Agar Tak Dapat Lomang Angek

Oleh Aang AS

Ulah beberapa wadah penelitian, UR sempat dikomplain tiga kabupaten.

BEBERAPA tahun lalu, Prof Muchtar Ahmad, Rektor UR saat itu, didatangi perwakilan dari tiga kabupaten di Propinsi Riau. Mereka komplain. Penelitian yang dihasilkan salah satu badan penelitian di UR tak bermutu. “Kalau begini caranya Pak, kita pakai peneliti dari luar Riau saja,” kata Muchtar menirukan ucapan seorang perwakilan tadi.

Menurut Muchtar, saat itu banyak dosen bikin badan penelitian. Tujuannya hanya untuk dapat proyek penelitian dari luar. Terutama dari dinas-dinas. “Kebanyakan kerjasama penelitian dengan dinas-dinas ini kualitasnya rendah,” kata Muchtar. “Bahkan, saat satu dinas mengeluarkan proyek penelitian soal rawa-rawa, oleh sekelompok dosen dibikin badan penelitian rawa-rawa, ya untuk dapatkan dana itu.”

Prof Adnan Kasry membenarkan pernah terjadi komplain pada rektor soal proyek peneltian. Banyak, kata Adnan, orang pakai jasa badan atau pusat penelitian di UR komplain karena hasil penelitian dan rekomendasi tak sesuai harapan. “Tidak pernah diketahui Lemlit apalagi rektor. Jadi rektor terkejut lah saat ada yang komplain.”

Menurut Adnan, ada juga badan dan pusat penelitian yang berkantor di luar kampus. “Dulu banyak kantor badan atau pusat itu di rumah masing-masing, macam nenek moyangnya saja yang punya,” kata Adnan. “Ada yang kumpul-kumpul, ada proyek, buat sendiri, kerjasama dengan pihak lain tanpa tahu siapa yang melegalkan.”

Memang dulu rektor sampai dipanggil Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi Riau, soal badan yang tak jelas payungnya dalam melakukan penelitian. Saat DPRD tanyakan soal badan itu, pihak kampus tak tahu apa-apa. “Itu pernah kejadian di FMIPA, pihak kampus menjawab kami tak ada bikin badan itu,” tambah Usman Tang, Ketua Lembaga Penelitian (Lemlit) UR.

CERITA soal pusat dan lembaga penelitian memang kompleks. Awalnya untuk menjadikan UR jadi universitas riset. “Pertama kan, kita mau jadi universitas apa. Kita sepakat universitas riset. Makanya iklim akademis harus diciptakan,” kata Muchtar Ahmad. Saat itu, lanjut Muchtar, kampus rajin bikin diskusi. “Ini untuk menguatkan orientasi kita agar jelas, mau jadi apa universitas kita ini.” Akhirnya, tahun 2001, universitas riset masuk statuta UR.

Membangun univeritas riset, harus melihat unsurnya, untuk apa. Terpenting adalah dosen. Penelitian dosen harus integrasi dengan penelitian mahasiswa dan harus bermutu. “Tidak boleh dosen penelitian ke Barat, mahasiswa ke Timur,” kata Muchtar.

Munculnya pemikiran penelitian dosen harus bersama mahasiswa, kata Muchtar, agar mahasiswa bisa cepat penelitian dan penelitian itu berguna. “Jadi gak ada mahasiswa rebut judul, jadi proposal tinggal menambah literaturnya yang terbaru, masalah sudah ada.”

Setelah konsep itu matang, iklim untuk melakukan penelitian terus meningkat. Saat itu, kata Muchtar, dana penelitian kampus minim. Saat itu dana penelitian untuk dosen hanya Rp 300 ribu. “Sedangkan mahasiswa mengajukan dana penelitian sampai Rp 500 ribu.”

Melihat kondisi itu, dilakukan perbaikan. UR ketika itu, mengaktifkan biro kerjasama. Fungsinya cari perusahaan dan pemerintah daerah. “Pak, kami hanya ada dana penelitian Rp 240 juta. Kita merasa Unri ini milik Bapak, apa yang dapat kami bantu penelitian untuk menyelesaikan masalah daerah di sini,” itulah contohnya, kata Muchtar. “Artinya permasalahan di daerah diteliti, dan dicarikan jalan keluarnya. Saat itu Pemda sangat setuju.”

