Ketika Pria Bicara Seks

Oleh Sutthida Malikaew

CHIANG MAI, THAILAND – TUN Yo mungkin tak tahu banyak tentang kemajuan dunia ketika kali pertama datang untuk bekerja di salah satu kebun jeruk di sini tujuh tahun silam. Dia hanya anak muda berusia 14 tahun kala itu dan satu dari ribuan migran asal Burma yang berbondong-bondong ke Thailand setiap tahunnya.

Ketika akhirnya menikah, dia mungkin hanya sedikit tahu atau tidak sama sekali tentang keluarga berencana atau kesehatan reproduksi. Bahkan Tun Yo mungkin tak peduli.

Tapi itu tak terjadi lagi. Sebagai salah satu peserta dalam sebuah proyek yang ditujukan bagi migran lelaki asal Burma di Chiang Mai, Tun Yo menghadiri sebuah lokakarya pelatihan kesehatan reproduksi. Lokakarya itu menginspirasikannya untuk membahas metode pengendalian kelahiran dengan sang istri. Selain itu, ujarnya, dia jadi sadar akan kesehatan seksual dan belajar bagaimana menghindari penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV dan AIDS.

“Saya kira dibandingkan perempuan, laki-laki kurang menaruh perhatian pada kesehatan,” ujar Dr Samphan Kahinthapong, direktur wilayah utara Perkumpulan Keluarga Berencana Thailand (PPAT), yang menjalankan proyek itu –dengan dukungan dari International Planned Parenthood Federation (IPPF). “Sebenarnya, bila laki-laki bertanggung jawab atas kesehatan reproduksi mereka, (itu) akan membantu kesehatan mereka maupun pasangan mereka.”

Itulah pemikiran yang melatarbelakangi PPAT membuat dan menjalankan proyek itu, yang dimulai Juni tahun lalu dan berakhir Maret 2011. Selain lokakarya yang mempekerjakan sejumlah migran sebagai pelatih, proyek itu menyertakan klinik mobile yang menyediakan alat kontrasepsi dan perawatan, serta melakukan tes PMS.

Ketika menyodorkan proyek itu, PPAT mencatat sekira dua juta migran Burma di Thailand punya keterbatasan atau bahkan tak punya sama sekali akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan. Sebagai konsekuensi, ujarnya, masyarakat migran Burma kerap menghadapi “kehamilan dini atau tak diinginkan, pernikahan dini, penyakit menular seksual (termasuk HIV/AIDS), aborsi tidak aman, dan kekerasan terhadap perempuan”.

Proyek itu bertujuan memberikan informasi mengenai kesehatan seksual dan reproduksi bagi 4.000 orang dan layanan terkait bagi 1.000 orang. Buruh migran laki-laki Burma di perkebunan jeruk, konstruksi, dan tempat lain di utara Thailand menjadi sasarannya.

Proyek itu telah membantu sebagian besar pekerja Tai Yai, minoritas etnis di Burma yang hubungan gendernya lebih setara dibandingkan kelompok etnis lain. Bahkan kemudian, beberapa orang bilang berubah sikap setelah ambil bagian dalam proyek itu.

Misalnya, mereka mengatakan bahwa sekarang mereka tak menganggap pekerjaan rumah tangga hanya menjadi beban perempuan, khususnya jika sehari-har si lelaki maupun perempuan bekerja di luar rumah.

Seorang pekerja perempuan berusia 37 tahun juga mengatakan: “Rasanya memalukan bicara tentang seks dengan suami. Tapi, dengan pengetahuan yang sekarang saya miliki, saya bilang kepadanya jika saya tak ingin berhubungan seks karena hadi atau ketika saya lelah.”

“Dia tak menolak ketika saya memintanya membeli pembalut saya,” ujarnya. “Jika kami berada di komunitas kami di Mong Pan (di negara bagian Shan, Burma), saya tak yakin dia akan melakukannya. Lelaki di sana merasa malu, bahkan untuk mencuci pakaian perempuan.”

Pekerja laki-laki dan perempuan Burma lainnya mengatakan, setelah mengikuti pelatihan sebagai bagian dari proyek itu, lelaki lebih menghormati dan memahami perempuan. Para peserta lebih peduli untuk memiliki kehidupan keluarga yang berkualitas, kata mereka.

Petugas proyek Benjawan Srivichai juga mengatakan, peningkatan pemahaman di antara lelaki dan perempuan adalah salah satu perubahan yang mereka lihat selama ini di antara para peserta. “Kaum lelaki biasanya memonopoli pengambilan keputusan. Tapi sekarang mereka mendengarkan satu sama lain,” ujarnya. “Kami mendengar lebih banyak tentang laki-laki dan perempuan menjadi setara. Selain itu, pekerja laki-laki dan perempuan lebih memiliki akses ke pelayanan kesehatan reproduksi, kondom, dan pil kontrasepsi.”

Saat ini PPAT berpikir untuk memperpanjang proyek itu untuk menjamin perubahan itu bisa bertahan. Dr Samphan juga mengatakan hal itu akan memungkinkan PPAT memperluas sasaran penerima manfaat dengan memasukkan remaja laki-laki. Selain itu, ujarnya, sebuah proyek jangka panjang akan lebih cocok untuk menghadapi tren kehamilan dini.

Ahli gender Niwat Suwanpattana mengatakan, proyek PPAT merupakan inisiatif bagus. Tapi menurutnya fokusnya hanya terbatas pada kesehatan dan kontrasepsi. Niwat, yang merupakan penasehat Thai Network Coalition on AIDS, mengatakan bahwa dia lebih senang jika proyek itu bergerak ke arah lain, seperti mendorong perempuan untuk memandang seks lebih dari sekadar “tugas” terhadap pasangan.

Ini bukan kali pertama PPAT memiliki sebuah proyek yang ditujukan bagi migran Burma di Chiang Mai. Dalam beberapa tahun terakhir, ia menyediakan layanan kesehatan reproduksi, tapi fokus bagi migran perempuan dan antara lain mencakup tes ginekologi dan pap smear. Namun sementara PPAT cenderung punya proyek di wilayah yang sama selama bertahun-tahun, tak ada masalah baginya untuk mengubah program sesuai kebutuhan masyarakat.

Buruh migran seperti Tun Yo senang dengan inisiatif terbaru itu. Tun Yo mengatakan: “Saya tak pernah menggunakan kondom sebelumnya. Sekarang saya tahu bagaimana menggunakannya, bukan hanya untuk pengendalian kelahiran tapi juga mencegah HIV dan PMS lainnya.”

“(Istri saya dan saya) juga mendiskusikan kapan kami akan punya bayi,” katanya. Menurut Tun Yo, proyek itu membuat mereka sadar ada banyak metode keluarga berencana yang bisa mereka pilih.*

Translated by Basil Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerja sama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pacific

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s