Alberthiene Endah: Menulis Urusan Hati

Alberthiene Endah. Foto Oleh Made Ali.

MENULIS itu mengasyikkan. Menulis itu menghasilkan. “Menulis itu  mengasah panca indera kita. Asal mau memulai.” Begitulah kata wanita berambut sebahu kelahiran Bandung 16 September. Alberthiene Endah memulai karir menulis pada 1993 di majalah Hidup. Pada 1994-2004, redaktur pelaksana majalah Femina. Pimpinan Redaksi majalah Prodo pada 2004-2009, merupakan puncak karirnya sebagai wartawati.

Dia juga novelis. Bila namanya belakangan tenar dia kerap menulis biografi, terutama artis. Biografi Probo Sutedjo, dan Ani Yudhoyono juga pernah dia tulis. Semua buku biografi yang dia gores dengan dawat, adalah orang tenar di mata publik.

Usai check in di Bandara Sultan Syarif Qasim, satu jam sebelum terbang ke Jakarta siang itu akhir Juni lalu,  Made Ali dan Aang Ananda Suherman sempat wawancara wanita yang ingin mendirikan sekolah menulis untuk remaja itu di sebuah restoran.

Kenapa buku biografi anda selalu orang terkenal?
Saya buat biografi orang yang sudah diketahui masyarakat. Bisa narapidana, bisa berlatar belakang profesi berbeda, bisa orang sedang jatuh, bisa yang sedang di atas. Luna Maya kemarin manggil aku untuk buatkan biografinya. Kalau konglomerat, aku harus lihat dia pernah jatuh bangun gak, dia pernah berada di titik nol gak. Kalau dia dari lahir sudah tidur di ranjang emas, udah gak jadi contoh, ya gak usah dibikinin, yang lain aja.
Intinya bukan siapa dia, tapi apa yang dia miliki untuk dibagi. Walaupun dia seorang konglomerat yang terkenal gitu, tapi tak ada contoh baik atau pengalaman yang bisa dishare ke orang, aku gak mau.

Kalau biografi Probo Sutedjo (salah satu orang dekat eks presiden Soeharto), apa kriteria anda?
Oh sangat jelas. Dia mengalami masa peperangan tahun 1949. Dia juga ikut berjuang angkat senjata sampai masuk ke parit yang berisi kotoran manusia. Kalau Pak Harto berjuang dia atas. Dia di got-gotnya. Beliau anak petani yang sederhana, yang memiliki idealisme, bagaimana membangun negara itu dari sesuatu yang paling murni yakni pertanian. Itu yang dia bawa dengan Pak Harto.
Nah sesuatu yang gua angkat dari buku Probo, sebagai dia saudara Pak Harto, dia menyaksikan detik demi detik bagaimana kakaknya memiliki prinsip-prinsip membangun negara.

Kalau biografi Krisdayanti (KD)?
Memang banyak yang protes, setelah saya launching buku KD, lalu ia selingkuh dan cerai. Kok AE (sapaan Alberthiene Endah) menulis buku yang melukiskan bagaimana KD begitu bijaknya. Sekarang gini deh, hari ini kita launching buku yang baik tentang kita aja, besok kita ketemu orang buruk yang mempengaruhi kita dan kita bisa jadi orang lain. Jadi kalau mereka cerai, jangan salahkan bukunya kalau mereka cerai, apa artinya buku.

Dalam menulis biografi, ada metode khusus?
Gak, sebenarnya saya diuntungkan jadi wartawan di Femina, sepuluh tahun di Femina, dan lima tahun mimpin majalah itu. Pengalaman saya itu yang mengubah saya. Saya ketemu Jenifer Lopez, Xanana Gusmao di penjara, siapa aja.

Punya pengalaman berkesan dalam wawancara?
Saya pernah wawancara dalam kondisi beraneka ragam. Seorang ibu yang anaknya digorok paginya, sorenya saya wawancara. Masih bagus saya gak ditampol suruh pulang.Pada dasarnya, menulis biografi urusan hati. Ketika orang itu sudah nyaman dengan kita, dia pasti pengen cerita sama kita, dan tak perlu digali. Sebenarnya ini kerjaan mirip psikiater.

Jadi?
Kalau dia tak memiliki kecakapan untuk memahami jiwa orang lain, sulit. Jatuh tulisannya akan garing. Banyak biografi dikerjakan sebuah tim. Lu wawancara bagian susahnya, lu bagian kecil, lu pas dia sukses, trus di compare, itu tak ada nyawanya.
Gua punya tim, tapi mereka hanya mencari data. Tapi wawancara dengan orang yang mau dibuatkan biografinya harus sama gua. Tim hanya mencari data. Menulis harus gua. Karena nafasnya ada di kita.

Bagaimana anda menyosokkan seseorang?
Apa adanya dia, saya mengambil dari dia. Orang yang paling mengenali diri kita, yang diri kita sendiri. Itu kenapa buku biografi yang saya tulis itu ber-saya-saya.

