Dua Kota, Dua Rasa

Oleh Erliana dan Ahlul Fadli

Dua kru Bahana. Jalan-jalan ke dua kota di Sumatera. Ada dua ‘rasa’ jurnalisme.

OKTOBER 2010. Bus silver antar propinsi meluncur pelan, menapaki suasana malam di kawasan Rajabasa, Bandar Lampung. Di depan Kampus Universitas Lampung (Unila), tak jauh dari terminal Rajabasa, sopir bus menginjak rem. “Udah sampe, itu temannya ke sini,” kata sopir. “Saya dijemput Aryan.” Aryan kru Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Teknokra. Terlihat gerbang kampus tutup. “Jalan lintas Sumatera rawan.”

Bundaran air mancur menyambut begitu saya tiba di depan gedung rektorat. Sisi kanan bundaran ada hutan kecil. Di dalamnya ada beberapa ekor rusa. Hewan yang dilindungi, kini hampir punah.

Sebuah gedung dua lantai, bentuknya melebar. Ini pusat semua sekretariat mahasiswa. “Selamat datang di Teknokra,” kata Supendi, kru Teknokra. Peserta lain mayoritas datang esok hari.

Saya berbincang dengan beberapa kru Teknokra. Mereka bilang, warga Lampung kebanyakan pendatang. Dari Sunda dan Jawa. “Orang asli Lampung sedikit sekali,” kata Virda, juga kru Teknokra. Hasilnya, bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Bahasa Lampung nyaris tak terdengar.

Teknokra Unila tuan rumah Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut (PJMTL) se-Indonesia. Acaranya bertajuk Persma Bernarasi di Bumi Lampung itu berlangsung dari 4-9 Oktober 2010. PJMTL diadakan di Wisma Semergo Pahoman, Bandar lampung. Jaraknya 40 menit dari kampus Unila. Sepanjang jalan menuju wisma, dijumpai beberapa tugu. Yang paling menarik perhatian, tugu bundaran gajah. Hampir setiap sudut jalan terdapat simbol gajah.

HARI PERTAMA usai makan siang. Sesi pertama dimulai. Juwendra Asdiansyah, alumni Teknokra sampaikan materi Jurnalisme dan Propaganda. Ia tegaskan jurnalisme beda dengan propaganda atau gosip. “Propaganda bisa benar atau salah dalam memberikan informasi. Ia bisa melebihkan, mengurangi, bahkan merekayasa fakta.”

Malamnya, perkenalan persma masing-masing utusan dan diskusi bahas masalah persma serta mencari solusinya. Keluhan semua persma hampir sama; kurang sumberdaya manusia dan minim dana. Ada juga sesi bahas isi tabloid masing-masing utusan. Supendi bilang, Teknokra dulu banyak tulisan panjang. Sekarang sudah berubah bentuk jadi news. “Jadi wadah belajar menulis panjang kurang,” katanya.

Hari kedua kami berkunjung ke Museum Lampung. Tepat di pintu masuk, ada beduk besar. Di sisi kiri dan kanannya ada tangga ke lantai dua. Bila naik anak tangga sebelah kiri, akan terlihat alat musik Gamelan di lantai dua. Lalu pelaminan Lampung. Jika naik dari kanan, akan disambut perlengkapan alat tenun di lantai dua.

Pulang dari museum, diskusi berlanjut bahas indepth reporting. Wahyu Muryadi, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo beri penjelasan. Sesi ini lebih banyak diskusi. Wahyu bilang, wartawan harusnya idealis. Tugasnya menyebarkan fakta. Wartawan tak bisa dibeli. Dia bedakan wawancara dengan ngobrol biasa. “Wawancara berbicara yang diarahkan, sedangkan ngobrol cerita yang tak ada alurnya,” ujar Wahyu.

Hari ketiga, diskusi soal penulisan feature bersama Fahri Salam. Ia dari Yayasan Pantau. Menurutnya, feature beritanya lebih awet. Enak dibaca walau sudah puluhan tahun. Prinsip feature tulisan bertutur. “Jangan katakan, tapi gambarkan. Jangan pernah menyimpulkan.” Ia juga sampaikan beda feature dengan narasi. Ibarat film, feature adalah tampilan adegan. Dan narasi keseluruhan film. Lalu diskusi berlanjut bahas tulisan feature yang dikirim peserta sebagai syarat ikut PJMTL.

Esok hari kami meliput lokalisasi di Bandar Lampung. Namanya Pemandangan. Hari terakhir, diisi field trip. Berwisata ke Menara Siger di ujung pulau Sumatera. Ini salah satu simbol Propinsi Lampung—selain gajah. Setiap bangunan pakai simbol ini. Perjalanan ditutup dengan mengunjungi Pantai Merak Belantung.

BULAN berikutnya, Fadli ikuti pelatihan serupa. Kegiatan bernama Salam Ulos bertajuk Jurnalisme Damai; Tak Hanya Menulis Tapi Juga Mendamaikan. Acara ini ditaja LPM Suara USU Universitas Sumatera Utara (USU), biasa mereka sebut SU. Selasa pagi, pukul 10.00, bus Makmur merapat ke terminal. “Saya dijemput Eka, kru SU.”

Beberapa menit, tiba di komplek Badan Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (BPPNFI) Regional I Kota Medan. Tempat pelatihan digelar. Sehari sebelumnya acara telah mulai; sesi perkenalan. Saya langsung ikuti materi pertama soal Sejarah Dan perkembanagan Jurnalisme Damai. Disampaikan Usman Kamsong dari Media Indonesia dan Metro TV.

