generasi Bahtiar
Bulan Juni 1987 sampai Agustus 1989. Tampuk kepemimpinan BM  selanjut nya diemban Bahtiar. Era ini baru mulai isu luar kampus menjadi isu pokok. Meski era Fachrunnas juga sering mengangkat isu luar kampus, tapi tetap oreantasi isu pendidikan.
Pada periode ini BM juga mulai mengundang tokoh pers dan penulis kaliber nasional seperti Mahbub Junaidi dan Arswendo Atmowiloto untuk berbicara di depan para kader  jurnalis kampus. Lalu, mereka melakukan kegiatan sosial hingga men datangkan artis Jakarta. Mereka juga per nah menye leng gara kan seminar sehari dengan tema Mendambakan Harian Daerah pada tang gal 17 September 1987.  Sebagai bukti kerisauan mereka terhadap minimnya  koran harian di Riau. Empat tahun kemudian baru lahir surat kabar harian Riau Pos sebagai ukuran besar per tama yang terbit harian di Riau. Dan memang sejak BM, meliput liputan di luar kampus. BM juga dicari pembaca dari luar, karena saat itu belum ada koran harian. Tradisi kritis selalu menjadi ciri khas BM.

Generasi Abu Bakar Siddik
Era ini BM dibung kam oleh kekuasaan. Gara-gara edisi Februari BM  tahun 1990 berjudul Budaya Melayu di Persimapngan Jalan? Demam Budaya, Demam Berdarah, dan Pekan Budaya Ha…Ha.. isinya  meng kritik helat Pekan Budaya Melayu Riau waktu itu.

“Kita melihat  Pekan Budaya yang akan diada kan tak dikelola secara serius. Pendekatannya lebih kepada pendekatan proyek. Padahal anggota, dulu itu sangat kecil. Jadi kita melihat sasaran nya tak efektif,” ungkap Abu Bakar Siddik Pemred  yang menjabat  sejak September 1989-Februari 1990.
Begitu BM terbit, Riau heboh. Karena BM kala itu di tengah jatuh bangunnya pers di Riau. Koran BM juga dikonsumsi oleh umum. ”Pengaruhnya juga besar oleh karena itu liputan BM tak lepas dari pantauan pihak keku asaan,”kenang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi Riau periode 2005-2009 ini.

Abu Bakar Siddik dan Zulmizan Farinja Assa gaf—sekretaris redaksi—dipanggil K adit Sospol propinsi Riau, Salam Herawanto. Abu dan Zul mizam diinterogasi di ruang rektorat di depan rektor, dekan dan Humas kantor gubernur Riau.

Komandan itu ber tanya. “Apa maksud Bahana mengeluarkan jen is liputan sangat tajam, sangat menghujam menyi nggung perasaan.”
“Kita ingin dana ini tak dilakukan dengan sistem pendekata proyek, diupayakan tepat sasaran. Kita ingin membuat persoalan ini mendapat perhatian masyarakat sebulan ke depan, apakah sebulan ke depan ada perubahan signifikan. Kita ingin melihat apa yang akan terjadi di lapangan nanti,”jawab Abu tegas.

“Kalau begitu tujuan adik-adik mulia,” kata kolonel. “Itulah,” Jawab Abu,  “yang kalian curigai melihat miring terus pada mahasiswa.

Karena dianggap tak sopan di depan kolonel. Rektor Unri, Bosman Saleh menarik Abu ke dalam ruangannya.  “Kamu kecil-kecil begini itu kolonel lo,”hardik Bosman Saleh. Karena Zulmizan tak terima perlakuan rektor. Zulmizan lebih garang pula pada rektor. Rektor tersinggung, lalu  memerintahkan agar edisi BM yang heboh itu tak boleh terbit. Namun, sebagian besar sudah beredar. “Sisanya diaman kan untuk barang bukti, sisanya itulah yang diangkat angkat pak Mawi.”

Karena sikap kritis itulah Abu Bakar Siddik dan T Zulmizan dipecat oleh rektor Unri dari kepengurusan BM. Di gantikan oleh Riva Muzamri.
Generasi T Zulmizan Farinja Assagaf
Era Riva Muzamri BM terkesan patuh pada perin tah rektor. Sebab sebelum cetak harus disensor lagi. Ketika Tengku  Zulmi zan Farinja Assagaf dipercaya menjadi Pemred meng gantikan Riva Muzamri. Perubahan dilakukan.  Liputan-liputan BM kem bali kritis.
Namun, sebelum cetak BM tetap harus disensor rektorat. “Pokoknya, kayak kurang kerja an. Padahal kerjaan rektor kan bayak, kenapa harus mengurusi BM. Berapa banyak waktu tersita. Akhirnya kita suruh edit semua halaman. Dari lay out sampai artikel,”kata Zulmizan.

Nah, generasi Zulmizan inilah BM benar-benar independen—lepas dari intervensi rektor. Generasi ini bisa dikatakan sebagai generasi perubahan. Motto BM Mengawal Almamater Nusantara di ubah menjadi Mengembangkan tradisi akademis yang kritis. “Kita mau meluruskan lagi fungsi BM itu sebagai apa, bukan sebagai humas. Kalalu wawasan nusantara dikawal-kawal terlalau besar. Dan itu nonsen. Kita mengarahkan BM sebagai Lembagar Pers Mahasiswa yang kritis. Jika  salah katakan salah, jika  benar katakan benar, lalu menjadi peduli terhadap lingkungan,” ujarnya tegas.
Perubahan yang menarik juga saat Pemimpin Umum BM saat itu langsung dipegang oleh mahasiswa. “Kita melakukan kudeta tak berdarah. M. Diah yang menjabat rektor baru membuka ruang pergerakan BM,” ujarnya mengenang. Peralihan ini dipilihlah Zulmizan sebagai Pimum perdana merangkap Pemred.

Sejak saat itu BM menjadi lembaga yang kritis yang menjalankan ini: Pers mahasiswa adalah pertembungan dua arus: idealisme sebagai mahasiswa dan idealisme sebagai wartawan. Dan melahirkan independensi.
Inilah generasi yang pernah mengabdi yang selalu menjaga Tradisi BM agar tetap kritis.

Generasi Ahmad Jamaan (Oktober 1996-Maret 1998), Fitriady Syam (Mei 1998-April 1999), Ahmad Fitri (Mei 1999-November 1999), Abdul Kadir Bey (Desember 1999-2001), Antoni (Maret 2001-September 2001), M Rizal (Oktober 2001-September 2002), Aldi Roza (Oktober 2002-Maret 2004), M Hapiz (April 2004-Desember 2006), Najmiarti (Januari 2006-2007) dan Anggara Pernando (2007-Desember 2007). Mereka semua adalah mantan Pimum yang mewakili masing-masing generasi.

Tanggal 17 Juli 2008. kini, BM tela berusia ke-25 tahun. Generasi yang dipimpin Suprapto sejak Januari 2008. Pada tanggal 6 September 2008 bertepatan bulan Ramdhan 1429 Hijriah, di Hotel Ibis pada pukul 20.56 WIB, keluarga Besar Alumni BM yang selama ini “terserak” berhimpun kembali dalam Ikatan Keluarga  Alumni (IKA BM). Fachrunnas MA Jabbar terpilih sebagai ketua umum periode 2008-2013.

Dan, di tahun Perak ini BM tetap : Mengembangkan Tradisi Akademis yang Kritis. Tentunya BM bukan milik siapa-siapa, tapi milik MAHASISWA UNRI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s