Kenapa Umat Hindu Pakistan Menyeberang ke India?

Oleh Zofeen Ebrahim

KARACHI (IPS) – NARAIN Das, pedagang kain dari Jacobabad di kawasan utara Pakistan, dikaruniai keberuntungan dengan memiliki tiga putra, masing-masing berusia 18, 16, dan 12 tahun. “Jika mereka perempuan, saya tentu menimbang secara serius untuk pindah dari sini,” ujarnya menanggapi lemahnya perlindungan terhadap komunitasnya.

“Penculikan, pemerkosaan dan pemaksaan pindah agama terhadap putri-putri kami, penjarahan, pemerasan, serta penculikan terhadap pedagang untuk minta tebusan uang” adalah beberapa alasan yang diutarakan mantan legislator dan ketua Dewan Hindu Pakistan, Ramesh Kumar Vankwani, atas eksodus komunitas Hindu ke India baru-baru ini, sebagaimana dilaporkan media.

Penganut Hindu berjumlah 1,7 persen dari 180 juta penduduk Pakistan.

Muslim Odhano, seorang muslim-cum-aktivis hak asasi manusia dari Jacobabad, mengamati tren migrasi besar-besaran penganut Hindu dari provinsi Sindh –di mana kota ini berada– selama 4-5 tahun terakhir.

“Bukan hanya warga Hindu. Umat Muslim bahkan terus-menerus diusik oleh orang-orang dari suku Jakhrani yang melakukan penjarahan, pemerasan, dan penggarongan. Namun warga Hindu menghadapi dua kali lipat gangguan, karena putri-putri mereka tak aman di sini serta diculik dan dipaksa pindah agama Islam,” katanya via telepon dari Jacobabad.

Odhano berkata orang Jakhrani menikmati impunitas penuh karena pertalian politik mereka dengan partai penguasa, Partai Rakyat Pakistan. Penempatan polisi dilakukan dengan persetujuan legislator, yang juga berasal dari suku tersebut. “Benar-benar rusak hukum dan ketertiban di sini,” katanya.

Komunitas minoritas di Pakistan menghadapi diskriminasi dan pelecehan yang terus meningkat, sampai-sampai banyak dari mereka meninggalkan negaranya.

Awal pekan lalu, Express Tribune, harian berbahasa Inggris, melaporkan 60 keluarga Hindu terdiri 200-250 orang, dari provinsi Balochistan dan Sindh, meninggalkan negaranya dengan alasan ziarah dan mencari suaka di India, penindasan agama di Pakistan.

Membantah kabar itu, Menteri Dalam Negeri Rehman Malik menyatakan migrasi itu adalah sebuah “konspirasi untuk mencemarkan nama baik Pakistan.” Dia bilang akan memanggil Komisi Tinggi India guna meminta keterangan apa pertimbangan keluarnya visa dalam jumlah besar. Selain itu, dia berkata komunitas minoritas tak boleh meninggalkan negara tanpa seizin kementeriannya.

Meski ada sedikit pengakuan atas masalah ini dari pihak pemerintah, namun sedikit kemarahan dari warga Pakistan secara luas.

“Tak ada yang mengecam karena Pakistan berada di tangan para fanatik intoleran,” ujar I.A. Rehman, sektretaris jenderal Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan. Dia berbicara tentang “matinya bangsa dan digantikan dengan kawanan orang bodoh yang haus darah.”

Mukesh Rupeta, jurnalis Hindu berbasis di Jacobabad, berkata telah mengucapkan selamat tinggal kepada “sekitar seratus keluarga Hindu yang bermigrasi ke India tahun lalu.” Dia menambahkan, masalah yang dihadapi umat Hindu telah berlangsung lebih dari satu dekade. Tiga saudara laki-laki dan dua saudara perempuannya telah bermigrasi ke Indore, di India.

“Kebanyakan warga Hindu Pakistan menyembunyikan keinginannya untuk pergi, jadi mereka bisa pakai alasan ziarah. Sesampai di sana, mereka mencari suaka atau memperpanjang visa. Dalam limabelas tahun ke depan, mereka akhirnya bisa mendapatkan kewarganegaraan,” ujarnya.

Tidaklah mudah untuk pindah, katanya, tapi warga Hindu yang tersisa punya sedikit pilihan. “Perlu lima tahun untuk menetap dengan nyaman, tapi mereka setidaknya menemukan ketenangan karena merasa keluarganya aman.”

