Jalan yang Jarang Dilalui

Oleh Lakshman Ratnapala*

SAN FRANCISCO (IPS) – PENGARANG terkenal Mark Twain (1835-1910) menulis, “Duapuluh tahun dari sekarang, kau akan lebih kecewa oleh hal-hal yang tak kau lakukan daripada yang kau lakukan. Jadi lepaskanlah tali tambat, berlayarlah jauh dari pelabuhan aman. Tangkap angin pasat dalam layarmu. Jelajahi, impikan, temukan.”

Kian banyak orang menyerap saran itu dalam hati. Mereka berangkat untuk menjelajah dan menemukan. Dan pariwisata global pun akan meningkat hingga mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah: memecahkan rekor satu milyar kunjungan di seantero dunia tahun ini.

Dalam proses ini mereka akan menghasilkan trilyunan dolar untuk investasi, menciptakan satu dari 12 lapangan pekerjaan di seluruh dunia, mengangkat kehidupan jutaan orang dan membuka kesempatan bagi pertumbuhan dan perkembangan negara-negara, kaya maupun miskin, di seluruh dunia.

Karena kemampuannya menciptakan kekayaan, pariwisata memainkan peran penting dalam mencapai Tujuan Pembangunan Milenium PBB terkait kemakmuran, perdamaian, dan keberlanjutan.

Tantangan baru seperti perubahan iklim dan kemiskinan, kelaparan dan penyakit, membuat pemenuhan tujuan tersebut lebih rumit dan tertekan.

Maka, pada Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan atau Rio+20 yang dihelat di Brazil pada Juni mendatang, para pemimpin pariwisata perlu menjalin kemitraan aktif dengan sektor-sektor ekonomi global lainnya guna mencapai masa depan yang inklusif, adil, dan berkesinambungan bagi semua.

Pariwisata seperti api. Bila dikelola dengan baik ia dapat membantu kita; tapi bila dibiarkan menguasai kita, ia bisa membakar kita.

Pariwisata menimbulkan beragam tantangan bagi kesejahteraan masyarakat global dan kesehatan planet kita –dari degredasi kultural masyarakat lokal hingga penghancuran sistem nilai mereka.

Lagi pula, wisatawan merusak kesehatan bumi akibat kunjungan terus-menerus atas ekosistem yang rapuh serta emisi karbondioksida dan polutan lain dari aneka jenis transportasi: mobil, bus, kereta dan pesawat.

Industri perjalanan global kini dihadapkan dengan tantangan dalam membuat keputusan sadar tentang bagaimana wisatawan akan bertualang, ke mana tujuannya –persis seperti syair Robert Frost dalam “The Road Not Taken”: “Dua jalan bercabang di sebuah papan kuning… Dan sayang aku tak bisa menempuh keduanya…. Dua jalan bercabang di sebuah papan, dan aku… aku mengambil jalan yang jarang dilewati… Dan itu membuat segala perbedaan.”

Pariwisata global tampaknya memilih jalan “yang jarang dilalui”. Tapi, ia terhuyung-huyung, tak yakin bagaimana akan mencapai suatu tempat yang diinginkan.

Pariwisata yang bertanggung-jawab menuntut lokasi tujuan, penyedia industri perjalanan, dan para pelancong sama-sama bersatu dalam menjalankan wisata dengan kepekaan terhadap lingkungan sosial, kultural, alam dan ekonomi masyarakat setempat dan Ibu Bumi.

Paralel dengan itu, industri pariwisata telah mengembangkan bermacam bentuk apa yang disebut pariwisata berkelanjutan sejak 1970-an saat gerakan lingkungan dimulai.

Dari sinilah muncul konsep ekoturisme yang populer saat ini. Ia menimang hasrat untuk bertualang ke lokasi-lokasi alami yang jauh dari daya tarik buatan dan rancangan manusia, yang memungkinkan para pelancong menikmati alam secara wajar, dan dididik tentang budaya dan cara hidup masyarakat yang kurang dikenal dan dipahami.

Kunjungan semacam itu menciptakan efek menguntungkan dalam menggalang dana untuk konservasi alam dan peninggalan budaya, serta mengangkat ekonomi masyarakat miskin.

Sisi lainnya, kian populer ekoturisme mengakibatkan pengrusakan dan eksploitasi lingkungan dan masyarakat setempat oleh wisata yang jahat dan penyedia penginapan. Sebagian karena tak ada definisi tunggal yang diterima secara internasional tentang pengertian ekoturisme, malahan sering digonta-ganti dengan istilah wisata berkesinambungan, wisata hijau, wisata alam, dan sebagainya.

Kelompok konservasi dan organisasi turisme punya definisi sendiri tentang ekoturisme. Pemerintah dan penyedia jasa wisata juga memperkeruhnya dengan definisi mereka sendiri.

Namun, dalam pengertian luas, ekoturisme adalah perjalanan ke lokasi yang sensitif secara ekologi dan kultural dengan meninggalkan dampak negatif sesudahnya.

Tentu saja tak mungkin manusia melakukan perjalanan ke mana saja tanpa dampak negatif. Bahkan saat kita sampai di suatu tempat, kita telah menyebabkan kerusakan lingkungan dengan menyebarkan polusi karbon.

Pesawat adalah salah satu penghasil emisi polusi terburuk dalam industri perjalanan, betapapun Asosiasi Transportasi Udara Internasional mengatakan bahwa pesawat cuma menyumbang dua persen dari emisi CO2 global buatan manusia –di bawah kentut seluruh sapi di Eropa!

Industri pariwisata akan menambah lebih dari 43 juta pelancong setiap tahun, dari 1,8 milyar kunjungan pada 2030, yang mengancam konservasi sumber daya bumi, bahkan sumber daya ini mengalami kerusakan dan kian tak tersedia.

Maka, , penting bagi para pelancong dididik untuk lebih sensitif terhadap lingkungan tempat mereka berkunjung dan memahami tanggung-jawab mereka terhadap Ibu Bumi. Dalam dunia sekarang yang segalanya kian terkoneksi, pariwisata tak bisa beridir sendiri, terpisah dari masyarakat global.

Kita butuh aksi bersama untuk kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Sebagaimana Nelson Mandela ungkapkan: “Setelah mendaki bukit tinggi, kita menemukan lebih banyak bukit untuk didaki.”*

*Lakshman Ratnapala is Presiden Emiritus dan CEO Asosiasi Travel Asia Pasifik.

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s