Melawan Meningkatnya Islamfobia

Oleh Zoha Arshad

WASHINGTON (IPS) – SERANGAN terhadap sebuah kuil Sikh di Wisconsin awal Agustus dan penembakan di sebuah bioskop di Aurora, Colorado, mengindikasikan kebangkitan terorisme domestik sayap kanan di Amerika Serikat, ujar para ahli. Setelah penembakan di kuil Sikh itu, hampir setiap media AS melansir sebuah pernyataan bahwa penembakan itu adalah sebuah kasus salah sasaran dan pria bersenjata bernama Wade Michael Page sebenarnya hendak menembaki orang-orang Muslim dan menodai masjid, tindakan yang entah bagaimana seolah dibenarkan.

Sebuah seminar yang dihelat New America Foundation pada 23 Agustus dengan tajuk “Setelah Wisconsin, apa yang kita perbuat atas ekstremisme?” membahas isu ini dan menyoroti kejahatan berbasis kebencian terhadap kaum Muslim yang belum mendapat perhatian media hingga kini.

Pada 6 Agustus lalu, sebuah masjid di Joplin, Missouri, dibakar. Sehari sebelumnya, penembakan terhadap kuil Sikh terjadi di Wisconsin. Pada 7 Agustus, kaki babi dilemparkan ke dalam sebuah masjid di selatan California. Pada 10 Agustus, butiran peluru ditembakkan ke sebuah masjid di Illinois. Daftar tersebut belum berakhir di sini.

Haris Tarin, direktur Dewan Urusan Masyarakat Muslim, percaya bahwa perubahan sikap terhadap Muslim Amerika perlu datang dari atas. “Demokrat dan Republik harus bersama-sama melawan Islamfobia. Kami tak menginginkannya jadi isu partisan,” kata Tarin, menunjuk kriminalisasi ala anggota Kongres Michelle Bachman sebagai sikap sangat berbahaya yang diambil para politisi.

Para peserta seminar berpendapat bahwa bagaimana para politisi menggambarkan Muslim Amerika punya dampak penting terhadap bagaimana mereka diperlakukan. “Ketika presiden bicara, itu sangat membantu. Ketika para politisi berbicara mendukung kelompok tertentu, itu pasti membantu,” ujar Valarie Kaur, direktur Visual Law Project.

Kaum Muslim di Amerika harus bertanggungjawab dan menjawab atas kejahatan teroris yang dilakukan sejumlah ekstrimis Islam –seringkali elemen-elemen asing– yang menurut kaum Muslim moderat tak mewakili Islam yang benar.

Spencer Ackerman, wartawan senior Wired.com, menolak bahwa masyarakat tak punya pengetahuan tentang Islam. “Saya orang Yahudi Amerika, dan saya tak harus menjelaskan atau membela tindakan orang Yahudi di seluruh dunia. Saya sadar, saya berada dalam posisi istimewa. Lalu mengapa Muslim Amerika harus menjelaskan diri mereka atau membela tindakan Muslim lainnya?” ujar Ackerman.

Kaur menambahkan, tak seorang Kristen kulit putih pun yang dimintai tanggungjawab atas tindakan orang Kristen kulit putih lain di seluruh dunia.

Standar ganda sangat menganggu pikiran, tapi kebenaran perlahan menghinggapi masyarakat Amerika.

Setelah 9/11, kejahatan berbasis kebencian terhadap kaum Muslim dan Sikh pemakai-sorban naik lebih dari dua kali lipat. Kata “teroris” jadi identik dengan “ekstremis Muslim”. Penembakan Aurora, tragedi kuil Sikh –tak satu pun dari insiden itu yang dianggap aktivitas “teroris” oleh media.

Cara media meliput peristiwa tersebut dan bagaimana politisi berbicara tentang Muslim berperan besar terhadap bagaimana orang Muslim dipersepsikan di Amerika Serikat.

“Retorika tak diabaikan. Retorika adalah bagaimana ekstremisme politik menjadi mainstream,” kata Tarin. “Ada korelasi antara kekerasan, retorika, dan ekstremisme politik; kejahatan berbasis kebencian tak terjadi dalam ruang hampa,” tambahnya, menjelaskan bagaimana media dan pemerintah dapat membentuk pandangan masyarakat terhadap kelompok tertentu.

Dua insiden yang menyoroti korelasi ini adalah kriminalisasi Bachman terhadap politisi-politisi Muslim, dan klaim anggota Kongres Joe Walsh (R-IL) yang dibuat di balaikota bahwa Muslim radikal “berusaha membunuh orang Amerika setiap minggu”. Balaikota itu terletak 15 mil dari Masjid Morton Grove, di mana terjadi penembakan oleh David Conrad. Serangan lain seperti insiden bom asam di Lombard, Illinois, dan grafiti di Evergreen Park, Illinois, juga terjadi di distrik Walsh.

Meski persepsi negatif terhadap Muslim telah mencapai tingkat tertinggi serta dapat dan telah mengambil bentuk berbahaya, ada alasan untuk percaya tak semua orang Amerika mempertahankan keyakinan bias dan negatif tentang Muslim.

Seorang teman evangelis dari Tarin, bersama kelompok evangelis lainnya, telah membeli ruang iklan dan berencana memasang tulisan, “Saya berdiri dengan saudara Muslim saya. Saya berdiri dengan saudara Sikh saya.”

“Ini adalah kebesaran Amerika, demokrasi dan pluralismenya; yang orang-orang bela dan dukung satu sama lain,” ujar Tarin. Namun kurangnya pengetahuan budaya dan agama lain mungkin jadi salah satu faktor terbesar ketakutan dan kebencian terhadap kelompok agama tertentu.

“Kelompok-kelompok pro-Islam di AS sedang mendatangkan kembali orang-orang kawakannya. Banyak warga Amerika tak bersosialisasi, (mereka) hanya berasumsi,” kata Ackerman mengenai perlunya orang-orang di Amerika Serikat memperluas wawasan mereka serta memahami orang dan budaya lain.

Apakah Islamfobia akan menurun di tahun-tahun mendatang akan tergantung pada media dan kemauan pemerintahan AS untuk mengatasi kejahatan berbasis kebencian dan melawan persepsi negatif tentang kelompok agama ini.*

 

Translated by Farohul Mukthi
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s