Tragedi Endosulfan

Oleh K.S. Harikrishnan

KASARGOD, INDIA (IPS) – AJITH, anak lelaki berusia sembilan tahun dari desa Badiyadukka di selatan negara bagian Kerala, India, dengan sabar menunggu ibunya kembali dari pasar untuk mengantarkannya ke toilet. Tulangnya cacat, dia sama sekali tak bisa bergerak.

Di Periya, desa lain di utara distrik Kasargod, Kerala, seorang perempuan menunggu kompensasi dari pemerintah untuk putrinya, Anjani, yang lahir dengan kandung kemih keluar tubuhnya. “Saya harus berada di dekatnya sepanjang hari dan tak bisa mencari pekerjaan,” katanya.

Ajith dan Anjana adalah korban hidup dari penyemprotan pestisida beracun endosulfan yang sudah berlangsung selama lebih dari dua dekade kendati telah dilarang di perbukitan dan lembah Kasargod yang ditumbuhi jambu mete, sekarang sebuah nama yang diakui dalam peta pestisida global.

Isu global pelarangan endosulfan akan menjadi agenda dalam Conference of the Parties to the Stockholm Convention on pPersistent oOrganic pPollutants, atau “POPs Treaty”, yang akan digelar di Jenewa minggu ini.

Ketika konferensi dimulai, konvensi dibuka, Kepala Menteri Kerala V.S. Achudthanandan memimpin aksi massa di negara bagian itu untuk menuntut pemerintah pusat memberlakukan larangan endosulfan secara nasional, sebuah langkah yang telah diambil oleh 81 negara lainnya.

Pemerintah Kerala juga berusaha mendapatkan ganti rugi sebesar 86 juta dolar AS dari pemerintah pusat untuk merehabilitasi para korban, seperti direkomendasikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (NHRC) pada 31 Desember 2010.

Para aktivis HAM mengatakan, jumlah itu kurang memadai. Kummel Radhakrishnan, seorang aktivis di Hosdurg, sebuah kota di dekat Kasargod, mengatakan kepada IPS bahwa korban tak mendapat perawatan memadai. “Banyak keluarga yang terkena dampak kehilangan pencari nafkah mereka karena kematian atau pengabaian.”

Keracunan endosulfan dimulai pada 1980-an ketika Perusahaan Perkebunan Kerala (PCK) milik negara bagian itu memulai ritual penyemprotan dari udara tiga kali setahun pada hampir 5.000 hektar perbukitan dan lembah yang bergelombang dan ditumbuhi jambu mete yang tersebar di selusin desa.

Akibat penyemprotan itu, setidaknya terdapat 9.000 korban di distrik Kasargod, kata Komite Aksi Endosulfan, sebuah badan payung yang mewakili hampir selusin organisasi dan bekerja untuk memberi bantuan dan rehabilitasi bagi penduduk desa yang terkena dampak. Dari jumlah itu, ujar Komite Aksi, 4.800 orang terbaring sakit dan sekitar seribu orang meninggal dunia.

Pemerintah negara bagian mengakui sejauh ini sebanyak 486 orang yang terpapar pestisida meninggal dunia dan sekira 3.000 orang menderita dampak melemahkannya.

Kerala dan Karnataka, negara bagian tetangganya, telah melarang endosulfan tapi para produsen tetap memasarkan bahan kimia itu dengan menggunakan nama berbeda seperti “parrysulfan,” yang dijual melalui outlet-outlet hingga para petani. PCK sendiri tak lagi menggunakan pestisida.

Kedua negara bagian itu mendesak pemerintah pusat memberlakukan larangan secara nasional untuk mencegah pestisida murah dan populer diselundupkan dari negara-negara bagian lain.

Tapi lobi pestisida yang dipimpin Menteri Pusat Pertanian Sharad Pawar, yang juga seorang politisi kuat dari negara bagian Maharashtra, berada di belakang penundaan larangan nasional.

Achudthanandan mempersoalkan fakta itu bahwa Perdana Menteri Manmohan Singh tak seharusnya mengalah pada permintaan Kerala untuk pemberlakuan larangan nasional. Kepala menteri kepala Kerala, Achudthanandan, berkata, “Perdana Menteri tak seharusnya menggunakan kantornya untuk mempromosikan lobi pestisida seperti Menteri Sharad Pawar.”

