Antirasisme dalam MDGs

Oleh Thelma Mejia

TEGUCIGALPA (IPS) – KONFERENSI tingkat tinggi (KTT) dunia orang-orang keturunan Afrika pertama, yang diadakan di kota La Ceiba di pantai Karibia, Honduras, berakhir dengan sebuah deklarasi yang menyerukan agar perjuangan melawan rasisme dimasukkan dalam Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs).

KTT yang didukung PBB itu digelar pada 18-21 Agustus. Dalam “Deklarasi La Ceiba” itu, para delegasi lebih dari 40 negara menyatakan inilah waktunya bagi PBB untuk memasukkan bukan hanya sebuah tujuan (MDG) baru, tapi juga merancang Indeks Pembangunan Manusia yang akan memasukkan “perspektif rasial dan etnis.”

“PBB harus mengadopsi perspektif rasial dan etnis dalam Tujuan Pembangunan Milenium untuk menjamin integrasi tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat atau penduduk keturunan Afrika,” tulis deklarasi itu.

Deklarasi juga menyerukan untuk mengadopsi MDG ke-9, “yang meliputi pengurangan secara substansial segala bentuk rasisme, diskriminasi rasial, xenofobia, dan semua yang berkaitan dengan intoleransi.”

MDGs, yang diadopsi negara-negara anggota PBB pada 2000, menentukan tujuan-tujuan spesifik untuk mengurangi kemiskinan dan kelaparan, mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, pendidikan dasar universal, kesehatan anak dan ibu, memerangi penyakit, bekerja untuk lingkungan berkelanjutan, serta mencapai kemitraan global bagi pembangunan, yang harus dipenuhi pada 2015.

Diskriminasi dalam segala bentuk memperlebar kesenjangan antara kondisi kehidupan orang kulit hitam dan kelompok sosial lain. Ia juga menghambat kemajuan menuju MDGs karena kemiskinan dan stigma yang dihadapi orang-orang keturunan Afrika.

Dengan mendesak PBB untuk mendeklarasikan Satu Dekade bagi Orang Keturunan Afrika, lebih dari 700 orang yang bertemu pada konferensi itu menyerukan pembentukan sebuah lembaga PBB untuk meningkatkan pembangunan dan memerangi kemiskinan dalam masyarakat asli dan kulit hitam, juga membuat struktur dan proposal. Rekomendasi sama diajukan Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) dan Uni Eropa.

Konferensi dihelat di kota La Ceiba, yang merupakan surga tropis Karibia dan rumah bagi salah satu komunitas terbesar orang Garifuna di Honduras –keturunan budak Afrika yang selamat dari kapal karam pada abad ke-17 dan menikah dengan anggota suku lokal Karibia.

Para peserta konferensi –digelar untuk menandai Tahun Masyarakat Keturunan Afrika Internasional (2011), yang diumumkan PBB– membahas masalah dan tantangan yang dihadapi penduduk kulit hitam di seluruh dunia, dan mengevaluasi pelaksanaan deklarasi yang diadopsi satu dekade lalu pada Konferensi Dunia melawan Rasisme, Diskriminasi Rasial, Xenofobia, dan Intoleransi Terkait yang diadakan di Durban, Afrika Selatan.

Mereka juga mengurai usul-usul tentang cara-cara hidup baru sesuai kesepekatan yang dicapai di Durban.

Céleo Álvarez Casildo, penyelenggara KTT La Ceiba dan ketua Organisasi Pengembangan Etnis berbasis Masyarakat (ODECO), sebuah LSM Honduras, mengatakan kepada IPS, “Kami tak butuh janji-janji politik kosong. Pertemuan ini dihelat untuk meminta pencantuman tuntutan dan hak-hak kami yang lebih besat, di mana kami akan menindaklanjutinya dengan Rencana Aksi dan langkah-langkah.”

“KTT ini, seperti kami sebutkan, tak seperti konferensi lainnya. Ini merupakan titik awal dari sebuah proses untuk membuat suara kami didengar. Pertemuan ini menyatukan kekuatan global dan spiritual yang menentukan suara kami didengar, demi mendorong pembangunan manusia berkelanjutan berdasarkan kesetaraan bagi semua,” katanya.

Mohamed Chambas, sekretaris jenderal Kelompok Afrika, Karibia, dan Pasifik (ACP), mengatakan, tantangannya adalah “mempertahankan proses ini; benih sudah ditanam di sini, dan harus disiram agar tumbuh dan berbuah.”

“Tak ada masyarakat yang bisa membantah betapa penting komunitas penduduk keturunan Afrika di dunia. Mereka harus memasukan kami, dan di sini, di Honduras, upaya itu mendapatkan momentum baru,” katanya.

KTT juga membahas pelaksanaan perjanjian internasional melawan rasisme dan diskriminasi, epidemi HIV/AIDS, HAM dan akses terhadap keadilan, masalah lingkungan, kesehatan reproduksi, marjinalisasi yang mendera perempuan keturunan Afrika, serta budaya dan indentitas orang kulit hitam.

Marcela del Mar Suazo, direktur regional kantor UNFPA, dana kependudukan PBB, untuk Amerika Latin dan Karibia mengatakan bahwa sebuah laporan tentang HAM orang-orang keturunan Afrika di kawasan itu dipresentasikan dalam panel mengenai ketidaksetaraan gender.

Laporan itu menyatakan ada 150 juta orang kulit hitam di Amerika Latin dan Karibia, sebagian besar hidup dalam kondisi tidak setara.

Laporan itu menambahkan, rasisme dan diskriminasi terhadap perempuan kulit hitam sangat kuat di beberapa negara.

KTT itu menyerukan kebijakan-kebijakan yang akan menjamin partisipasi politik dan akses pendidikan yang lebih besar di semua tingkatan, bertumpu pada pengakuan budaya dan kapasitas orang-orang keturunan Afrika.

Menteri dari kelompok etnis di Honduras, Luís Green, mengatakan bahwa pemerintahan Porfirio Lobo hendak memasukkan reformasi konstitusional yang menyatakan negara Amerika Tengah ini adalah negara multietnis dan multikultural di mana “tak akan ada ruang bagi diskriminasi dan rasisme.”*

 

Translated by Basilius Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerja sama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s