Miskin Bukan Kultur

Oleh Agun Zulfaira

Ketua DPW Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Riau.

“Orang miskin tidak ada bedanya dengan orang malas. Miskin karena tidak mau berusaha. Ini disebut juga kemiskinan kultural.” Prinsip itu tertanam dalam benak saya ketika berusia 20 tahun.

SEJAK Maret 2007 semua berubah. Bermula saat saya melihat demonstrasi ribuan petani dari beragam kabupaten. Mereka menuntut tanah mereka yang dirampas perusahaan besar, dikembalikan. Waktu itu saya berpikir, ini pemandangan tak biasa. Belum pernah saya lihat perjuangan begitu sebelumnya.

Alat perjuangan mereka Sentral Gerakan Rakyat Riau, disingkat SEGERA. Tujuan mereka minta keadilan Gubernur Riau. Mereka hendak bermalam di depan pintu samping kantor gubernur Jalan Cut Nyak Dien. Mereka tegaskan tak akan pulang selagi tanah mereka belum dikembalikan.

Tepatnya peristiwa itu terjadi pada 6 Maret 2007. Sekitar pukul 15.00, saya lihat ribuan polisi, satpol PP dan tentara berpakaian anti huru-hara. Saya lihat dua unit water canon disiapkan. Mereka mau membubarkan paksa massa aksi. Sontak para petani lelaki langsung berbaris mengelilingi massa ibu-ibu dan anak-anak. Suara tangisan ibu dan anak keras sekali, diiringi salawat. Suasana begitu haru.

Sekonyong-konyong ribuan milisi sipil itu tak jadi membubarkan aksi para petani. Saya rasa mereka takut dituduh represif terhadap rakyat. Teriakan kegembiraan para petani betul-betul mencairkan suasana saat itu. Tak lama berselang, ribuan petani bergotong royong bangun tenda untuk persiapan menginap. Sebagian lainnya masak makan malam.

Malam itu saya menginap di sana. Kondisi mereka apa adanya. Berdiskusi ditemani segelas kopi, suasana terasa begitu akrab. Mereka cerita tentang keadaan mereka, tentang tanah yang dirampas PT Arara Abadi, tanah yang sudah bertahun-tahun mereka garap guna menghidupi keluarga. “Kalau bukan karena urusan perut, kami tidak mungkin menuntut seperti ini,” ungkap Lindai, salah seorang tokoh perempuan yang ikut aksi.

Ya, urusan perut jelas kebutuhan primer. Itu juga jadi salah satu indikator dasar penentu seseorang dikatakan miskin. Ya, mereka miskin bukan karena malas, tapi karena kehilangan tanah. Jadinya mereka tak bisa berproduksi, maka jadilah miskin.

Aksi para petani bubar 8 Maret 2007 setelah dapat capaian yang mereka maklumi. Sejak itu pula saya menjadi bagian sentral gerakan rakyat Riau. Tiada hari tanpa berdiskusi, menguliti sejarah, dari mana miskin itu hadir?

Sejarah Perkembangan Manusia
Saya mengenal istilah komunal primitif, yaitu sistem masyarakat paling awal yang ada di muka bumi. Disebut komunal primitif karena hidup berkomunal (kelompok) dengan alat produksi sangat ketinggalan zaman (primitif). Zaman itu, masyarakat hidup nomaden (pindah-pindah). Biasanya tempat yang banyak binatang buruan, buah atau sayuran, yang paling dicari. Mereka masih mengandalkan alam sebelum akhirnya mengenal metode peternakan, pertanian dan kerajinan tangan.

Pada masa itu tak ada kepemilikan pribadi. Pemenuhan kebutuhan dilakukan dengan barter (menukar barang dengan barang). Tentu tak ada masyarakat miskin kala itu, semua sama saja.

Saban hari jumlah dan kebutuhan tentu bertambah. Ini mendorong warga komunitas bekerja lebih intensif meningkatkan produksinya untuk mencukupi kebutuhan. Di samping itu juga mendorong mereka untuk memperbaiki alat kerjanya agar hasil lebih produktif.

Dari perbaikan alat kerja, lalu timbul pergantian alat kerja. Alat kerja batu tumpul menjadi alat kerja batu runcing dan tajam. Dengan begitu periode palaelithicum, yaitu periode alat kerja batu tumpul, berganti jadi periode neolithicum, yaitu periode alat kerja batu runcing dan tajam. Kemudian periode neolithicum memasuki periode logam. Semua alat kerja terbuat dari logam.

