Menziarahi Cut Nyak Dien

Basilius Triharyanto, Wartawan Pantau Jakarta.

MINGGU PAGI, 16 Maret 2008, pukul 06.30. Saya menapaki tangga pemakaman keluarga Pangeran Sumedang, Pangeran Soeria Koesoemaadmaja, dan keluarga ulama besar Haji Sanusi. Lebar tangga itu sekitar dua meter, terbuat dari batu sungai. Jalan menuju makam itu agak mendaki sejauh lebih kurang 500 meter.

Sejumlah tukang bangunan kelihatan tengah memugar makam. Di kanan-kiri jalan ditumbuhi perdu. Dua papan petunjuk bertuliskan “Makam Tjut Nyak Dhien” tegak di masing-masing sisi jalan. Di tepi kiri jalan mencuat sebuah papan nama berukuran kecil yang disangga batang besi. Lalu, di kanan jalan terpasang papan nama yang terpaku pada sebatang pohon, tepat di bawah panah petunjuk ada identitas makam keluarga Pangeran Soeria Koesoemaadmaja. Sekitar lima meter dari situ ada makam ibunda Mohammad Hatta, proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Siti Saleha. Ia wafat di Sumedang pada 13 April 1959 di usia 78 tahun. Pada 1950-an, Siti Saleha datang menjenguk salah seorang anaknya yang bertugas sebagai dokter di Sumedang dan akhirnya, ia tutup usia di kota ini.

Setelah melewati papan petunjuk itu, anak tangga mulai menurun hingga saya tiba di depan gerbang makam Cut Nyak Dien, yang letaknya tepat di kaki gunung Puyuh.

Cut Nyak Dien memimpin perlawanan terhadap penjajahan Belanda setelah suaminya Teuku Umar ditembak pada 11 Februari 1899. Ia memimpin perang gerilya didampingi pengawalnya Pang Laot, yang kemudian menyerah kepada Belanda pada 6 November 1905. Setelah Pang Laot menyerah, Cut Nyak pun ditangkap. Cut Nyak kemudian dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, karena Belanda khawatir pengaruhnya akan membuat orang-orang Aceh tetap berani melawan. Ia di Sumedang pada 1908.

PINTU gerbang besi itu terkunci. Di kiri pintu dipasang bel untuk memanggil juru kunci makam.
Makam ini dinaungi kubah dengan model rumah adat Aceh, setinggi kurang lebih 1,5 meter. Pada atapnya tergantung lampu listrik 10 watt. Di sebelah kiri makam tampak sawah menghampar dengan padi menghijau. Gemericik air sungai Cipicung memecah kesunyian di sekitar makam yang dikelilingi pepohonan tua dan tinggi.

Inilah ziarah pertama saya ke makam Cut Nyak Dien, yang usianya di bulan November 2008 ini genap 100 tahun. Seorang juru kunci, atau kuncen, bernama Nana Sukmana menyambut saya dengan ramah.

Menurut Nana, pada 6 November 1905 Cut Nyak Dien diasingkan ke Sumedang disertai dua pengawal. Satu pengawalnya sampai sekarang belum ditemukan makamnya. Pengawalnya yang lain adalah anak laki-laki berusia 15 tahun, bernama Teuku Nanna.

“Kegiatan Cut Nyak Dien (semasa hidup di Sumedang) itu mengaji. Ia sudah hapal (Alquran) di luar kepala, sehingga ia cepat dikenal oleh ulama-ulama, terutama pemilik tanah ini, sampai wafat. (Ia) dimakamkan di tanah Haji Sanusi dan Hajah Husna, putrinya Haji Sanusi,” kata Nana.

TAHUN 2000, Henry Dunant Center mulai menggagas dan memfasilitasi proses dialog antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dialog itu bertujuan mencari kesepakatan jalan damai bagi penyelesaian konflik Aceh. Pada tahun itu, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono berziarah ke makam Cut Nyak Dien, memohon restu pada pahlawan Aceh itu.

Di kala Aceh sedang bergejolak banyak tentara dan polisi berziarah ke makam ini.

“Tentara yang berziarah ada dari Bataliyon Siliwangi, sebelum berangkat ke Aceh. Satu bataliyon, kadang-kadang semua anggota, dari Danyon, Danton, Danru, Danki. Mereka pakai seragam militer,” kisah Nana.

“Ada dari Brimob juga. Malah mereka minta foto di makam, supaya gampang melakukan pendekatan dengan orang Aceh di sana,” kata Nana, mengutip perkataan seorang tentara.

Beberapa bulan menjelang Perjanjian Helsinki ditandatangani pada Agustus 2005, para anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih melakukan kunjungan ke makam.

Pada 29 Juli 2005, ada dua rombongan tentara yang berziarah di jam yang berbeda. Rombongan pertama terdiri dari empat orang dari Markas Komando Daerah Militer Iskandar Muda, Banda Aceh, yang dipimpin oleh Mayor Jenderal TNI Supiadin Adi Saputra. Kelompok kedua dari Satpal Satgas Banioin-4 yang dipimpin oleh Letkol Cpl. Agus Trisunu. Itulah yang tertulis di buku tamu. Rombongan ini berjumlah 123 orang.

Sebulan sebelumnya 17 orang dari Yonif 312 Subang juga berziarah. Kemudian, ada 41 anggota Yonif 301/PKS Sumedang, yang dipimpin oleh Letkol Inf. Urip W dan Kapten Inf. Andy C. Pada 30 Mei 2005, peziarah datang dari Sesko TNI beserta para perwira siswa manca negara yang mengikuti pendidikan di Sesko TNI AD, Sesko TNI AU, dan Sespri Polri, sebanyak 30 perwira.

