Tofik Tak Sekedar Berpolitik

Oleh Made Ali

SELAT PANJANG sambut mentari pagi, 11 Ramadhan 1431 Hijriah. Sepeda, motor dan becak motor hilir mudik di perempatan jalan Teuku Umar. Tiga kendaraan itu, jadi primadona masyarakat tempatan. Tak ada bus, apalagi angkutan kota alias oplet. Jarang ada mobil. Kalau pun ada, biasanya berplat merah. Itu pun bisa dihitung jari.

Motor bebek itu tiba di depan sekretariat partai Gerindra. Lepaskan helm. Ia masuk melalui jalan samping. Ia, M Tofikurrahman adalah Wakil Ketua DPRD Kepulauan Meranti periode 2009-2014.

Tak hanya ngurus politik tok. Ia ikut memajukan dunia pendidikan Selat Panjang. “S-1 saya pendidikan. Saya ingin ilmu saya tidak hilang. Dunia politik hanya sementara. Saya sadari betul,” kata Ketua Gerindra Selat Panjang itu.

Tofikurrahman Wakil Ketua DPRD Kepulauan Meranti. Foto Oleh Made Ali.

Sejak 1999, ia sudah terjun dalam dunia politik. Tiga kali bertukar partai—sebelumnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa. Gara-gara dunia politik ia tanggali status pegawai negeri.

SELAMA jadi anggota dewan perwakilan rakyat Bengkalis 2004-2009, Tofik tak hanya diam. Sebulan sekali, sekitar 45 alumni Universitas Riau (UR) kumpul di rumah Azmi Rojali Fatwa, kolega Tofik sesama anggota dewan Bengkalis. Tofik kerap diundang. Forum itu sudah lama dibentuk sebelum Tofik ikut bergabung. Diawali pengajian. Lalu mereka diskusi soal kondisi aktual Bengkalis.

Salah satunya, “Bengkalis kabupaten terkaya di Indonesia. Tapi tingkat kesejahteraan masyarakat tidak berbanding lurus dengan anggaran yang ada,” jelas Tofik. Pertemuan itu penuh makna. “Di situ tempat kami berekspresi. Kami curhat sama-sama.”

Tak sekedar diskusi. Tofik dan Azmi pernah gulirkan interpelasi. Interpelasi adalah hak bertanya khusus dimiliki anggota dewan. “Pertama interpelasi berhubungan dengan BUMD, kedua interpelasi jembatan Selat Baru hampir menelan dana rakyat Rp 100 miliar lebih. Sampai kini belum bisa difungsikan secara maksimal.”

Sikap kritis mereka menuai akibat. Azmi dipecat—pengganti antar waktu—dari Partai Demokrasi Kebangsaan pada 2009—kini Azmi gabung dengan PKS.

Tofik pun dipecat dari dewan. Lantaran dalam tubuh PKB, terjadi dwi fungsi kepemimpinan. Hasil putusan pengadilan memenangkan Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum PKB. Ia pro almarhum Gusdur. Ia suka pemikiran pluralisme Gusdur. “Saya rasakan ketika proses PAW digulirkan. Hari ini rekomendasi dari PKB pusat masuk ke Bupati Bengkalis, seminggu kemudian keluar surat PAW. Prosesnya cepat sekali.”

Ia tak stres. “Itu biasa saja dalam hidup saya. Sekecil apapun pilihan pasti berdampak bagi kita,” katanya. Atas saran kawan-kawannya, ia bergabung di Gerindra. Pada 2009, ia terpilih kembali sebagai anggota dewan Bengkalis periode kedua. Lantaran Kepulauan Meranti—pemekaran dari Bengkalis—membentuk kabupaten sendiri, ia jadi anggota dewan Kepulauan Meranti.

PADA OKTOBER 2004. Ia mendirikan Pondok Pesantren. Setahun kemudian mendirikan sekolah menengah umum Al Maarif. Saat ini, ia punya tiga pondok pesantren; Raudatul Quran, Al Muawanah, dan Darul Ulum. Ponpes tersebut terdiri dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). “Pendidikan itu aset. Bila tak lagi jadi anggota dewan kelak, saya mengabdi di dunia pendidikan.”

Ia juga kutu buku. Sejak kecil, ia rajin baca buku. “Dampaknya, mata kiri saya rabun,” katanya sambil menunjuk mata kirinya. Ia juga membuat lembaga riset kajian strategis Meranti.

