Memikirkan Kembali Retorika tentang Islam

Analisis oleh Julio Godoy

PARIS (IPS) – SEKIAN LAMA pemerintah konservatif dan partai tengah-kanan di Eropa menyerang multikulturalisme dan melecehkan imigran-imigran Muslim sebelum ekstremis sayap-kanan Norwegia Anders Behring Breivik memakai argumen serupa untuk membenarkan pembantaian massal di Oslo dan Pulau Utoya.

Kini, lebih dari tiga pekan setelah pembantaian di Norwegia, banyak ahli menyerukan agar pemerintah dan partai-partai “melucuti retorika mereka menngenai Islam,” ujar Armin Laschet, mantan menteri integrasi di negara federal North Rhine-Westphalia, Jerman, kepada IPS.

“Kritik mengenai beberapa praktik dalam Islam, dan mengenai kurangnya integrasi Muslim dalam masyarakat Eropa masih mungkin,” ujarnya.

Namun, tambah dia, “Anda tak bisa menuduh Muslim di Jerman, yang meyakini imannya, menghormati ibadah seperti bulan Ramadhan, dan membesarkan anak-anaknya agar percaya kepada Tuhan, dan sebaliknya menjadi panutan kehidupan sipil di negara kami, atas tindakan ekstrim terhadap suatu rezim seperti terjadi di Arab Saudi.”

Pembedaan semacam itu perlu dalam debat tentang integrasi Muslim dalam masyarakat Eropa, ujar Laschet.

Laschet menekankan banyak contoh umat Muslim yang menjalani kehidupan sipil dengan baik di Eropa. Ini menunjukkan kurangnya integrasi disebabkan marjinalisasi sosial, ekonomi, dan pendidikan.

“Lihatlah banyak doktor dan insinyur Muslim dari Iran hidup sebagai warganegara yang baik di seluruh Eropa,” ujarnya. “Namun jika imigran Muslim butahuruf datang dari daerah-daerah pedesaan miskin –katakanlah di Turki– ke Berlin, tentu mereka akan menemukan kesulitan dalam menghadapi kebiasaan masyarakat industri modern.”

Di Norwegia, pemimpin partai konservatif lokal, Erna Solberg, mengeluhkan “cara kelompok ekstrimis anti-Islam Eropa merendahkan Muslim dan Islam, mirip dengan cara fasis dan partai-partai sayap kanan melecehkan Yahudi pada 1930-an.”

Pembedaan itu sangat penting dalam menghadapi celaan terus-menerus dari para pemimpin politik konservatif dan kepala pemerintahan di Eropa terhadap imigran Muslim dan Islam.

Penolakan khas Konservatif terhadap warga Muslim diumumkan Februari lalu oleh Perdana Menteri Inggris dari konservatif David Cameron, yang menuduh apa yang disebut “doktrin multikulturalisme negara” mendorong “keragaman budaya untuk hidup dalam kehidupan terpisah” di Eropa. Dia mengatakan doktrin ini mendorong “komunitas terpisah ini (berperilaku) dengan cara yang sepenuhnya bertentangan dengan nilai-nilai kita.”

Dalam konteks ini, Cameron secara tegas merujuk imigran Muslim, dengan alasan ancaman teroris muncul di Eropa “secara luar biasa dari anak-anak muda yang mengikuti sepenuhnya interpretasi menyesatkan ajaran Islam, dan yang siap meledakkan diri sendiri serta membunuh sesama warga.”

Dalam pidatonya, dilakukan saat Konferensi Keamanan Munich tahun ini, Cameron menekankan “multikulturalisme negara” ini adalah akar radikalisasi dan terorisme. “Bukti tentang latarbelakang mereka yang dihukum karena terorisme jelas menunjukkan mereka mulanya dipengaruhi oleh apa yang disebut ‘ekstrimis nonkekerasan’ dan kemudian mengambil pandangan radikal hingga tingkat selanjunya mengafirmasi kekerasan,” ujar Cameron.

Pernyataan Cameron muncul pada hari yang sama saat English Defence League (EDL) yang neofasis menggelar demonstrasi di London menentang masyarakat multikultural dan multietnis.

Anggota teras Partai Buruh Inggris menuduh Cameron “menulis materi propaganda untuk EDL.”