Mantan legislator Vankwani berkata banyak dari mereka yang bermigrasi merupakan kelas pengusaha kaya, yang kerap jadi mangsa empuk bagi para penculik dan pemeras karena lemahnya jaminan keamanan dan karena mereka memiliki pengaruh kecil dalam politik dan pemerintahan.

“Betapapun banyak warga Hindu berpendidikan tinggi dan berkualitas, baik lulusan bisnis, insinyur, dan dokter, mereka sulit mendapatkan pekerjaan,” kata Sanjeev Kumar, pemimpin Pakistan Hindu Seva, berbasis di Karachi, sebuah organisasi nonpemerintah yang mempromosikan pendidikan di kalangan keluarga Hindu kurang mampu.

Rupeta menjelaskan, meski ada hakim dari warga Hindu dan bahkan beberapa dokter di angkatan bersenjata, tapi sedikit warga Hindu yang punya kedudukan tinggi dalam pekerjaan. “Mereka tak mendapatkan posisi layak sesuai prestasi.”

Komunitas Hindu baru-baru ini juga dikejutkan oleh penculikan terhadap 11 pedagang Hindu dari Balochistan dan Sindh, tujuh di antaranya sudah kembali.

Vankwani mengingat peristiwa antara 1989 dan 1991, saat warga Hindu dianiaya. “Ribuan orang pindah ke India, tapi kembali ketika situasi pulih. Hal serupa kini terjadi.” Namun, dia berkata, dia tak yakin kali ini mereka akan kembali.

Kabar eksodus warga Hindu awal bulan ini diikuti peristiwa penculikan, pemaksaan pindah agama, dan perkawinan terhadap Manisha Kumari, gadis berusia 14 tahun, oleh anak muda Muslim akhir pekan lalu.

Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan sebelumnya mencatat perkembangan mencemaskan meningkatnya penculikan terhadap para gadis Hindu yang kemudian dipaksa pindah agama Islam. Motumal Amarnath, pengacara senior dari Komisi, berkata sedikitnya 20 hingga 25 gadis Hindu diculik setiap bulan dan pindah agama Islam.

Namun dia berkata dia tak yakin laporan migrasi massal akurat.

“Saya melakukan penyelidikan, dan meski ada beberapa kasus, saya dapat mengkonfirmasikan nama atau alamat orang-orang yang pindah,” katanya. Dia menambahkan bahwa “pertama-tama kami warga Pakistan, dan ini ibubumi kami. Kami takkan pernah pindah. Ini memang waktu yang buruk bagi kami semua –termasuk muslim Ahmadyah dan Syiah.”

“Kisah Jacobabad mungkin saja dibesar-besarkan,” kata Rehman, sekjen Komisi. Namun, dia menambahkan, “Ada laporan bahwa warga Hindu di Sindh dan Balochistan melarikan diri dari Pakistan atau takut hingga bermigrasi, dan tren ini begitu jelas.”

Dalam pernyataan pers, Komisi berkata migrasi ini mencerminkan kegagalan pemerintah melindungi warganya dari kekerasan, diskriminasi, dan ekses seperti pemaksaan pindah agama terhadap remaja putri.

Komisi juga mendesak organisasi-organisasi masyarakat sipil dan media untuk terus “menyoroti dengan sungguh-sungguh rentetan perlakuan kasar terhadap komunitas-komunitas ini” yang sedang terjadi.

“Menjelang pemilu mendatang, partai-partai politik juga punya kesempatan, melalui manifesto mereka, dan lebih dari itu lewat tindakan mereka sekarang, untuk memaparkan visi mereka tentang minoritas agama di Pakistan,” demikian Komisi.

Tanpa menyebut nama secara khusus, Amarnath, pengacara Komisi, berkata beberapa “kelompok politik-keagamaan bersekongkol dengan badan-badan intelijen,” menciptakan rasa tak aman di antara komunitas Hindu.

Dia juga menekankan kepentingan pribadi yang mungkin diuntungkan dari migrasi warga Hindu kaya dengan mengklaim properti mereka,” seperti dilakukan terhadap properti pengungsi pada 1947 (saat India dan Pakistan menjadi negara terpisah).”

Meski belum jelas apakah keluarga yang pergi dengan dalih ziarah akan kembali ke Pakistan setelah visa mereka berakhir, komunitas Hindu di Pakistan masih merasa situasinya belum aman.*

 

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s