Pelangiku

Oleh Endang Winarni

Endang Winarni, mahasiswa Budidaya Perairan '07.

Perjalanan masih panjang. Kita tak boleh berhenti di sini. Waktu terus berjalan. Kita harus melanjutkan hidup. Untuk menikmati pelangi yang datang dan pergi dalam sekejap.

 

 

KALIMAT ini kudapat dari sahabatku saat ia coba bangkitkan aku dari mimpi burukku. Mimpi burukku berawal ketika aku mengenal Panca. Aku terima ia sebagai kekasihku tanpa rasa cinta hingga aku mengantarkannya ke alam berbeda.

Aroma tanah dan bunga menemani Caeci yang belum juga beranjak dari tempatnya, di depan sebuah gundukan tanah basah bertabur bunga, masih menatap batu nisan bertuliskan  “Panca. Lahir 20 Maret 1986. Wafat 27 September 2004”.

Ah! Ini bukan salahku. Kenapa aku yang mesti merasa bersalah? Semua orang memang mengatakannya padaku. Semua orang bilang kalau kamu merangkul gadis lain di depan umum. Lalu, apa aku salah bila kukatakan Sangkut Riang adalah salah satu orang yang mengatakannya. Maaf, bila aku tak punya nyali melerai pertengkaran kamu dan Sangkut. Maaf, bila aku terlalu pengecut.

Aku memang perempuan pengecut, yang cuma bisa terdiam di sudut taman melihat kekacauan yang terjadi. Begitu pula ketika Sangkut meraih batu bata di tanah, aku hanya mampu terpaku di sudut. Aku penyebab batu bata itu terlempar ke kepalamu ketika pertengkaran itu terjadi. Aku penyebabnya. Tapi semua sudah terlambat. Batu bata itu telah mengakhiri hidupmu. Tapi tidak dengan cintaku. Tunggu aku di sana kasih…

Sebuah sentuhan lembut di bahu menyadarkanku dari lamunan.

“Kita pulang sayang, sudah hampir gelap.”

“Iya, Ma,” jawabku.

“Hisar, ini mamanya Caeci! Caeci gak keluar-keluar dari kamar sejak tadi pagi. Tante bingung, mana Papanya Caeci lagi di Singapura lagi! Kamu tolong datang ke rumah dong Sar, cepetan ya!”

Mama Caeci sangat panik ketika menghubungi Hisar, sahabat kental Caeci dan Panca. Tak berapa lama, Hisar datang dengan Xenia-nya.

“Ada apa dengan Caeci, Tante?”

“Ini Sar…”

“Caeci, pintunya aku dobrak ya? Kamu jangan di belakang pintu. Caeci, kamu dengar aku?” Hisar berkata dengan nada panik, tapi tak ada jawaban. Mama Caeci menangis karena khawatir.

“Caeci…”

Suara siapa ini? Sangat menyejukkan hati. Apa aku sudah di surga, dan ini suara malaikat? Baygon itu pasti bisa merenggut nyawaku dalam sekejap.

“Mama?”

“Iya sayang, kamu sudah sadar?”

Mama berkata lembut mengusap keningku. Kulihat sekililingku, Mama, Papa, Hisar.

“Papa langsung datang dari Singapura mendengar kamu dirawat di rumah sakit. Papa khawatir. Papa sangat berterima kasih dengan Hisar.”

“Ah, gak apa-apa Om. Caeci kan temen saya.”

Aku coba duduk di tempat tidurku. Hisar membantuku. Tiba-tiba tangisku meledak. Sahabat kekasihku mendekapku erat.

“Panca…” bisikku di dadanya.

“Sebelum pergi, Panca menitipkanmu padaku. Katanya, aku harus jaga baik-baik perinya yang akan selalu ada di hatinya.”

“Hisar, temani aku disini… Temani aku… Karena pelangiku sekarang sudah berlalu,” kataku sambil terisak.

“Ayolah Caeci, tak ada pelangi yang abadi. Nikmati saja hidup ini dan nikmati keindahan pelangi-pelangi yang datang dan pergi dalam sekejap. Ini bukan salahmu. Dia memang bukan pria yang baik. Dia selingkuh, meskipun mencintaimu. Cinta bukan segalanya, Caeci. Doakan saja dia agar mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan. Hapus air matamu, Caeci. Perjalanan hidup kita masih panjang. Kita tak boleh berhenti di sini karena waktu terus berjalan.”

Aku menengadahkan wajahku, menatap Hisar. Perlahan ia hapus air mata di pipiku. Lama kami terdiam.

“Maafkan aku, Caeci,” katanya memecah keheningan. “Aku tak bisa menemanimu lebih lama. Aku harus berangkat. Ayahku mengirim aku ke Amerika, melanjutkan sekolah di sana.”

Aku begitu pedih kehilangan Panca, sekarang aku harus kehilangan sahabat.

“Oh ya, hari ini Caeci sudah bisa langsung pulang, kan Om?” tiba-tiba Hisar bertanya pada papaku dengan nada seriang mungkin. Padahal aku tahu hatinya pun pedih mengucap kalimat perpisahan tadi. Aku dapat merasakannya.

“Oke!” jawab papa sumringah.

“Caeci, telah lama aku menganggapmu sebagai salah satu yang spesial meski tak ada artinya bagimu. Aku bukanlah orang yang tertarik dengan cinta. Cinta masuk, tak dapat dihindari, dan harus dirasakan, karena itu bagian dari hidup. Hidup akan selalu jadi misteri. Aku tunggu jawabmu selama aku masih hidup.”

Aku terdiam mendengar pengakuan Hisar. Aku pun mencintainya sebelum Panca memilikiku dan aku masih mencintainya hingga saat ini. Benarkah dia menganggapku sebagai salah satu yang spesial? Benarkah dia juga mencintaiku?

“Hisar, aku hanya manusia biasa. Tapi percayalah, aku pun akan mengasihimu.”

Hisar meninggalkanku sendiri. Sampai di Amerika, dia menghubungiku. Dia bilang, “Someday there’ll be a new world. A world of shining hope for you and me.” Rawatlah perasaan cintamu sampai kelak berguna untuk kita.”

Ternyata itu kalimat terakhir yang ia katakan padaku. Sejak saat itu, ia tak pernah lagi menghubungiku.

Mungkin Hisar sudah melupakan aku. Ah! Sudahlah. Aku harus melanjutkan hidupku, meski tanpa Panca, tanpa Hisar. Perjalanan masih panjang. Kita tak boleh berhenti di sini. Waktu terus berjalan. Kita harus melanjutkan hidup. Untuk menikmati pelangi yang datang dan pergi dalam sekejap.

Thanks Sar, telah hadir dalam hidupku meski sejenak. Kamu sudah membuka mata hatiku tentang makna kehidupan hingga aku dapat menikmati kembali hidupku. ***



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s