Pada Oktober, Kanselir Jerman Angela Merkel menggambarkan model masyarakat multikultural dan multietnis yang muncul di Eropa selama 1960-an sebagai “kegagalan total.”

Partai Merkel, Uni Kristen Demokrat (CDU), selama puluhan tahun menolak fakta bahwa Jerman adalah masyarakat multietnis. Pada awal 2000-an, partai itu melancarkan kampanye referendum untuk menghentikan naturalisasi anak-anak imigran yang lahir di Jerman.

Di Jerman, jus sanguinis atau hak berdasarkan kewarganegaraan orangtua, bukan jus soli atau hak berdasarkan tempat lahir, masih menentukan hak kewarganegaraan seseorang.

Komentar Merkel memicu debat yang diikuti publikasi buku kontroversial Germany Abolishes Itself karya mantan direktur bank sentral Jerman Thilo Sarrazin. Dalam buku dan wawancara, Sarrazin, anggota Partai Sosial Demokrat (SDP), menuduh Muslim dan Islam terlalu menuntut dan gagal berintegrasi ke dalam masyarakat Jerman.

“Tak ada agama lain di Eropa yang membuat begitu banyak tuntutan,” kata Sarrazin tentang Islam. “Tak ada kelompok imigran lain kecuali Muslim yang begitu kuat hubungannya dengan klaim mengenai negara kesejahteraan dan (dengan) kejahatan, tak ada dalam agama lain yang bisa bertransisi menuju kekerasan, kediktatoran, dan terorisme dengan begitu cair.”

Sarrazin menyinggung lebih jauh dengan klaim bahwa ras menentukan kecerdasan.

Kritik terhadap Muslim dan Islam juga umum di antara konservatif Prancis. Presiden Nicolas Sarkozy, pada 2005, menyebut imigran muda yang tinggal di pinggiran Paris sebagai “sampah” – yang akan dia bersihkan “dengan Kaercher”, merujuk pada industri, alat pembersih bertekanan tinggi.

Di Austria, Partai Kebebasan (FPÖ, sesuai nama Jerman-nya), ketiga terbesar di negara ini, hampir selalu berkampanye melawan imigrasi –sesekali memakai slogan rasis secara terbuka. Tahun ini, slogan utama partai itu adalah “Daheim Statt Islam” (Di Rumah Alih-alih Islam).

Menurut sebagian besar jajak pendapat, FPÖ menikmati dukungan sekitar 24-29 persen. Survei serupa menunjukkan FPÖ mendapat dukungan lebih dari 40 persen, tertinggi selama 30 tahun terakhir.

Hans Leyendecker, wartawan terkemuka Jerman, meminta publik “tak terperangkap ke dalam propaganda semacam ini” –gerakan anti-Muslim di Eropa.

“Debat panas tentang risiko teror Islam sering mengabaikan fakta dasar, bahwa kebanyakan serangannya terjadi di negara Muslim seperti Afghanistan, Pakistan, dan Somalia; dan bahwa korban utamanya juga orang Muslim,” tulis Leyendecker dalam opini-editorial di harian Die Sueddeutsche Zeitung. “Pada 2010, ada sekira 250 serangan teror di Eropa. Hanya tiga serangan yang punya latar belakang Islam.”

Hal sama ditulis ahli politik Stefan Weidner, pemimpin redaksi majalah Jerman Fikrun wa Fann (Seni dan Pemikiran), terbit dalam bahasa Arab, bahwa Behring Breivik berusaha membenarkan kejahatannya dengan memakai argumen yang sama dengan gerakan anti-Islam Eropa arus utama. “Kini, gerakan ini menuntut pembedaan antara kritik ‘moderat’ dan ‘kekerasan’ Islam.”

Sesungguhnya, tambah Weidner, terorisme Kristen Eropa seperti yang dilakukan Behring Breivik bukan menyerang masyarakat Muslim, sebagaimana terorisme Islamis jarang menyerang kota-kota Barat. “Alih-alih menyerang kantor pemerintah di Riyadh (Arab Saudi), kebencian Behring terhadap Islam menuntunnya untuk melancarkan serangan yang mungkin sangat brutal terhadap masyarakatnya sendiri.”*

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s