Sampah Militer Ancam Lautan

Oleh Malini Shankar

BANGALORE (IPS) – PUING-puing militer yang dibuang ke lautan di dunia berbahaya bagi ekosistem karang, terumbu karang, ikan, dan satwa laut, ujar para ahli. Mereka juga mengingatkan –berdasarkan tragedi baru-baru ini di Jepang– bahwa gempa bumi dan tsunami dapat mengacaukan puing-puing ini dan bahkan menghanyutkannya ke darat.

“Bencana tsunami akibat gempa di Jepang meningkatkan kemungkinan senjata kimia dan konvensional yang dibuang ke laut terbawa ke darat saat mereka tergeletak di kedalaman 200 meter di Teluk Choshi di Prefektur Chiba, Jepang,” kata Ryo Sato, peneliti kelautan di Global Green AS yang berafiliasi dengan LSM Green Cross International.

Laut Baltik, Samudera Atlantik Utara, Laut Mediterania, dan Samudera Pasifik adalah tempat puing-puing itu.

Di Filipina, “Coron, Teluk Subic Bay, dan Teluk Leyte sangat padat dengan pesawat dan kapal tenggelam selama Perang Dunia II, dan banyak bangkai kapal dan pesawat mengotori dasar laut di terumbu karang,” menurut World Wide Fund for Nature (WWF), Filipina.

“Tentara AS membuang lebih dari 8.000 ton senjata kimia dari Hawaii,” kata Paul Walker, direktur Global Green, pada konferensi Pembersihan Puing Laut PBB ke-5 baru-baru ini. Sekira 300.000 ton bahan senjata kimia dibuang ke laut pada 1946 hingga 1965. Lebih dari 400.000 bom bermuatan gas dan roket mengapung di perairan AS. 40.000 ton senjata konvensional berada di Laut Baltik. 21.000 ton bahan senjata konvensional mengapung di perairan Australia, dan lebih dari 6.600 ton di lepas pantai Jepang.

“Sampah laut… berdampak negatif terhadap kehidupan laut, merusak habitat dan mengacaukan rantai makanan bagi organisme laut dan burung laut,” kata Finn Longinotto, senior program fellow Global Green.

Prancis melakukan 137 ujicoba nuklir bawah laut antara tahun 1975 dan 1996 di Polinesia Prancis, menciptakan sebuah kawah buatan dengan diameter 140 meter –merusak satu juta meter kubik karang dan pasir. Ledakan itu menyuntikkan material nuklir ke dalam batuan karbonat yang akan terlepas secara bertahap ke lautan. Gempa bumi dan tanah longsor bawah laut akan mengintensifkan pelepasan bahan radioaktif, yang mempengaruhi makanan laut, arus laut, dan bantalan hujan awan di seluruh planet dalam jangka panjang.

Sisa material nuklir diabaikan, menurut studi yang diprakarsai Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), atas perintah Prancis pada 1998.

Menurut penelitian yang dilakukan Universitas Florida, rudal, torpedo, dan kapal selam memancarkan gelombang sonar yang menyebabkan cetacean seperti lumba-lumba, ikan duyung, dan ikan paus mengalami gangguan pendengaran –mempengaruhi kemampuan berburu, komunikasi kelompok, pola migrasi, dan perilaku kawin mereka.

Angkatan bersenjata India juga menghancurkan habitat laut dan ekosistem karang yang rapuh. Di Teluk Benggala, Organisasi Pengembangan dan Riset Pertahanan (DRDO) India melakukan ujicoba rudal di tengah-tengah tempat penyu bertelur di dalam cagar alam laut, Gahirmatha Marine Sanctuary.

“DRDO tak seharusnya melakukan ujicoba rudal selama musim penyu bertelur. Namun, mereka mencemooh aturan ini kendati Departemen Kehutanan tetap keberatan,” tuding Biswajit Mohanty dari Wildlife Society of Orissa.

