Pekanbaru Kota Melayu?

Oleh Mardianto Manan

Mardianto Manan, konsen di bidang tata perkotaan.

PUJI syukur kemajuan negeri Melayu sudah mulai diperhatikan. Terbukti bendera kemelayuan mulai dirancang dan dipancang, walau baru berupa visi yang berpayungkan budaya Melayu. Karena itu pula dengan rasa optimis kita pancangkan negeri ini sebagai pusat kekuatan budaya Melayu di Asia Tenggara tahun 2020 nanti. Hanya 10 tahun lagi. Waktu yang amat pendek untuk dijalani. Tak terasa hentakan visi Riau sudah dicanangkan sejak sepuluh tahun lalu. Saya rasa sudah saatnya kita evaluasi apakah visi tersebut sudah tecapai atau bahkan belum sama sakali.

Dapatkah kita realisasikan Visi Riau? Sementara Propinsi Riau hanya bagian Negara Republik Indonesia, sedangkan yang akan dijalani adalah menjadi pusat dalam konteks se-Asia Tenggara. Mungkinkah ini hanya fatamorgana di kejauhan, namun sulit untuk diraba.

Jika ditinjau dari segi konsep, pengertian visi itu dapat diterjemahkan sebagai suatu keadaan ideal pada masa depan yang ingin diwujudkan oleh seluruh komponen organisasi. Sesuatu yang merupakan segalanya, tak pernah berakhir, tak berbatas waktu dan tak terukur, penuh imajinatif, emosional, bergairah, dan inspiratif.

Sedangkan peran dan fungsinya sebagai pandangan hidup kita semua—masyarakat Riau. Dengan memandang masa depan yang hendak kita wujudkan itu, jiwa kita akan hidup. Ini berpedoman pada keadaan ideal yang ingin diwujudkan bersama.

Kota Melayu
Menyikapi visi tersebut, perlu kebersamaan dalam mewujudkannya. Tanpa itu mustahil adanya. Mengapa? Karena Visi Riau 2020 merupakan visi propinsi, cita-cita Propinsi Riau.

Untuk itu, mau tidak mau, semua perencanaan di daerah kabupaten dan kota wajib mengacu pada Visi Riau 2020. Namun propinsi juga perlu menfasilitasi pencapaian materinya, buatkan standarnya. Apakah baku atau elastis, tergantung kabupaten atau kota yang melaksanakan. Mengapa begitu? Karena Propinsi Riau bukan propinsi dengan budaya homogen, seperti Sumatera Barat atau Jogjakarta. Kita terdiri dari adat dan budaya yang sangat heterogen, dalam naungan budaya melayu tempatan.

Budaya Kuansing, Tembilahan, akan jauh berbeda dengan budaya Pelalawan. Budaya Kampar akan amat beda dengan budaya Siak. Apakah dari pola perkawinan, garis keturunan, maupun para pemegang negeri dalam konteks adat setempat. Akan berbeda lagi bila ditinjau dari bentuk bangunan, baik tampak luar maupun interior rumah.

Untuk itu, pemerintah propinsi perlu menjembatani kesamaan dan perbedaan ini sehingga nantinya akan ada tuntunan budaya yang menjadi kompas seluruh aktifitas pembangunan di negeri Melayu ini. Dengan begitu pancang yang sudah dihujam ke Bumi Lancang Kuning dapat tegak berdiri betul. Alhasil nantinya di atas pancang akan dihiasi ornamen kemelayuan yang berkharismatik di mata orang luar. Semua silahkan berbeda, namun tetap dalam konteks kemelayuan Propinsi Riau, tak keluar dari koridor yang sudah disepakati bersama.

Pertanyaannya saat ini, apakah visi kota Pekanbaru sudah mencerminkan visi Propinsi tersebut? Apakah sudah sesuai dengan visi pembangunan kota yang kita garap selama ini? Jangan-jangan baru sebatas konsep. Sebaiknya dari sekarang kita evaluasi sehingga koridor pembangunan yang sudah kita lalui benar-benar sesuai dengan cita dan mimpi kita.

Akibat pembangunan kota yang tak bervisi, para penjabat kita seakan bermusuhan dengan karakter kota ini. Asal bangunan sudah mulai menua, harus dibantai. Maka terbentuklah bangunan yang tak berkarakter dan amat berbeda dengan visi kita. Pusat budaya melayu sementara bangunan khas melayunya kita hancurkan. Contohnya Stadion Hangtuah diruntuhkan, Kaca Mayang dibiarkan sampai halal untuk dijual ke investor, Dang Merdu dihancurkan.

Akhirnya kota kita nanti bakal berkembang menjadi serba tanggung. Entah ke mana arahnya. Jika mau kita duduk semeja bersama-sama, mengevaluasi diri, kemudian melakukan kilas balik lagi perihal visi dan misi kita sepuluh tahun lalu, saya yakin kita semua tertawa terbahak-bahak melihat janji visi kita.

Jika kita perhatikan tata ruang di kota ini, pasti tak akan kelihatan. Rencana tata ruang adalah barang mewah di kota ini. Di sinilah dibutuhkan kearifan kita semua. Yang tua dengan kebijaksanaannya, yang muda dengan energi prima mudanya. Mari kita kelola dengan baik. Ibarat pepatah, si buta berguna untuk meniup lesung, si pekak berguna untuk membunyikan bedil, si lumpuh untuk menunggu rumah.

Jangan pula saling menjegal satu dan lainnya demi kemajuan diri sendiri. Kita bangun kota ini dengan kebersamaan. Tak ada satu orang pun yang berjasa, karena kota kita adalah pusatnya jasa di Asia Tenggara. Semogalah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s