Jadi strategi itu, akan membuat UR bisa dapat dana tak hanya dari pusat dan pihak perusahaan sendiri. “Sekaligus bisa mengurangi beban mahasiswa dalam skripsi. Bagaimana Unri dapat pemasukan dalam mengejar pengembangannya, dosen sejahtera hidupnya, dan mahasiswa lebih ringan beban untuk skripsi,” kata Muchtar.

Dibukanya kran kerjasama dengan pihak luar, membuat banyak dosen yang melakukan tanpa koordinasi dengan kampus. Bahkan banyak badan di fakultas main sendiri, mencari dana di daerah-daerah. “Bahkan dosen yang siap sekolah di luar, datang ke UR buat badan sendiri-sendiri. Sebenarnya kalau badan di fakultas itu bukan tanggung jawab universitas,” kata Muchtar.

Tahun 2004 jadi puncaknya. Makanya, kata Muchtar, mulai ada yang komplain, karena banyak pusat dan badan yang melakukan pakai nama Unri, tapi hasil penelitian tidak menunjukkan kualitasnya. “Diubah jadi kekayaan pribadi, beli rumah dan semuanya, dan penelitian tidak bermutu.” Memang, katanya, saat itu lepas dari kontrol. “Seharusnya Lemlit lebih kuat lagi kontrolnya.”

Menurut Prof Aslim Rasyad, Ketua Lemlit periode 1998-2002, penelitian di luar universitas, yang bekerjasama dengan pemerintah dan swasta saat itu memang tak ada koordinasi sama sekali, hingga banyak penetitian yang tak terdata di Lemlit.

“Sebenarnya tak ada aturan untuk itu, tapi jika ada penelitian dari luar administrasinya harus dari Lemlit, uang administrasilah. Tapi kebanyakan para peneliti enggan seperti itu, mereka takut uangnya dibagi dua,” kata Aslim. “Kita ini sudah buat aturan, tapi ketika ada yang langgar, kita tidak bisa menindak, ini kan sanksi moral,” tambah Muchtar Ahmad.

LIHAT persoalan ini, pada 14 Januari 2004, senat universitas mulai berembuk. Untuk menertibkan badan dan pusat penelitian juga regulasinya. Pada 1 Maret 2004, diterbitkan Surat Keputusan (SK) Rektor nomor 024/J19/KP/2004 tentang Ketentuan Umum Pusat dan Badan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat di Lingkungan Universitas Riau (lihat bagan).

Maksudnya, untuk mengatur mekanisme kerja dan eksistensi pusat dan badan di lingkungan UR. Agar tak terjadi berbagai akibat yang rugikan nama baik UR. Dalam SK itu, juga dikatakan, tentang pembayaran fee kerjasama akan diatur dalam SK Rektor berikutnya. Pada 5 Mei 2004, Rektor kembali telurkan SK soal kerjasama Universitas Riau dengan pihak luar, nomor 167/J19/KS/2004 (lihat bagan).

Tak cukup hanya SK, setahun setelahnya dibentuk tim Evaluasi Proposal Pembentukan Badan atau Pusat Penelitian di Lingkungan Universitas Riau, lewat SK Rektor nomor 28/J.19/AK/2005.

Tugas utama tim mengevaluasi pusat atau badan penelitian yang sudah ada. Kedua, menertibkan pusat atau badan dengan menggunakan ketentuan; di fakultas jenis dan jumlah badan sesuai spesifikasinya. Pertama, harus berjumlah satu badan penelitian per jurusan dan maksimal dua badan bersifat lintas jurusan. “Di Faperika saja waktu itu ada 27, ditertibkan jadi enam,” kata Adnan Kasry, Ketua tim. “Kami hanya merekomendasikan ke Rektor badan yang sudah layak, tidak menilai kinerjanya.”

MENURUT Usman Tang, Ketua Lemlit, tujuan pusat-pusat itu adalah hasilkan paten. Dan hasil patennya itu bisa memperkaya univeristas. “Makanya dilakukan penelitian-peneltian,” kata Usman. Tujuannya, menghasilkan dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). “Bagaimana pemasukan dari penelitian dan jasa konsultasi bisa melebihi SPP.”