Menurut Nana, para peziarah tak hanya tentara Indonesia, tapi juga para gerilyawan GAM.

“Ada sekitar 15 orang GAM datang ke sini,” kata Nana. “Mereka bertanya ke saya, tanya sejarah Cut Nyak Dien, mengapa sampai ke Sumedang. Mereka tidak terlalu banyak bicara. Mukanya sangar-sangar, kulitnya kehitam-hitaman, ganteng-ganteng,” kata Nana lagi.

“15 anggota GAM itu orang muda semua,” ujar Nana, menambahkan.

Kira-kira tahun 2002, tiga bus yang membawa sekitar 100 orang GAM yang ditahan di Jakarta berziarah ke makam. Mereka dalam pengawalan ketat anggota TNI.

“Mereka menangis di sini,” kisah Nana.

“Mereka banyak yang nangis, menangisnya kuat, terdengar dari jauh. Karena satu menangis, terharu, kita nangis, terbawa arus,” katanya.

Selain rombongan itu, ada kelompok gerilyawan GAM lainnya yang berziarah, tanpa ia kenali peziarah itu sebagai orang GAM. Ia baru tahu belakangan. Dan ia agak bingung saat sejumlah aparat intelijen mendatangi makam Cut Nyak Dien berkali-kali setelah kunjungan orang GAM tersebut.

Nana berulang kali ditanyai intelijen mengenai orang-orang GAM itu.

“Bapak tahu ini GAM? Saya tidak tahu. Selama ini kamu kemana saja? Saya selama ini di sini, tidak kemana-mana. Bapak tahu, yang datang itu orang-orang GAM? Saya tidak tahu yang datang itu GAM.” Nana mengisahkan ulang adegan tanya-jawabnya dengan aparat intelijen tersebut.

“Dua, dua, tiga, intel datang bergilir, secara bertahap,” katanya.

“Buku tamu diambil intel, lalu dilingkari satu-satu namanya. Dicatat, lalu disalin.

“Bukunya dikembalikan lagi,” kata Nana, sambil tertawa terkekeh-kekeh saat menceritakan pengalaman itu.

Saya ingin tahu nama-nama orang GAM yang ditandai intelijen itu, tapi buku tamu yang dimaksud sudah tak ada. Nana juga tak mengetahui keberadaan buku itu.

Jumlah peziarah mencapai ribuan orang. Jumlah peziarah terbanyak pada tahun 2005, lebih dari seribu orang. Jumlah itu menurun pada tahun berikutnya, sekitar 500 orang, begitu pula di tahun 2007. Sebagian besar peziarah berasal dari Aceh dan orang Aceh di Jakarta, Bandung, dan sekitarnya. Ada juga pejabat, pelajar, mahasiswa dari luar Aceh, seperti Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Sumedang. Sedang orang asing yang berkunjung berasal dari Malaysia, Swiss, Belanda, dan Korea.

Dua orang Aceh yang datang dari Lhok Nga, Aceh Besar, Sabri dan Syahrul, menggoreskan kebanggaannya berziarah di makam ini dalam bahasa Aceh: “Alhamdulillah kamoe nyoe katroeh bak tempat moyang yang kamoe dambakaen, muliakan, kamoe han mephetuwo sejarah awak droen sampai nafas kamoe geu top lee pho rabbana.”

Pada 16 November 2005, Tengku Azwir Nazar dari Lambada Lhok, Aceh Besar, menorehkan kesannya: “Syahidmu adalah darah kami yang masih mengalir. Aceh Mulia!!!”

Di tahun baru 2006, orang yang berperan penting dalam menjaga perdamaian Aceh berziarah ke makam Cut Nyak Dien. Ia adalah Pieter Feith, ketua Aceh Monitoring Mission (AMM). Ia menggoreskan kesannya: “As Head of Mission, AMM, I was very honored having visited the grave of Cut Nyak Dien, Hero of Aceh.”

DI MAKAM itu di bulan Juni 2007, seorang lelaki berperawakan tinggi, kurus, dan bermata cekung, duduk bersujud. Ia baru beberapa hari tinggal di Sumedang, setelah berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain di Jakarta.

Firdaus Nurdin menemukan kekuatan untuk bertahan dalam perantauan usai berziarah.

“Bangkit untuk berjuang terus ada,” kata Firdaus kepada saya.

“Datang ke sini (makam) jiwa berani keluar,” lanjutnya.

Menurut Firdaus, Cut Nyak Dien berbeda dengan pahlawan-pahlawan wanita lainnya.

“Ia berjuang angkat senjata, rencong, melawan Belanda,” kata Firdaus. “Kartini sendiri berjuang di belakang meja, menulis,” lanjutnya.

“Saya hampir setiap minggu ke makam. Ketika lagi ingat kampung halaman, dan teringat orang tua,” ujar Firdaus. “Kalau sudah di sini jadi tenang,” katanya lagi.

Muhammad Yusuf, kawan Firdaus, saat pertama kali menginjakkan kaki di Sumedang, langsung berziarah ke makam Cut Nyak Dien. Di makam ia membaca Hikajat Prang Sabi. Hikayat ini ditulis oleh Tengku Chik Pante Kulu, seorang pujangga Aceh di masa lalu. Isinya membangkitkan semangat orang untuk berperang.

“Saat hikayat kita baca, semangat kita naik untuk berperang,” kata Yusuf.

“Belanda dilawan. Kenapa dengan Jawa tidak bisa,” lanjutnya lagi.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s