Perang ala Videogame Bunuh Warga Sipil

Oleh Zofeen Ebrahim

KARACHI (IPS) – SEBUAH pameran foto bertajuk “Gaming ini Waziristan” baru-baru ini secara grafis memperkuat tuduhan bahwa serangan pesawat tak berawak yang dilakukan militer dan intelijen Amerika Serikat di daerah-daerah suku di Pakistan justru membunuh banyak warga sipil ketimbang Taliban.

Pameran itu, yang berlangsung 19 Juli hingga 5 Agustus lalu di Beaconsfield Art Gallery di London, akan melakukan perjalanan ke AS pada bulan September sebelum dikuratori di Pakistan pada Oktober.

“Gaming in Waziristan” adalah karya Noor Behram, wartawan foto berusia 39 tahun dari Waziristan Utara. Pameran di London memasukkan 70 dari koleksi sekira 200 foto yang diambil Behram selama tiga tahun terakhir di 27 lokasi serangan pesawat.

Judul itu sendiri memberi kesan “perang videogame” yang tak berperasaan dan memunculkan keraguan terhadap klaim tentara AS dan Badan Pusat Intelijen (CIA) mengenai kemampuan memukul target secara tepat tanpa membahayakan warga sipil.

Karya Behram menguatkan temuan wartawan lokal di Waziristan Utara yang, didukung Biro Jurnalisme Investigasi (BIJ) yang bermarkas di London, datang dengan sebuah laporan bulan lalu yang mengungkapkan banyaknya korban sipil akibat serangan (rudal atau pesawat tanpa awak).

Dalam sebuah wawancara dengan suratkabar The Guardian yang terbit 17 Juli, Behram mengatakan bahwa “setiap 10 hingga 15 orang yang terbunuh, mereka mungkin mendapatkan satu militan. Saya tak menghitung berapa banyak Taliban terbunuh; saya menghitung berapa anak-anak, perempuan, dan orang tak bersalah terbunuh.”

Mirza Shahzad Akbar, seorang pengacara HAM Pakistan, yang membantu mengorganisasi pameran foto itu, mengatakan kepada IPS bahwa Behram mencapai 60 titik serangan pesawat dan mengambil 27 gambar. Dia juga menyaksikan lima serangan.

“Seringkali dia berhenti memotret atau membuat film,” kata Akbar. “Di satu desa, tempat semua warga sipil tewas, kerabat dari desa-desa terdekat, yang menguburkan mereka, begitu marah terhadap media sehingga dia dihalangi untuk memotret atau mengambil gambar.”

“Foto menjadi penting untuk dua alasan,” ujar Clifford Stafford Smith, pengacara HAM dan pendiri kelompok HAM Reprieve, yang menjadi mitra pameran itu. “Pertama, ia menunjukkan korban manusia akibat serangan itu secara riil; dan kedua, ia membuktikan kepalsuan klaim AS bahwa tak ada korban warga sipil.”

Reprieve, yang bermarkas di London, secara independen menjalankan sebuah proyek yang disebut “Bugsplat”, meminjam istilah otoritas AS untuk menggambarkan keberhasilan membunuh para teroris penting atau warga sipil tak berdosa menggunakan rudal dengan pengendali jarak jauh.

Akbar, yang bekerja untuk korban selamat dan tewas akibat serangan pesawat tak berawak, berharap pameran itu akan membuat kepekaan banyak orang di Barat atas biaya manusia dari “perang videogame” dan mendorong mereka mempertanyakan penggunaan uang pajak oleh pemerintah untuk membunuh perempuan dan anak-anak.

“Satu rudal Hellfire,” kata Akbar, “memakan biaya antara 70.000 dan 100.000 dolar, dan untuk setiap serangan pesawat tak berawak setidaknya beberapa orang terbakar.”

Kareem Khan, koresponden saluran berita Al Jazeera, punya teori bahwa serangan pesawat tak berawak itu akan berlanjut. “Ia (AS) telah kalah dalam perang di sana (Afghanistan) dan, sebagai mekanisme untuk menyelamatkan muka, ia memberitahu dunia bahwa ia mengejar para teroris yang menyeberang ke Pakistan.”

