Mempertanyakan Peran WHO

Oleh Gustavo Capdevila

JENEWA (IPS) – BENCANA nuklir di Fukushima, Jepang, dan peringatan ke-25 bencana pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Chernobyl di Ukraina dilemparkan ke dalam kontradiksi bantuan atas peran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang ditekankan organisasi-organisasi masyarakat sipil selama bertahun-tahun.

Sebuah koalisi LSM internasional, IndependentWHO, mengatakan lembaga multilateral itu tak pernah menunjukkan independensi dalam keputusan atau tindakannya, berkenaan dengan pandangan hingga kekuasaannya untuk melindungi korban kontaminasi radioaktif.

Kelompok itu menyalahkan (dugaan) ketidakaktifan WHO dalam bidang ini saat sebuah perjanjian yang ditandatanganinya pada 1959 dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), sebuah organisasi independen Perserikatan Bangsa-Bangsa yang didirikan untuk mempromosikan “teknologi nuklir yang tepat, aman, dan cinta damai.”

Koalisi LSM itu menyatakan bahwa perjanjian tersebut membuat WHO “tunduk” pada IAEA dan mencegahnya “mengambil inisiatif atau tindakan untuk mencapai tujuannya: memelihara dan meningkatkan kesehatan.”

WHO seharusnya memutuskan “hubungan saudara” dengan IAEA, ujar Wladimir Tchertkoff, wartawan Swiss kelahiran Rusia, yang sudah menghasilkan tujuh film dokumenter televisi tentang Chernobyl, kepada IPS.

Tapi hubungan antara dua lembaga itu tak setara, karena IAEA bergantung pada Dewan Keamanan PBB, sedangkan WHO bertanggungjawab pada Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) yang kedudukannya lebih rendah.

Dalam perjanjian Mei 1959, kedua lembaga sepakat untuk bekerjasama lebih erat dan saling berkonsultasi setiap kali salah satu dari keduanya berencana menjalankan sebuah program atau kegiatan di satu bidang di mana yang lainnya memiliki perhatian besar. Perjanjian ini juga menetapkan pembatasan untuk menjaga kerahasiaan dokumen-dokumen tertentu.

Dalam kerangka kerja itu, “lobi nuklir berhasil membuat WHO melepaskan kepedulian terhadap korban bencana nuklir,” kata akademisi Swiss, Jean Ziegler, saat ini wakil presiden Komite Penasehat Dewan Hak Asasi Manusia PBB.

Sesuai perjanjian tahun 1959, posisi WHO adalah “ketika ada kecelakaan nuklir, kami tak bertanggungjawab untuk merawat para korban; lembaga nuklir satu-satunya pihak yang bertanggungjawab,” kata Ziegler kepada IPS.

Dia menggambarkannya sebagai situasi mengerikan di mana ribuan orang mati ketika mereka bisa diselamatkan.

Ini “memperbarui kecurigaan kami bahwa lobi punya kedudukan kuat ” di sini, ujarnya, sambil menunjuk gedung WHO di luar tempat wawancara berlangsung.

Estimasi terbaru jumlah korban Chernobyl, yang diterbitkan dua lembaga itu pada 5 September 2005, menyebutkan 50 orang meninggal dan 4.000 orang terkena kanker.

IndependentWHO menyebut angka itu bukan main rendah, karena mereka abai memperhitungkan kesehatan anak-anak yang tinggal di daerah terkontaminasi, “di mana tingkat penyakit berada pada 80 persen.” Data itu juga “mengabaikan nasib 600.000 hingga 1.000.000 likuidator (sukarelawan),” nama yang diberikan bagi para veteran penyelamatan dan pembersihan Chernobyl, tulis pernyataan koalisi.

Tchertkoff menekankan bahwa kajian Chernobyl: onsequences of the Catastrophe for People and the Environment, sebuah buku yang diterjemahkan dari bahasa Rusia dan diterbitkan pada Desember 2009 oleh Akademi Sains New York, mengajukan jumlah 985.000 orang meninggal dunia akibat bencana itu di 985.000, antara ledakan Unit 4 PLTN Chernobyl pada 26 April 1986 dan 2004.

Menurut data kesehatan yang dikutip buku ini, lebih dari 80 persen anak-anak di wilayah Ukraina, Belarus –Republik Belarussia Soviet kala itu– dan Rusia yang terkontaminasi Chernobyl berada dalam kesehatan yang baik sebelum kecelakaan itu, sementara “sekurangnya 20 persen baik” saat ini.

Sejak 27 April 2007, organisasi-organisasi yang tergabung dalam IndependentWHO berjaga-jaga di depan gedung WHO di Jenewa setiap hari kerja pukul 08.00-18.00.

Yang berjaga, terdiri dari 1-3 aktivis, menyerukan revisi perjanjian 1959 dengan IAEA dan menuntut agar WHO bekerja memenuhi tujuannya, seperti diuraikan dalam konstitusi organisasi tersebut: “mencapai tingkat kesehatan setinggi mungkin bagi seluruh umat manusia.”

Tapi Tchertkoff merasa skeptis. WHO “tak bisa berbuat banyak karena ia merupakan korban” dari sebuah situasi yang diciptakan, katanya.

Terkait kecelakaan di Fukushima, di timur laut Jepang, yang disebabkan gempa bumi dan tsunami pada 11 Maret, “WHO tak tahu apa yang harus dilakukan,” katanya.

“Ia tak memiliki staf yang mampu menangani situasi itu. Ia hanya memiliki lima orang, hanya dua orang lulusan universitas tapi tanpa pengalaman,” tambahnya.

Tchertkoff juga menyebutkan kontroversi itu dipicu kebijakan WHO selama pandemi flu tahun 2009, khususnya berkaitan dengan produksi dan distribusi vaksin flu.

Ziegler mengatakan WHO telah “disusupi” oleh lobi nuklir dan industri farmasi.

Dia ingat sebuah penyelidikan independen, yang dilakukan mantan Direktur Jenderal WHO Gro Brundtland (1998-2003), menemukan bahwa beberapa staf lembaga tersebut menerima pembayaran dari industri tembakau, sementara lembaga itu membahas Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau, yang akhirnya disetujui pada 2005.

Tchertkoff berpendapat ada dua kecenderungan berbeda di dalam WHO.

Salah satunya adalah jika keadaan terus memburuk, seperti selama beberapa minggu terakhir, itu akan menjadi penting bagi WHO untuk sekali lagi membahas kebijakan tentang radiasi nuklir.

Namun kelompok lain mempertahankan bahwa membuka kembali perdebatan itu akan berarti sebuah pengakuan “bahwa kita tak melakukan apa-apa dalam beberapa dekade terakhir,” katanya.

“Masalah internal yang serius semacam ini patut disayangkan saat kita melihat Fukushima, Chernobyl, dan semua pembangkit listrik tenaga nuklir di dunia, mengepung 410 juta orang yang tinggal dalam radius 30 kilometer dari titik-titik berbahaya,” ujarnya.

IPS, yang meminta wawancara dengan Direktur Kesehatan Publik dan Lingkungan María Neira, tak mendapat tanggapan dari WHO terkait tuduhan-tuduhan itu.*

Translated by Basil Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerja sama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik.

One response to “Mempertanyakan Peran WHO

  1. satriyabisniss

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://satriyabisniss.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s