“Dalam sebuah insiden baru-baru ini, rudal gagal meledak, mengakibatkan kerusakan habitat sarang penyu di Pulau Nasi di dalam Gahirmatha Marine Sanctuary –tempat berkembang-biak penyu lekang. Getaran dari peluncuran rudal yang hampir sama dengan intensitas seismik dapat berdampak pada telur-telur yang rapuh; kami belum tahu secara ilmiah apa yang terjadi dan dampaknya pada telur-telur itu,” kata Mohanty kepada IPS. “DRDO tak mengacuhkan bahwa warisan alam yang unik negara ini –penyu lekang– mungkin meninggalkan lokasi sarang jika aktivitas rudal mengganggu mereka.”

DRDO “belum mengungkapkan jenis puing-puing yang berserakan di laut,” ujar Mohanty.

Respon pemerintah: “DRDO sudah berhati-hati untuk menghindari efek buruk bagi ekosistem ketika merencanakan dan melakukan ujicoba rudal dari jajaran DRDO. Tombol pengaktifan dirancang sedemikian rupa sehingga tak mempengaruhi flora dan fauna di wilayah itu atau menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan.”

“Suar yang muncul dari peluncuran rudal memanaskan habitat itu, dan menganggu penyu dan tukik terutama ketika mereka menuju ke laut,” kata Mohanty, prihatin.

Namun DRDO mengatakan kepada IPS bahwa, “Semua lampu penerang ditempatkan dalam posisi terbalik dengan nuansa dan api yang keluar dari rudal berlangsung kurang dari semenit, yang tak mempengaruhi sarang penyu lekang.”

Angkatan Laut India juga memilih pulau karang Netrani di pantai barat India untuk “latihan target,” ujar V.N. Nayak, ahli biologi kelautan di pusat pascasarjana Universitas Karnatak di Karwar kepada IPS. “Pulau Netrani adalah rumah bagi beragam fauna, yang terdaftar dalam daftar spesies terancam punah Red Data List IUCN [International Union for Conservation of Nature] dan Indian Wildlife Protection Act’s Schedule One.”

Latihan Angkatan Laut adalah ancaman mengerikan bagi ekosistem, ujar Nayak. Banyaknya jumlah peluru, bom, rudal, dan torpedo yang ditembakkan ke satwa liar yang endemik di pulau itu dan lautan menyebabkan kematian massal ikan dan karang di ekosistem ini. “Latihan target pada satwa langka jelas tak bertanggungjawab,” ujarnya. “Pulau Netrani terletak di bawah Coastal Regulatory Zone 4 dan zona memancing.”

Fauna di Pulau Netrani termasuk elang laut berperut putih, karang, ikan karang, hiu paus, hiu harimau, kerapu raksasa, tiram raksasa, lumba-lumba, ular laut, hewan bercangkang, hiu karang, ikan pari, cumi, teripang penyu lekang, ubur-ubur, landak laut, ikan paus pembunuh, dan sarang walet yang dapat dimakan. Pulau ini adalah satu-satunya tempat di luar Pulau Andaman Nicobar tempat sarang walet hidup.

“Latihan menembak Angkatan Laut dilakukan secara berkala pada sebuah batu tandus 16 meter, terletak dekat Pulau Netrani,” kata Angkatan Laut India kepada IPS. “Latihan menembak semacam itu sudah dilakukan selama enam dekade terakhir.” Menghadapi risiko pecahnya pertempuran yang berasal dari serangan teroris di Mumbai, “perlu bagi Angkatan Bersenjata India untuk tetap siap tempur… setiap saat hampir selalu ditekankan. Ia menuntut kesadaran yang membuat Dewan Keanekaragaman Hayati Karnataka menunda usulan untuk mempertimbangkan Pulau Netrani sebagai Taman Keanekaragaman Hayati.”

“Siapa musuh Angkatan Laut India sehingga membombardir satwa liar tak bersenjata?” tanya K.S.N. Cikkerur, direktur jenderal tambahan pada sel polisi hutan Karnataka, di Bangalore. Apakah musuh “spesies-spesies Schedule One yang terdaftar dalam Wildlife Protection Act?” ujarnya, heran.*

 

Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pacific

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s