Ia punya koleksi 800 jenis buku—koleksi terbanyak seputar buku bisnis. Dua tahun lalu, ia membuka pustaka taman bacaan rakyat bernama Ar Ridho di Alah Air. “Itu betul-betul modal dari saya,” katanya. Kini pustaka tersebut ia pindahkan ke rumahnya. “Saya ingin rubah pola pikir masyarakat dari buruh menjadi punya minat dunia usaha,” kata anak kelima dari sebelas bersaudara.

AWALNYA ia ingin jadi ilmuwan. Ia lahir di Alah Air, Selat Panjang, 25 Juli 1972. Sekolah dasar hingga menengah ia tamatkan di Selat Panjang. Semasa sekolah, minimal ia selalu raih juara tiga.

“Sebagai orang kampung berpikiran cari pendidikan murah. Ketika itu Unri murah,” kata Magister Ilmu Pemerintahan UR tahun 2008 itu. Meski murah, ia harus bersaing dengan sekitar 800 mahasiswa, sementara daya tampung hanya 50 kursi.

Pada 1992, ia lulus Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UR. Tak sekedar kuliah, ia aktif berorganisasi; Ketua Himpunan Mahasiswa Biologi, senat fakultas, legislatif fakultas dan pernah memimpin buletin Warta Biologi. Ia juga peraih beasiswa supersemar. Satu bulan kala itu Rp 48 ribu. Ia juga kerap ikut kegiatan pengajian.

Pada 1997. Ia tamat kuliah, berprediket sangat memuaskan. Ia jadi asisten dosen selama dua tahun di almamaternya. Ia coba ikut program beasiswa mahasiswa due project S-2. Ia gagal. Ia putuskan pulang kampung. Ia aktif di lembaga swadaya masyarakat (LSM). Ia juga pernah bekerja pada sebuah perusahaan di Batam.

PADA 2002, ia lulus pegawai negeri di Bengkalis. Ia bertugas di SMP 6 Sungai Tohor. Pikirannya mentok. “Tak banyak aktifitas yang bisa saya kerjakan selain mengajar di desa,” katanya. Apalagi, kala itu gaji guru minim. “Bayangkan waktu saya jadi pegawai negeri golongan tiga, hanya Rp 766 ribu sebulan, insentif Rp 300 ribu,” imbuhnya.

Melihat situasi itu ia bertekad perjuangkan nasib guru. “Latar belakang saya guru, ketika saya jadi guru hanya bisa bela kaum yang lingkupnya tidak terlalu banyak. Ketika saya terjun sebagai anggota dewan, saya bagian pengambil keputusan. Kita ingin mewarnai. Ketika jadi anggota dewan perjuangan kita lebih luas. Kita bisa perjuangkan nasib guru.”

Ia mengundurkan diri delapan bulan kemudian. Penyebabnya, ia aktif di partai politik. Salah seorang pegawai negeri melapor pada atasannya. Istri dan kedua orang tuanya merestui. “Tanggal 27 Agustus 2003, saya mengundurkan diri dari pegawai negeri,” katanya.

Sejak saat itu, tekad jadi anggota dewan kian kuat. Ia sholat Istikharoh. Ia bermimpi, sholat di padang pasir. Usai sholat, seorang ulama, mencium tangannya. Ia resah. Ia kira ajal segera menjemput. Ia bertanya pada ulama-ulama. Kata ulama, ia bakal jadi orang besar. “Sholat padang pasir sebagai jawaban setelah beberapa kali Istikharoh.”

Ia juga terjun ke masyarakat, melakukan advokasi terhadap masalah kemasyarakatan, pemutusan hubungan kerja dan lingkungan hidup.

Ia kembali ke kampung halaman. Apalagi selama menjadi ketua Badan Perwakilan Desa di desa Alah Air, masyarakat memintanya menjadi anggota dewan. Tanpa modal politik—ketenaran dan uang yang berlimpah—ia beranikan diri ikut bertarung anggota legislatif pada 2004 melalui PKB. Ia  terpilih. Hampir 70 persen atau 2.300 lebih pemilih berasal dari desa Alah Air memilihnya.

“Saya punya ‘hutang’ politik pada masyarakat yang memilih saya. Saya harus bayar ‘hutang’ tersebut,” kata mantan Calon Wakil Bupati Kepulauan Meranti itu.

Artinya, masih ada waktu empat tahun mengembalikan ‘hutang’ rakyat tersebut. “Kita tunggu saja,” kata penyuka olahraga tenis meja itu. ***

One response to “Tofik Tak Sekedar Berpolitik

  1. SEMANGAT TERUS MAS TOFIQ…SUDAH SAATNYA YANG MUDA PENENTU NEGERI INI….SELAMAT BERJUANG DAN MERAIH CITA-CITANYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s