Keracunan endosulfan di Kasargod telah menyebabkan cacat lahir, termasuk: bayi-bayi lahir dengan tungkai seperti tanduk rusa, kulit bersisik, lidah terulur, mata cacat, jemari dan jari kaki ekstra, langit-langit sumbing, kaki bengkok dan bibir sumbing, hydrocephalus, penyakit ginjal, gangguan pernafasan, kerusakan kognitif dan emosional, hilang ingatan, penurunan koordinasi motorik-visual, serta kebutaan.

Beberapa ibu muda berhenti melahirkan hingga melakukan aborsi daripada berisiko melahirkan anak cacat. Di Kasargod, mudah untuk menemukan muda-mudi yang terlihat seperti anak-anak dan anak-anak yang terlihat seperti kakek-nenek kerdil.

C. Jayakumar, direktur Thanal, sebuah organisasi lingkungan hidup terkemuka yang berbasis di Kasargod, mengatakan kepada IPS bahwa survey kesehatan dari rumah ke rumah di daerah perkebunan mete Periya menunjukkan gangguan kesehatan menjadi masalah utama.

Dia mengatakan, pemberlakuan larangan nasional diperlukan untuk menghentikan penjualan dan ekspor pestisida. “Pelarangan kedaerahan tak akan punya banyak pengaruh. Negara bagian Kerala bahkan melarang penjualan tapi penggunaan endosulfan terus berlanjut dengan nama berbeda,” katanya.

Tak kurang dari 16 penelitian telah menunjukkan dampak buruk endosulfan di India. Sebuah studi yang dilakukan Dewan Riset Pertanian India, berbasis di New Delhi, mengungkapkan penurunan populasi lebah madu di distrik Indukki dan Kasargod di Kerala sebagai akibat penggunaan pestisida.

S. Devanesan, profesor dan ilmuwan terpenting pada Universitas Pertanian, di bawah Universitas Pertanian Kerala, yang berbasis di Thiruvananthapuram, mengatakan lebah menunjukkan gejala keracunan dan meninggal sehari setelah penyemprotan.

“Beberapa lebah mendatangi bunga tapi menjadi bingung dan tak dapat kembali ke sarang mereka. Lebah yang terkena racun berputar-putar dan menganggu aktivitas sarang,” katanya kepada IPS.

Lebah madu memainkan peran penting dalam penyerbukan tanaman bunga. Mereka adalah penyerbuk utama kapulaga, kopi, kelapa, jambu mete, dan sayuran seperti labu, serta tanaman polongan termasuk kacang polong dan buncis, yang semuanya tumbuh di Kasargod.

Jayakumar dan rekannya, ahli lingkungan di Thanal, Lakshmi Narasimhan, mengatakan penurunan lebah madu menganggu masyarakat suku. “Ini mempengaruhi suku Koragas yang biasa mengumpulkan madu liar dari hutan,” kata mereka.

Para ahli mengatakan, PCK mengabaikan ketentuan bahwa penyemprotan pestisida dari udara harus dilakukan sangat dekat dengan permukaan terpal atau bahwa pestisida yang sama tak boleh digunakan terus-menerus dalam jangka lama di suatu daerah tertentu.

Dr A. Achuthan, seorang ilmuwan yang mempelajari dampak penggunaan endosulfan di sekitar desa-desa di Kasargod, mengatakan, air dan tanah di desa-desa itu sudah terkontaminasi. Lebih jauh lagi, “Bahkan kemungkinan hama menjadi kebal karena paparan jangka panjang yang tak diperhitungkan,” tambahnya.

Dengan begitu banyak bukti ilmiah yang memberatkan endosulfan, LSM yang dipimpin oleh Komite Aksi Menentang Penyemprotan Endosulfan di Kasargod menyerukan penuntutan bagi orang yang bertanggungjawab atas tragedi kemanusiaan di distrik itu.

“Kami menuntut kompensasi yang lebih layak bagi para korban dan penuntutan bagi orang yang bertanggungjawab atas sebuah tragedi yang mestinya bisa dicegah, apakah mereka berasal dari dunia usaha atau pejabat di negara bagian atau pemerintah pusat,” ujar Masood Bovikkanam, pemimpin komite. *

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s