Setelah Rel Kereta Api Dibuat

Oleh Muhammad Hasbi

IA diam tak bergerak. Lebih lima puluh tahun berada di sana. Kondisinya kini memprihatinkan. Sebagian kepala telah terpotong. Bagian tubuh lain sudah lenyap. Panjangnya sekitar enam meter. Bagian kepala yang masih ada seluruhnya tertutupi lapisan karat, selalu kena hujan dan terjemur panas matahari.
Ia sebuah lokomotif, kepala kereta api. Ia teronggok di tengah kebun karet milik Hamzah warga Desa Lipat Kain, Kampar Kiri, Riau. Dari Kota Pekanbaru, Lipat Kain bisa ditempuh dalam 2 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Butuh 1,5 jam perjalanan lagi untuk sampai ke lokasi kepala lokomotif. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari Simpang Lokomotif Desa Lipat Kain.
Jalur menuju kepala lokomotif tak beraspal. Jalannya penuh batu dan debu. Lokasi kepala lokomotif di dekat kebun, teronggok layaknya besi rongsokan, tak ada perawatan. Ia dikelilingi semak belukar, tanaman sawit dan karet.

Sumatera Railway Map

Sumatera Railway Map

PEMBANGUNAN rel kereta api pertama kali dicetuskan saat pemerintahan Belanda. Kala itu, diharapkan kereta api jadi transportasi pengangkutan beras dan batu bara. Kereta api dipandang bisa menjadi penghubung Pantai Timur dan Pantai Barat Pulau Sumatera, mulai dari Muaro Sijunjung, Sumatera Barat ke Pekanbaru, Riau. Ia melewati Desa Lipat Kain. Kepala lokomotif di Lipat Kain merupakan salah satu situs peninggalannya.
Portal berita riaudailyphoto.com dan tjahtjonorailway.blogspot.com mence-ritakan soal pembangunan rel kereta api Muaro Sijunjung-Pekanbaru.
Banyak kendala dalam pembuatan rel kereta api, kondisi alam Sumatera Barat banyak gunung, hutan dan sungai. Menimbang hal tersebut, pemerintahan Belanda tak jadi membuat rel kereta api. Rancangan pembangunannya tersimpan dalam arsip Nederlands-indische staatsspoorwegen  (Perusahaan Negara Kereta Api Hindia Belanda).
Pembangunan rel kereta api baru terealisasi saat pemerintahan Jepang tahun 1942. Meski rencana pembangunannya sama, Muaro Sijunjung-Pekanbaru, tapi tujuan Jepang berbeda. Rel kereta api tersebut hendak dijadikan jalur transportasi tentara Jepang guna menghindari serangan musuh di perairan Samudera Hindia.
Jepang mengandalkan ribuan Romusha (pekerja paksa) untuk buat rel kereta api, paling banyak didatangkan dari Pulau Jawa.
Buku Tragedi Pembangunan Rel Kereta Api: Muara Sijunjung–Pekanbaru 1943-1945 yang ditulis H M Syafei Abdullah mencatat setiap satu kilometer pembuatan rel kereta api menelan korban 1270 jiwa. Beberapa meninggal karena disiksa, badan kurus kering kurang makan.
Alat yang digunakan Romusha untuk bekerja hanya seadanya. Cangkul, parang, kapak. Tempat istirahat hanya bedeng beratap daun rumbia dan berlantai tanah. Beberapa bedeng tak berdinding sama sekali.
Bedeng mirip tempat pembuatan batu bata, lebar 6 meter dan panjang 25 atau 30 meter. Beberapa dibuat tingkat dua untuk menampung 250 hingga 500 kuli Romusha. Fasilitas bedeng amat minim, hanya sepotong kain cukup menutupi tubuh bagian bawah. Bedeng berada disepanjang jalur pengerjaan rel kereta api. Sekitar 600 bedeng didirikan.
Makan Romusha dijatah sebanyak tempurung kelapa atau cangkir penampung sadapan karet. Satu orang satu tempurung. Sebelum berangkat kerja, mereka diberi sepotong ubi rebus. Mereka dapat jatah makan lebih jika persediaan bubur sagu ada. Bila tak ada, menu sehari-hari mereka nasi dicampur ikan asin, terasi, kangkung atau minyak kelapa sawit.
Buku Tragedi Pembangunan Rel Kereta Api menceritakan detail perlakuan yang diterima Romusha. Yang sakit tak ada perawatan. Siksaan diperoleh jika tertangkap saat hendak melarikan diri.
Syafei Abdullah pernah bertemu salah satu bekas Romusha bernama Usman. Ia bertugas untuk meruntuhkan bukit batu. Karena pekerjaannya amat berat, ia putuskan melarikan diri. Namun ia tertangkap. Akibatnya ia dipukul hingga tak bisa berdiri. Kepalanya dibenamkan di Sungai Batang Kuantan.
Pengerjaan rel kereta api selesai bertepatan menyerahnya Jepang kepada sekutu. Rel kereta api yang sudah jadi hanya digunakan sebagai jalur pengangkutan tawanan perang yang dibebaskan. Setelah itu, dibiarkan begitu saja. Hingga besi-besi ter-sebut dijual masyarakat.

“TAHUN 2000 lokomotifnya masih utuh. Tidak ada bagian yang dipotong,” ujar Hamlis, warga yang telah menetap dua belas tahun di sekitar lokomotif Desa Lipat Kain. Seingatnya, bagian lokomotif mulai hilang tahun 2002.
Menurut Sudirman yang sudah lebih lima puluh tahun tinggal di sekitar lokasi lokomotif tersebut, tahun 1960 kereta api masih lengkap dengan rel-relnya. “15 gerbong ada. Tapi memang sudah berhenti operasi,” katanya.
Penjualan rel dan gerbong kereta api, kata Sudirman, marak terjadi sekitar tahun 1975-1976. “Tak ada larangan dari pemerintah sampai kondisinya jadi seperti yang kalian lihat ini,” ujarnya.# *5

Kepala lokomotif di Desa Lipat Kain

Kepala lokomotif di Desa Lipat Kain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s