Partikel Plastik Beredar Tanpa Henti

Stephen Leahy

HONOLULU, Hawaii, U.S – BOTOL plastik atau wadah plastik untuk kopi yang hanya digunakan selama 20 menit bisa membunuh burung-burung, ikan dan binatang laut yang tak terhitung jumlahnya selama beberapa dekade, ujar para ahli.

Pada pulau-pulau karang di Pasifik yang terpencil, induk elang laut yang rajin tak sadar menyuapi anak-anak mereka dengan potongan plastik yang miirp makanan. Anak-anaknya mati karena kekurangan gizi. Ketika tubuh mereka membusuk, semua tutup botol plastik, korek api sekali pakai, dan potongan sampah plastik kembali ke lingkungan dalam siklus “daur-ulang” yang kejam.

Saat ini ada banyak plastik di lautan. Tampaknya hampir di setiap perut burung laut terdapat plastik karena kebiasaan makannya menyebabkan mereka keliru menjadikan potongan plastik jadi makanan. Hal yang sama terjadi pada penyu laut, hewan laut atau ikan, kata para ahli.

Northern fulmars, sebuah burung laut yang biasanya berjumlah jutaan, memiliki 45 ton plastik dalam perut mereka, demikian perkiraan Jan Andries van Franeker, seorang ahli biologi Institute for Marine Resources and Ecosystem Studies di Universitas Wageningen, Belanda.

Setidaknya 95 persen dari fulmars di Laut Utara, tempat van Franeker meneliti selama tiga dekade, memiliki satu hingga selusin potongan plastik pada perut mereka. Hal yang sama terjadi pada spesies terkait seperti burung storm petrels dari Wilson, yang tak sadar mengangkut sekira 35 ton plastik dari daerah musim dingin mereka di Atlantik Utara ke daerah berkembang-biak di Antartika, katanya.

“Jika kebiasaan makan seekor burung laut menyebabkannya keliru menjadikan plastik sebagai makanan, maka akan ada plastik di dalam perutnya,” ujarnya dalam sebuah wawancara pada Konferensi Internasional tentang Sampah Laut ke-5, yang berakhir Jumat lalu di Honolulu, Hawaii.

Sudah 10 tahun konferensi internasional tentang sampah laut terakhir berlalu dan harapan agar industri, masyarakat sipil, peneliti, dan pembuat kebijakan menemukan landasan yang sama tentang langkah strategis dan terbaik untuk menilai, mengurangi, dan mencegah dampak dari sampah laut.

”Saya terkadang punya mimpi atau mimpi buruk di mana fulmars memuntahkan semua plastik itu kepada peserta di ruang konferensi besar seperti ini,” kata van Franeker kepada IPS. “Ini akan jadi sebuah pernyataan yang sangat gamblang.”

Sebuah pernyataan perlu dibuat seiring meningkatnya masalah di lautan-lautan di dunia yang dipenuhi banyak plastik, alat penangkap ikan, dan berbagai sampah plastik lainnya. Tak ada data pasti seberapa banyak tapi tampaknya berada dalam puluhan juta ton setiap tahun dan sebagian besar bersumber dari darat.

Perkiraan Program Lingkungan PBB tahun 2006 menunjukkan setiap kilometer persegi lautan di dunia memiliki rata-rata 13.000 lembar sampah plastik  yang mengambang di permukaan. Berjalan di atas garis pantai laut di mana pun di dunia akan memberikan banyak bukti skala masalahnya –kecuali baru-baru ini dibersihkan.

Ocean Conservancy, sebuah lembaga nonpemerintah di AS, memimpin pembersihan pantai dan garis pantai di seluruh dunia selama 25 tahun. Selama itu, hampir sembilan juta relawan di 152 negara membersihkan dan mendata 66 juta kilogram sampah, tulis sebuah laporan terbaru yang dirilis di Honolulu.

Tiga item sampah teratas dari sejumlah item yang dikumpulkan adalah puntung rokok, kemasan makanan, dan sumbat atau tutup botol. Tas plastik, botol, dan sedotan atau pengaduk juga masuk 10 besar.

“Orang tak menyadari bahwa dampak kumulatif sampah-sampah laut merupakan masalah utama bagi laut,” kata Achim Steiner, direktur eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP).

UNEP dan National Oceanic Atmospheric Administration (NOAA) adalah sponsor konferensi –UNEP juga menyediakan dana perjalanan untuk IPS menghadiri konferensi itu.

Steiner mengatakan, sampah laut adalah masalah yang “tak terlihat, di luar pikiran” tapi dia memperingatkan sains sudah menunjukkan bahwa partikel-partikel plastik yang disebut mikroplastik bisa menganggu kelenjar endokrin, yang mempengaruhi kesehatan spesies laut dan mungkin manusia.

“Kita perlu mengurangi ketergantungan pada plastik,” ujarnya kepada para peserta konferensi dalam sebuah pernyataan-video.

Sekira 260 juta ton plastik baru dibuat setiap tahun. Plastik tak benar-benar terurai; ia hanya terurai menjadi potongan kecil hingga mikroskopik –partikel mikroplastik– yang tetap berada dalam lingkungan selama ratusan tahun.

Pada 1950, hanya lima juta ton plastik diproduksi secara global. Hari ini setiap orang di negara maju menggunakan sekira 100 kg plastik per tahun, sementara negara-negara berkembang menggunakan 20 kg dan jumlah itu terus bertambah.

Steiner mengatakan, kebijakan seperti Extended Producer Responsibility (EPR) di Korea Selatan tak hanya menjadi solusi tapi sumber pekerjaan dan pendapatan baru. Sistem EPR mewajibkan para produsen dan importir untuk mendaur-ulang sejumlah produk mereka. Dalam lima tahun sejak peluncuran program itu di Korea, enam juta ton limbah telah didaur-ulang, termasuk 70.000 ton plastik, yang menghasilkan keuntungan finansial lebih dari 1,6 milyar dolar.

Menjauhkan sampah plastik dari laut adalah sesederhana membentuk sistem deposit wajib dengan nilai cukup tinggi atas plastik apa saja untuk memastikan ia terlalu berharga untuk membuangnya, kata van Franeker. Jerman, Belanda, dan semua negara Nordik memiliki sistem deposit untuk botol-botol plastik dan tingkat daur-ulang lebih baik 95 persen sebagai hasilnya.

“Plastik ramah lingkungan atau mudah terurai seharusnya dilarang. Plastik ramah lingkungan punya kandungan plastik sebanyak plastik yang terbuat dari minyak,” katanya.

Apa yang disebut plastik ramah lingkungan hanya terurai menjadi partikel mikroplastik lebih cepat daripada plastik tradisional. “Kita tak mungkin bisa melihatnya dengan mata tapi plastik masih ada,” dia menambahkan.

Industri mendorong plastik ramah lingkungan dan mudah terurai sehingga dalam jangka pendek penggunaan plastik bisa dilanjutkan, katanya. “Suatu saat penggunaan plastik sama sekali tak bisa diteruskan.”

Van Franeker bukanlah antiplastik. “Ia bahan yang bagus. Plastik benar-benar sangat berharga. Tapi ia harus bisa dibuat agar aman dan dapat digunakan kembali.” *

 

Translated by Basil Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pacific

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s