Isu Limbah Hentikan Izin Reaktor Nuklir AS

Oleh Matthew Cardinale

ATLANTA (IPS) – KOMISI Regulator Nuklir (NRC) Amerika Serikat, yang mengawasi perusahaan komersial tenaga nuklir, menghentikan penerbitan semua izin reaktor nuklir baru setelah pengadilan menyatakan adanya kegagalan industri dan pemerintah mengidentifikasi solusi jangka panjang yang dapat diterima mengenai lokasi lumbung limbah nuklir.

Sembilanbelas reaktor yang terakhir mendapat izin terkena dampak keputusan tersebut, termasuk sembilan Izin Operasi dan Konstruksi (COLS), delapan lisensi perpanjangan izin, satu izin operasi, dan satu izin lokasi awal.

NRC mengeluarkan perintah pada pekan lalu untuk menanggapi permohonan yang diajukan sejumlah kelompok peduli lingkungan dan individu.

Permohonan itu menindaklanjuti putusan pengadilan banding Circuit Court of Appeals untuk Distrik Columbia, AS, salah satu dari duabelas pengadilan banding federal AS, bertanggal 8 Juni. Ia menyatakan langkah NRC menangani masalah limbah nuklir dalam proses pertimbangannya untuk pembangkit listrik tenaga nuklir yang baru maupun yang sudah ada tak bisa diterima.

Masalah ini kadang dinamakan Putusan Jaminan Limbah (Waste Confidence Ruling) NRC.

“Apa yang kami sebut Kepercayaan Limbah oleh Komisi adalah temuan terkait lingkungan, sementara kami menyebutnya temuan umum, artinya berlaku universal (untuk semua permohonan izin), bahwa limbah bahan bakar tingkat tinggi yang sudah dipakai dapat disimpan beberapa dekade melebihi masa kegunaan reaktor,” ujar Dave McIntyre, jurubicara NRC, kepada IPS.

“Circuit Court of Appeals … setuju dengan pemohon dan menyerahkan kembali putusan jaminan limbah itu kepada kami, dan pada dasarnya menyatakan hal utama adalah NRC seharusnya melihat kemungkinan bagaimana jika tak ada tempat penyimpanan (untuk limbah nuklir)?” ujar McIntyre.

“Gunung Yucca (yang diusulkan jadi lokasi lumbung limbah di Nevada) telah dibatalkan, dan tak ada rencana sejauh ini. Bagaimana jika Kongres terus terpecah suaranya dan negara tak punya petunjuk dan menemukan lokasi berbeda?” katanya.

Aturan NRC pada isu ini mengasumsikan “(a) NRC akan menemukan cara untuk membuang bahan bakar reaktor yang sudah dipakai pada suatu waktu di masa depan bila “diperlukan” dan (b) sementara itu, bahan bakar yang sudah dipakai dapat disimpan dengan aman di lokasi reaktor,” menurut siaran pers bersama dari kelompok lingkungan.

“Saya kira ini sangat penting,” ujar Louis Zeller, direktur eksekutif Blue Ridge Environmental Defense League. “Masalah ini mengganggu Komisi NRC dan mengacaukan rencana industri nuklir karena ini sesuatu yang tak mereka perkirakan.”

“Mereka menyangka kita menolak reaktor baru di Georgia, Alabama, South Carolina, Virginia, dan di banyak tempat. Tapi saya tak berpikir mereka mengira salah satu prinsip dasar dari paradigma nuklir mereka terjungkal seperti ini. Saya rasa pukulan ini bikin mereka terkejut.”

“Saya berusaha optimis. Saya pikir ini cukup penting dan pada titik ini para hakim pengadilan banding di Distrik Columbia pada dasarnya setuju –NRC berusaha ceria dalam situasi sulit atas isu limbah nuklir,” kata Zeller.

Dia mencatat limbah nuklir bersifat radioaktif, beracun, dan mematikan.

Tiap lokasi lumbung limbah memiliki jumlah dan komposisi limbah radiaoktif yang berbeda, tergantung seberapa lama operator memutuskan membakar bahan bakar itu.

“Ini disebut derajat bakar (burn-up), berapa lama Anda menggunakan bahan bakar uranium, yang menciptakan berbagai macam racun radionuklida dan radioaktif,” seperti iodin dan strontium, ujar Zeller.

McIntyre berkata dia belum tahu apakah NRC akan mengajukan banding atas keputusan pengadilan terbaru, tapi hal ini takkan menghentikan lembaga itu untuk mengatasi beberapa keprihatinan yang diangkat dalam putusan tersebut.

“Karena putusan pengadilan terbaru menohok syarat-syarat jaminan limbah termutakhir, kini kami mempertimbangkan semua pilihan yang tersedia untuk mengatasi isu jaminan limbah, yang mencakup tindakan NRC pada lokasi tertentu atau umum, atau kombinasi keduanya,” kata Perintah NRC, bertanggal 7 Agustus.

McIntyre berkata staf lembaga itu sekarang sibuk menyiapkan daftar rekomendasi untuk lima komisaris NRC dalam beberapa pekan.

“Kami belum memutuskan suatu tindakan. Namun, sesuai kewajiban hukum, kami takkan menerbitkan izin sesuai Putusan Jaminan Limbah atau Aturan Penyimpanan Sementara sampai tinjauan pengadilan ditangani dengan tepat,” NRC menyatakan.

McIntyre mencatat baik keputusan NRC maupun pengadilan berdampak pada setiap keputusan perizinan terakhir yang sudah dikabulkan, misalnya Plant Vogtle di Georgia. Betapapun izin Vogtle menghadapi penolakan hukum terkait isu keamanan nuklir pasca-Fukusima, seperti sebelumnya dilaporkan IPS.

Dennis Kucinich, anggota Kongres asal Demokrat dari Ohio, mengirim surat elektronik kepada konstituennya, “Apakah kita sedang menyaksikan berakhirnya tenaga nuklir?”

“Kita sudah menghabiskan setengah abad untuk menemukan solusi terbaik atas masalah limbah nuklir, dan kita tak pernah lebih dekat saat ini dari tahun 1960-an. Ini karena tak ada ‘solusi terbaik.’ Kita takkan pernah mampu menemukan sebuah metode penyimpanan limbah nuklir yang bebas risiko,” tulis Kucinich.

Zeller berkata mungkin menjadi pilihan berbahaya untuk memindahkan limbah nuklir, karena adanya risiko dalam pengangkutan limbah, bahkan sekalipun lokasi baru bisa ditemukan.

Dia juga mencatat ada masalah mendasar ketika berusaha menemukan tempat penyimpanan limbah nuklir negeri ini ketika AS masih terus-menerus memproduksi limbah setiap hari. Jadi, tak jelas seberapa banyak limbah yang akhirnya harus disimpan dan itu bukan jumlah yang terbatas.

Reaktor baru yang diusulkan terkena imbas keputusan NRC, termasuk Calvert Cliffs di Maryland, Fermi di Michigan, William States Lee III di South Carolina, Grand Gulf di Mississippi, Victoria County di Texas, Turkey Point di Florida, Comanche Peak di Texas, South Texas di Texas, Bell Bend di Pennsylvania, Shearon Harris di North Carolina, Levy County di Florida, Bellefonte di Tennessee, Watts Bar di Tennessee, dan North Anna di Virginia.*

 

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s