Bagaimana anda menggali kejujuran narasumber?
Tiap orang itu tak ada yang suka tertutup, itu aku percaya, tak ada yang suka boong, karena tertutup itu gak enak.Misal KD, dia kan cerita dia makai narkoba, operasi plastik dia bongkar semua.
Saya bilang pada KD, bahwa suatu saat cerita kamu itu akan jadi berkah kalau itu bisa merubah orang. Bahwa orang lain bisa melihat narkoba itu menimbulkan dampak buruk. Ibaratnya kamu merelakan hal terburuk dalam diri kamu untuk kebaikan orang. Itu kenaikan kelas dalam hidup menurut aku, daripada kamu menyembunyikannya, Tuhan juga tahu kok.

Bagaimana anda melakukan verifikasi?
Saya selalu melakukan cek dan ricek, jelas. Dalam setiap cerita jantungnya mereka, tapi aliran darahnya selalu saya cari. Bahkan saya dapet temen manjat pohonya Ibu Ani. Yang selalu saya cek dan ricek adalah kebenaran fakta.
Tapi untuk cara pandang, saya tidak mau tanya sama orang. Bu Ani memandang bahwa pada satu momen itu menggembirakan, orang lain tidak boleh mengedit itu, karena itu perasaan Bu Ani. Ingat ini buku biografi, buku tentang seseorang. Orang itu yang harus jadi jantungnya.

Sisi kehidupan mana yang menarik bagi anda?
Ketika dia sulit. Saya selalu meluangkan banyak waktu menggali ketika dia sulit. Karena itu masa-masa emas seseorang. Misal Ibu Ani. Saya cerita paling banyak dia pindah dari asrama militer ke asrama militer. Dia menikah dangan SBY saat gajinya 50 ribu, 55 ribu. Soal dia dikirim ke Timor-Timor ketika perang. Itu yang saya banyak cerita. Kalau sudah jadi Ibu Negara sedikit.

Berapa lama pengerjaan sebuah buku?
Saya riset berbarengan dengan wawancara. Kalau buku yang perfect itu sebenarnya enam bulan. Tiga bulan wawancara, sebulan menulis, sisanya dua bulan untuk cek dan ricek naskah.
Tapi buku Ram Punjabi, Ibu Ani pengerjaanya setahun, itu yang paling lama. Mereka berdua susah menjadwalkan waktu wawancara intensif.
Saya penulis cepat. Kalimat yang saya buat detik ini adalah kalimat terbaik dalam pikiran saya. Saya tidak akan pernah bisa menulis dengan metoda, menulis dulu deh nanti diedit lagi, itu gak bisa.
Ada orang bilang saya adalah penulis otentik, jadi dia hanya bisa menuliskan kalimat yang menurut dia sudah bagus. Maka itu saya kalau computer rusak saya marah- marah. Menulis itu adalah pekerjaan otentik dan sangat detail dan sangat agung, seperti seorang perancang merenda, payet demi payet, begitu juga penulis. Dia merangkai kata demi kata, dan tidak boleh satu kata pun yang dianggap tidak penting.

Ada buku yang paling berkesan bagi anda?
Buku biografi Chrisye. Saya kan menulis soal The Last World of Chrisye, itu bercerita satu tahun sebelum dia meninggal. Aku cerita degradasi perasaan dia mulai dari ketakutan, sampai dia marah sama Tuhan. Bukan marah ya, tapi dia protes kenapa ini terjadi pada saya.

Kapan saat sulit bagi anda dalam proses pembuatan biografi?
Saat narasumber menutupi hal-hal yang sebetulnya sudah diketahui khalayak, dan itu sebetulnya perlu diketahui  orang banyak. Karena gini, apalagi biografi, kalau terlalu banyak menutupi terutama hal buruk dan orang sudah tahu, beban banget. Karena saya yakin bahwa seorang Ariel pun, anggaplah kesalahannya 99 persen, pasti satu persen dia pernah melakukan hal baik dalam hidupnya.
Saya ingin menyadarkan orang tiap manusia di dunia ini memiliki sel-sel kebenaran. Itu prinsip saya. Dan cerita dia kenapa tergelincir itu yang saya gali.

Apa beda biografi selebritis dan tokoh politik?
Jauh bedanya. Karena pasti tiap orang itu punya momen-momen yang mengesankan bagi dia. Gak usah artis gak usah siapa. Yang bisa membedakan itu ritme hidup. Artis itu fluktuatif tinggi, dia hidup dalam sorotan, dan mereka tak punya privasi, nyaris. Itu aja bedanya. Gak ada yang lain kok. Saya wawancara Titik Puspa, Chrisye, Probo, intinya kita bercerita tentang manusia.

Apa motivasi anda untuk penulis pemula?
Lakukan sesuatu. Masalahnya mereka tidak ada semangat untuk memulai. Menulis itu mengasyikkan, menulis itu menghasilkan. Menulis itu mengasah panca indera kita. Mahasiswa lama skripsinya bukan karena bodoh, tapi tak pandai menulis. Menulis itu kombinasi antara kepandaian wawasan kita, kekayaan wawasan kita, kedalaman rasa batin kita, dan kekayaan kosakata. Makanya tulisan kering, walau orangnya pinter.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s