Khan, yang asli daerah itu, mengatakan bahwa dunia perlu memahami, jika Taliban adalah “gangguan” bagi dunia, mereka juga gangguan bagi penduduk Waziristan Utara.

“Akankah kita ingin menyingkirkan mereka juga?” Khan bertanya. “Ketika media melaporkan banyak teroris tewas dalam serangan pesawat tak berawak, sejatinya mereka menyebut bayi berumur enam bulan sebagai teroris; atau seorang ibu dengan lima anak sebagai teroris, dan bahkan seorang pria tua sebagai teroris! Kami mengubur orang-orang tak berdosa ini setiap hari.”

Pada 31 Desember 2009,  anak Khan yang berusia 18 tahun, Zainullah, dan saudaranya Asif Iqbal, guru sekolah, tewas dalam serangan pesawat tak berawak di Machikhel, Waziristan Utara.

Khan, bersama Sadullah dan Maezol Khan, mengajukan pengaduan resmi terhadap John A. Rizzo, mantan penasihat hukum CIA, ke kantor polisi Islamabad pada 18 Juli.

Sadullah kehilangan kedua kaki dan matanya. Anak Maezol Khan, berumur 7 tahun, tewas dalam serangan pesawat tak berawak pada 7 September 2009 di dekat kota Mir Ali di Waziristan Utara.

Smith menganggap Khan adalah sebuah kasus ideal untuk penuntutan. “Apakah Rizzo melakukan pembunuhan. Kareem punya kasus sempurna –atas pembunuhan, juga ambil bagian dalam perang ilegal melawan Pakistan.”

Akbar berpendapat, persetujuan Rizzo atas serangan itu didasarkan pada interpretasi sepihak mengenai hukum internasional oleh AS. “Penandatanganan surat perintah kematian terhadap individu-individua tanpa ada pengadilan, tidak di bawah pengawasan, hukum atau peraturan, dan didasarkan pada data intelijen yang bisa dipertanyakan di lapangan bukan hanya sewenang-wenang tapi juga kriminal.”

Menurut New American Foundation, serangan dimulai pada 2004 dan sekitar 42 serangan disahkan mantan Presiden George Bush. Jumlahnya bertambah empat kali lipat di bawah Presiden Barack Obama. Secara keseluruhan, ada hampir 265 serangan, yang menewaskan lebih dari 2.561 orang.

Washington terus membantah pesawat-pesawat itu membunuh warga sipil. John Brennan, deputi Penasehat Keamanan Nasional AS dan pembantu Obama urusan kontraterorisme, menyatakan bahwa berkat “kemampuan luar biasa” dan “ketepatan”, tak ada “jaminan kematian tunggal”.

Rahimullah Yusufzai, wartawan kawakan Pakistan yang membantu BIJ dengan laporannya “untuk melihat apa yang terjadi di lapangan”, menganggap klaim Brennan “tak berdasar”.

“Dalam sepuluh serangan udara yang dilakukan pada Agustus 2010, kami menemukan 45 warga sipil tewas,” kata Yusufzai kepada IPS. “Ini sebuah laporan kecil dan tak lengkap, namun membuktikan bahwa warga sipil tewas dalam setiap satu dari lima serangan.”

Menurut Yusufzai, tak ada mekanisme untuk mengumpulkan data. “Media melaporkan versi resmi yang tak pernah memasukkan nama atau usia korban. Informasi yang dikumpulkan dari daerah-daerah suku itu samar dan, sejauh saya tahu, tentara Pakistan tak pernah memverifikasi siapa atau berapa banyak yang tewas.”

Setiap kali satu serangan berakhir, warga desa menguburkan mereka yang tewas sementara militan membawa jasad rekan mereka ke lokasi yang dirahasiakan.

Untuk laporan BIJ, wartawan diminta mengunjungi desa-desa yang menjadi perhatian dan memverifikasi data, kata Yusufzai.*

Translated by Basilius Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerja sama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s