Sistem untuk Mimpi Buruk Tsunami

Oleh Amantha Perera

KOLOMBO (IPS) – KETAKUTAN menghinggapi Mohideen Ajeemal ketika mendengar berita gempa bumi berkekuatan 8,6 SR di lepas pantai Indonesia pada 11 April. Ketika gempa dengan kekuatan serupa melanda daerah yang sama, Ajeemal kehilangan dua anaknya, seorang anak perempuan dan bayi lelaki, ketika gelombang tsunami menghantam rumahnya di pantai timur Sri Lanka pada pagi 26 Desember 2004.
“Ketika jip polisi mulai mengumumkan evakuasi, kami sudah bergerak,” ujar Ajeemal, penduduk desa Sainathimaruthu, terletak di timur daerah Kalmunai, kepada IPS.
Pada 2004 tak ada peringatan dan gelombang tsunami menyebabkan 30.000 jiwa melayang, jutaan orang terlantar, dan biaya rekonstruksi lebih dari tiga milyar dolar.
“Kali ini orang-orang apa yang diharapkan, mereka tahu harus menjauh dari pantai dan melakukannya dengan cepat,” ujarnya.
Dengan dua kali lebih cepat, Departemen Meteorologi mengeluarkan sebuah peringatan: “Sebuah gempa bumi di dekat Pulau Sumatra terjadi pada pukul 14.08 (waktu Sri Lanka) hari ini 11 April 2012 berpotensi menimbulkan tsunami yang akan mengenai Sri Lanka. Siapa pun yang tinggal di dekat dan sepanjang pesisir Timur dan Selatan disarankan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.”
Peringatan itu dikeluarkan kendati Pusat Peringatan Tsunami Pasifik milik pemerintah Amerika Serikat belum mengeluarkan peringatan resmi, sebaliknya membatasi pembaruan datanya pada gempa bumi hingga “peringatan tsunami”. Namun, stasiun radio dan televisi lokal meneruskan peringatan itu, dan juga disebarkan melalui pesan singkat (SMS) maupun komunitas Twitter di Sri Lanka yang kecil namun aktif.
Mereka yang tinggal di pantai seperti Ajeemal dihimbau oleh polisi untuk bergerak setidaknya ke 500 meter di daratan. “Kami diminta tetap tinggal di sana hingga sekitar pukul enam (petang),” ujar Ajeemal. Periode peringatan lalu diperpanjang ketika gempa susulan melanda pulau itu sekitar dua jam setelah gempa pertama yang mengoncang pantai barat Sumatra, di Banda Aceh.
“Hampir semua orang menjauhi pantai, tak ada seorang pun di sini,” ujar Reverend G S K Herath, seorang pendeta Anglikan dari selatan kota Matara. Dia mengatakan bahwa pasukan keamanan dan polisi bergerak ke daerah-daerah yang dikosongkan untuk mencegah aksi penjarahan.
“Satu-satunya orang yang masih tinggal di kota ini selain pasukan keamanan adalah wartawan dan juru kamera yang bertengger di gedung-gedung bertingkat, menunggu gelombang datang,” ujar Herath.
Respon cepat media ini sebagian disebabkan syok tahun 2004 ketika tsunami membangunkan negeri ini, yang masih terlelap setelah merayakan Boxing Day (sehari setelah Natal), karena kekuatan destruktif bencana alam.
Kini, pantai yang dilumatkan oleh tragedi 2004 itu diberi papan biru kecil di bahu jalan, menunjuk tempat yang lebih tinggi untuk pindah jika terjadi tsunami.
Hanya beberapa bulan setelah tragedi 2004, di pertengahan 2005, pemerintah berdasarkan Undang-Undang Manajemen Nasional membentuk Pusat Manajemen Bencana (DMC) untuk mengkoordinasi respon terhadap bencana dan peringatan dini.
Namun sistem tersebut tak selalu berjalan efektif dan, dalam beberapa kesempatan, gagal.
November tahun lalu, Departemen Meteorologi maupun DMC mengeluarkan sebuah peringatan sebelum angin kencang melanda selatan Sri Lanka, menewaskan 29 orang, terutama nelayan, dan merusak lebih dari 10 ribu bangunan. Dua badan negara itu pun menuai kritik keras atas kegagalan itu.
Namun, pada 11 April, sistem tersebut sudah berjalan lancar.
“Kami menghabiskan banyak energi dan sumberdaya ke dalam sistem peringatan dini selepas tragedi 2004, kini kita bisa melihat seberapa efektif mereka,” ujar Mahieash Johnney, manajer komunikasi dan pelaporan pada delegasi Sri Lanka di Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, kepada IPS.
Palang Merah Sri Lanka (SLRC) dengan cepat memobilisasi relawan di daerah pesisir untuk membantu evakuasi dan meminta para stafnya selalu siap membantu badan-badan pemerintah.
Di beberapa daerah seperti kota Batticaloa di timur, relawan Palang Merah menggunakan perahu untuk memindahkan orang-orang yang tinggal di pulau-pulau, atau daerah-daerah yang terputus oleh banjir, ke tempat aman.
“Kami berlatih tiga bulan sekali atau lebih, bersiaga bagaimana menghadapi situasi-situasi seperti ini. Kini, kami melakukannya dalam kondisi nyata,” ujar Johnney. SLRC mengeluarkan 1,2 juta dolar untuk mekanisme peringatan dini, dengan fokus pada pantai timur yang kena hantaman paling parah oleh tragedi 2004, tambahnya. “Saat yang tepat untuk melihat investasi itu (terbayar).”
Ajeemal menambahkan, para penduduk desa seperti dirinya sudah menjalani kampanye penyadaran sejak tsunami tersebut mengenai bagaimana menghadapi peristiwa semacam itu.
Nandasa, penduduk yang tinggal di pantai di Rathmalana, pinggiran selatan Kolombo, mengungkapkan perasaan serupa. “Pada 2004, ketika air surut sebelum tsunami datang, orang menganggapnya lelucon. Mereka keluar untuk mengumpulkan kerang. Kali ini tak seorang pun mengambil sesuatu begitu saja. Setiap orang tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang diharapkan.”
Namun ada beberapa kealpaan. Karena jalan-jalan di pesisir ditutup, jalan-jalan lainnya macet parah, jaringan mobile menjadi kelebihan beban, dan tempat-tempat pengisian bahan bakar di wilayah-wilayah pesisir kehabisan bahan bakarnya, menyebabkan banyak orang terlantar.
Tapi secara umum pelajaran berharga dari tragedi 2004 sepertinya sudah dipelajari.*
Translated by Farohul Mukthi
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s