Usman Kamsong katakan, genre jurnalisme damai dibawa Johan Galtung dan para pemikir lainnya tahun 1970-an. Mereka prihatin, kata Usman, melihat pemberitaan Pers yang tertarik pada konflik, kekerasan, korban yang tewas dan material.    Di Indonesia sendiri jurnalisme damai muncul sekitar 1998, saat terjadi berbagai konflik agama, etnis dan antar kelompok. Malamnya, nonton bareng The Black Road. Film soal konflik di Aceh. Antar Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan TNI.

Rabu, pukul 08.00, bahas Teknik Peliputan dan Penulisan. Materi disampaikan Luzi Diamanda. Ia wartawan Majalah Gatra untuk Riau. Luzi beri beberapa panduan meliput di daerah konflik. Pertama, jurnalis harus kenali daerah konflik, berita harus seimbang, melaporkan latar belakang konflik. Terakhir, kata Luzi, penekanan tulisan pada sisi kemanusiaan. “Media dewasa ini tak mementingkan kepentingan rakyat, melainkan para penguasa.” Sesi pertama usai. Peserta istirahat 15 menit.

Usai jeda, dilanjutkan materi Fotografi Jurnalisme Damai oleh Hotli Simanjuntak, fotografer The Jakarta Post. Hotli lihatkan hasil jepretannya saat konflik di Aceh. Banyak gambar, kata Hotli, seharusnya dipublikasikan. Salah satunya, saat TNI paksa warga sipil mengaku sebagai anggota GAM. “Sayang gambar itu tak dipublikasikan.”

Kamis, (25/11), hari terakhir pelatihan. Materinya Penerapan Jurnalisme Damai Pada Persma. Dipandu Hendra Harahap, alumni Universitas Sumatra Utara (USU). “Tak mudah mengubah genre sebuah surat kabar, karena punya perbedaan dalam pemberitaan,” ucap Hendra. “Lagi pula genre jurnalisme damai di Indonesia masih baru. Harus bertahap menyebarkannya.”   Setelah itu, peserta istirahat beberapa menit. Lalu persiapan paraktik tugas lapangan dari panitia.

TUGAS lapangan di Pajus, singkatan pajak USU. Pajus tempat pengusaha kecil. Berbagai macam dijual di sana. Ada aksesoris, VCD bajakan, makanan, minuman, buku pelajaran dan rental komputer. Pajus sempat ada konflik. Mulanya saat Pajus terbakar. Sebelum terbakar ada rencana Pajus akan dipindahkan pihak pengelola. Namun, usai kebakaran, para pedagang belum dapat tempat yang dijanjikan. “Kami sudah membayar dua juta untuk uang sewa, kami hanya ingin kejelasan,” ucap Sardi, seorang pedagang Pajus.

Menurut Wara Sinuhaji, pengelola Pajus telah perjuangkan nasib pedagang. “Tapi ya mau gimana lagi kalau tidak diizinkan pemerintah.” Wara menjanjikan akan mengembalikan uang retribusi pedagang, apabila memperlihatkan kuitansi pelunasan.

Malamnya keliling kota Medan. Melihat Masjid Raya, Istana Maimun, Lapangan Merdeka, pemukiman warga keturunan India dan rumah salah satu tokoh Tionghoa. Ia saudagar pertama di Medan. Saat di Istana Maimun, Hanan Lubis, kru SU, cerita soal banyak situs sejarah di kota Medan dihancurkan, diganti dengan pertokoan. “Seperti Pemandian Kerajaan depan Istana maimun.”

Dini hari tiba. Pukul 01.00 berangkat ke Parapat. Tujuanya ke Danau Toba. Ini agenda field trip. Semua ceria. Ada beli kenang-kenangan, foto-foto di patung Sigale-gale, dan kunjungi makam Raja Sidabutar. Ia raja sakti. Tapi kisah asmaranya tak begitu indah. Jelang pernikahannya, si calon istri diguna-guna agar menolak menjadi Istri Sidabutar.

Malam dilanjutkan acara kebersamaan. Sampaikan pesan dan kesan. Ada tertawa, ada juga yang menangis.

DUA KOTA yang dikunjungi hadirkan dua materi jurnalisme berbeda. Ada jurnalisme damai dan ada narasi. Dua ‘rasa’ yang beda. Kami membawanya ke ruang redaksi Bahana. Diskusi tentu hadir. Soal narasi, jelas genre yang pas bagi penerbitan berkala, seperi LPM. Narasi gabungan dari deskripsi, piramida terbalik, dan feature. Laporan lengkap, “Panjang dalam dan terasa,” kata Linda Cristanty. Ini kekuatan media cetak mengalahkan televisi.

Bahas lagi soal jurnalisme damai. Ia tak menuliskan semua fakta yang ada. Penulisan diarahkan pada sisi humanis, apa akibat dari sebuah konflik, hingga orang akan damai setelah itu ditulis. Tidak lagi soal siapa membunuh siapa, berapa orang yang mati, dan sebagainya. Tapi apa akibat yang ditimbulkan.

Tapi, justru ini tak cocok dengan buku Sembilan Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Tim Rosenstiel; harus menyampaikan apa fakta-fakta, walau ada masyarakat suka dan tidak, selagi ini fakta dan benar, ya ditulis. Biarkan warga mengambil sikapnya sendiri. Jadi, ruang redaksi Bahana anggap jurnalisme damai masih abstrak. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s