Usman juga cerita sejak ia pimpin Lemlit, akhir 2007. Pertama, kata Usman, belum ada payung penelitian, “Terserah dosen mau apa. Anggaran kecil juga. Saya masuk dana penelitian baru Rp 300 juta. Dibagi 3000 dosen, hanya Rp 300 ribu. Penelitian apa yang bisa Rp 300 ribu, sekali ke Bengkalis saja sudah habis.”

Usman mulai bikin payung penelitian dan kajian penelitian. Jumlah proposal naik, dana pun naik. Pertama Rp 300 ribu jadi Rp 700 ribu. Sebelumnya, kata Usman, dana itu tidak dilaporkan. Semua punya rekening. “Pas saya masuk lapor semua. Makanya 2007 dana itu langsung Rp 12 miliar.”

Saat Usman menjabat, ia diuntungkan dengan sistem satu pintu pengelolaan dana di UR. “Jadi semua harus satu rekening.” Akhirnya, dana bisa dikontrol, dan jadi pemasukan universitas. “Soal fee, kita beri tahu bahwa itu benar-benar dari rekening universitas, bukan ke rekening Lemlit. Dana itu untuk biaya seminar, reviewer, Monev.”

Tahun 2010, kata Usman, ada dana dari universitas untuk tiap pusat penelitian senilai Rp 30 juta. Tiap pusat penelitian harus buat proposal. “Yang tidak buat tentu tak dapat.” Kita, kata Usman, ingin penelitian ini punya satu ikatan, ada tema. Jadi nanti hasilnya jelas dan pertanggung jawabannya juga jelas. “Ada anggaran penelitian dari rektorat ke Lemlit, dan ada anggaran ke fakultas.”

Soal badan peneltian di fakultas, menurut Usman itu tanggung jawab dekan di fakultas. “Tapi sekarang kita sedang mendata. Kalau bisa tak perlu lagi ada badan-badan, pusat saja cukup.” Menurut Adnan Kasry, penertiban untuk pusat dan badan sangat diperlukan. “Jangan sampai terjadi lagi komplain dan rektor sendiri tidak tahu. Bahasa saya rektor dapat lomang angek. Tak tahu menahu, tapi dikomplain.” lovina, fadli.

SK Rektor nomor 167/J19/KS/2004 tentang Kerjasama Universitas Riau dengan Pihak Luar

Pasal 4
Poin a; Pihak luar yang akan bekerjasama dengan Universitas Riau harus melalui Rektor.
Poin b; Pihak luar yang akan bekerjasama dengan unit-unit di lingkungan Universitas Riau atau sebaliknya harus sepengetahuan rektor.

BAB VII soal Dana Sumbangan dan Fee
Pasal 11
Nomor 2
poin a; Membayar fee sebesar 8 (delapan) persen dari nilai proyek atau kegiatan. 5 persen pada universitas, 1,5 persen pada lembaga atau fakultas, dan 1,5 persen pada jurusan, jika proyek atau kegiatan diperoleh universitas.
Poin b; Membayar fee sebesar 6,5 persen dari nilai proyek atau kegiatan. 2 persen pada universitas, 3 persen pada lembaga atau fakultas, dan 1,5 persen pada jurusan, jika proyek atau kegiatan diperoleh fakultas atau lembaga atau pusat.
Poin c; fee paling lambat dibayar satu bulan usai penyelesaian proyek atau kegiatan.

SK Rektor Nomor 024/J19/KP/2004
Tentang Pusat dan Badan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat di Lingkungan Universitas Riau

Lembaga Penelitian (Lemlit) Unri. Foto Aang AS.

BAB II soal Kedudukan dan Fungsi
Pasal 4
Nomor 4 dan 5; membuat laporan pertanggung jawaban pelaksanaan kegiatan dan laporan keuangan, sebagai bentuk pertanggung jawaban kepada Rektor. Untuk pusat melalu Ketua Lembaga dan Badan melalui Dekan.
BAB V soal Pembukaan dan Penutupan
Pasal 12
Nomor 3; Jenis dan jumlah badan adalah minimal satu badan dalam setiap jurusan (sesuai spesifikasi jurusannya) dan maksimal dua badan yang bersifat lintas jurusan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s