Bukan untuk Perempuan

Oleh Mya Guarnieri

AMMAN, YORDANIA (IPS) – DUA perempuan muda, mengenakan jilbab berwarna cerah dan celana jeans ketat, berdiri di tepi jalan bebas hambatan yang bising oleh suara mobil. Mereka menonton lalu-lintas yang padat di Amman di mana kepemilikan mobil melejit sebesar 10-15 persen per tahun. Ketika ada jeda arus kendaraan, keduanya berpegangan tangan dan menyeberangi jalan. 

Ini pemandangan aneh di sini. Kota ini tak ramah bagi pejalan kaki. Juga tak lazim melihat perempuan berjalan, apalagi berlari-larian, di jalan raya.

Kendati media Barat memuji perencanaan tata kota Amman yang melangkah menuju egalitarianisme, menyoroti fakta bahwa rencana induk kota “Amman 2025” memenangi 2007 World Leadership Award untuk kategori Perencanaan Tata Kota, kunjungan ke Amman, yang berpenduduk hampir tiga juta jiwa, mengungkapkan gambaran yang berbeda sama sekali.

Transportasi umum yang buruk mengisolasi perempuan dari kehidupan kota. Keluarga berpenghasilan rendah bergantung pada mobil. Dan, ironisnya, pergolakan di negara-negara Arab (Arab Spring) menghentikan pembangunan kota.

Salah seorang perempuan, Sandra Hiari, adalah seorang arsitek, perencana tata kota, dan pendiri Tareeq (bahasa Arab: jalan), sebuah situsweb yang berfokus pada desain kota di Timur Tengah.

“Jika Anda ingin tahu apakah suatu tempat aman atau tidak, hitung berapa banyak perempuan berjalan di jalan,” katanya, menambahkan bahwa di Amman, perempuan hanya terlihat “di area terbatas, seperti (Jalan) Rainbow.”

Terletak di lingkungan borjuis, jalan itu penuh dengan kafe apik, bar, dan restoran, yang menggambar cukup ramai bagi perempuan untuk merasa aman, ujar Hiari. Tapi jalan itu bukanlah contoh dari perencanaan kota. Ia merupakan perkecualian yang langka. Karena perempuan seringkali mengalami pelecehan dan cemoohan, banyak dari mereka menghindari ruang-ruang publik termasuk sistem transportasi umum Amman, dan sebagai gantinya mengandalkan mobil dan taksi.

Perempuan, ujar Hiari, terpaksa “menggunakan struktur bangunan dan tinggal di sana daripada menggunakan jalan sebagai tempat yang aman di mana mereka dapat menjelajahi seluruh kota. Saya pikir kami, perempuan, terperangkap dalam gelembung-gelembung,” ujarnya. “Kami pindah dari satu gelembung ke gelembung lainnya di dalam kota.”

Meski kesenjangan pendidikan kian tipis, dengan gadis-gadis dan perempuan memasuki sekolah-sekolah dan universitas di tingkat sedikit lebih tinggi ketimbang para pemuda dan lelaki, perempuan Yordania memiliki persentase lebih kecil dalam angkatan kerja ketimbang rekan-rekan pria mereka.

Menurut Hazem Zureiqat, seorang perencana transportasi dan ekonom di Engicon, kurangnya pilihan transportasi di Amman –yang berpenduduk setengah dari total penduduk negara ini– menjadi penyebab perbedaan ini.

Zureiqat menunjukkan sebuah survei terbaru yang menanyakan kenapa perempuan Yordania tak bekerja. “Banyak dari mereka menyebut (masalah) mobilitas dan transportasi,” ujarnya, yang berarti bahwa seringkali perempuan tak bisa dengan mudah mendapat pekerjaan.

Karena setidaknya setengah dari rumahtangga berpendapatan rendah di Yordania memiliki satu mobil, lelaki biasanya mengendarainya, meninggalkan perempuan, yang mungkin bisa bekerja, untuk diam di rumah.

Ketika ditanya apakah membuat ruang penumpang yang terpisah bagi perempuan di dalam bus adalah jawaban untuk masalah transportasi, Zureiqat cepat menjawab, “Tidak. Saya tak setuju. Anda harus memperbaiki (masalah sosial) bukan hanya memisahkan perempuan (dari laki-laki).”

Dia menambahkan bahwa layanan harus ditingkatkan secara umum, bukan hanya untuk perempuan. Beberapa bus di Amman dengan pemisah penumpang jarang beroperasi dan tak bisa diandalkan. Sebelum beberapa halte dibangun baru-baru ini, Zureiqat menyesalkan bahwa “hampir tak tempat berlindung dari terik matahari dan hujan” bagi penumpang.

Sistem Bus Rapid Transit (BRT) adalah sebuah proyek ambisius yang berusaha memperbaiki banyak masalah ini dengan 32 kilometer jalur khusus bus yang baru dibangun. Setiap jalur BRT akan mengangkut penumpang tiga kali lebih banyak ketimbang lewat jalur lalulintas biasa.

Zureiqat mengatakan bahwa BRT bukan hanya tentang meningkatkan pergerakan orang di seluruh kota. Ia juga tentang “martabat manusia”.

Namun ironisnya, Arab Spring mendorong para pejabat untuk membatalkan proyek itu. Zureiqat menjelaskan, “Pemberantasan korupsi menjadi kata kunci di sini dan segala sesuatunya (menyisakan) pertanyaan.”

Mantan Walikota Amman Omar Maani berada di bawah pengawasan ketat, karena menjalankan proyek-proyek itu selama masa jabatannya 2006-2011. Antara lain BRT; Institut Amman untuk Pembangunan Perkotaan, sebuah lembaga pemikiran yang didanai sebuah kota, yang berusaha –di antara tujuan-tujuan lainnya– membantu mengubah cara pandang negara itu; serta rencana induk Amman 2025, yang menekankan transportasi umum dan mendorong sebuah kota pejalan kaki yang lebih ramah.

Meski BRT melalui kajian intensif dari pemerintah dengan menguji setiap aspek dari proyek itu –termasuk keuangan– ia dihentikan pada September 2011.

Pada Desember 2011, Maani ditahan atas tuduhan penggelapan yang tak bertalian dengan proyek itu. Saat ini dia sudah bebas dengan jaminan.

Sementara Institut Amman untuk Pembangunan Kota dilanda dengan masalah pendanaan-pengeluaran, Arab Spring menyerangnya sebagai organisasi yang tak efisien, termasuk apa yang dianggap sebagai upah “selangit”-nya.

Hiari, yang dipekerjakan oleh Institut Amman, menjelaskan bahwa ada stigma yang melekat sekarang dengan rencana induk 2025 Amman serta proyek-proyek yang lahir dari Institut Amman.

“Para pejabat (di Kota Amman) takut menandatangani apapun yang berhubungan dengan Institut Amman dan rencana induk,” kata Hiari, karena mereka tak ingin “berhubungan dengan korupsi.”

Perubahan reaksioner ini telah membuat kota itu jadi tak terencana, kacau, dan sangat terisolasi. *

 

Translated by Farohul Mukthi
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s