Penemuan bahan logam merupakan peristiwa penting dalam sejarah. Juga merupakan faktor penting bagi perkembangan ekonomi, yang selanjutnya mendorong perkembangan masyarakat. Alat kerja mulai dibuat dari logam. Daya guna dan hasilnya lebih produktif. Dengan alat kerja itu, orang bisa menghasilkan lebih dari kebutuhannya. Timbulnya hasil lebih, menimbulkan pikiran orang menyimpan hasil lebih tersebut untuk persediaan di waktu akan datang. Ini gejala pertama dari proses perkembangan manusia menimbun kekayaan karena hasil lebih. Diawali menyimpan hasil lebih untuk persediaan, lalu berkembang menimbun hasil lebih untuk kekayaan.

Tak hanya menimbun kekayaan, hasil lebih juga memungkinkan orang lain mengambil atau merampasnya. Ini mendorong orang ‘kuat’ berpikir dan bertindak merampas hasil lebih itu.

Karena merasa bisa penuhi kehidupan sendiri dari alat kerja logam, timbul watak dan sifat individu. Selanjutnya berlangsung kegiatan individual ekonomi dan sosial, penyalahgunaan fungsi dan tugas ketua komunitas untuk kepentingan pribadi. Masa ini saya sebut periode awal kapitalisme (kapitalisme kuno), yang kemudian berkembang sesuai perkembangan alat produksi hingga menjadi feodal dan kapitalisme (wujud masyarakat hari ini).

Jadi saya pikir hubungan kausalitas antara kebutuhan akan modernisasi dan perkembangan alat produksi tanpa diimbangi kontrol sebuah lembaga yang menaungi dan mengatur (sebut saja negara dan sejenisnya) akan melahirkan hubungan kerja individual. Ini melahirkan hubungan sosial dan ekonomi yang individual pula. Individualisme adalah sifat dasar kapitalisme yang akan melahirkan kemiskinan.

Bagaimana Indonesia Kini?
Ayam mati di lumbung padi. Kiasan ini cukup menggambarkan kondisi Indonesia. Pertanyaannya, mengapa bisa ada orang miskin di negara kaya? Tahukah Anda, kekayaan yang melimpah ruah ini dikuasai siapa?

Empat dasawarsa ini kita tinggal menunggu cadangan mineral, logam, minyak, dan gas Indonesia habis terkuras. Saat ini Indonesia penghasil 25 persen timah, 2,2 persen batubara, 7,2 persen emas, dan 5,7 persen nikel dunia. Berlawanan dengan makin tipisnya cadangan mineral tambang, sampai kini sumbangan industri pertambangan pada PDB tak pernah menembus angka 3 persen, atau tak pernah lebih dari 50 triliun rupiah.

Coba bandingkan dengan hitungan kasar produksi tembaga dan emas tahun 2004 dari PT Freeport (salah satu perusahaan tambang asing yang beroperasi di Indonesia) di lubang Grasberg. Nilainya 1,5 milyar US$ (15 triliun rupiah). Lemahnya kedaulatan negara atas kekayaan alamnya diwakili oleh data bahwa saham PT. Freeport yang dimiliki Indonesia hanya 9,4 persen dari keseluruhan saham. Merujuk data tahun 1995, areal tersebut menyimpan cadangan tembaga sebesar 40,3 milyar pon dan emas 52,1 juta ons. Deposit ini mempunyai nilai jual 77 milyar dollar AS. Hingga 45 tahun ke depan kegiatan tambang di Grasberg masih menguntungkan.

Nasib sektor minyak dan gas (migas) pun tak jauh beda. Pengerukan skala besar selama puluhan tahun terhadap sumur-sumur minyak, dengan selalu mengatas namakan devisa, sangat sedikit kontribusinya terhadap peningkatan taraf hidup rakyat kita. Padahal dengan produksi minyak 500 juta bbl per tahun, Indonesia punya sisa waktu hingga 10 tahun. Sedangkan dengan produksi 2,9 TSCF per tahun, cadangan gas bumi akan kosong dalam 30 tahun. Sepanjang kurun waktu tiga tahun terakhir, pemasukan sektor migas—yang mayoritasnya adalah ekspor—mencapai 25 persen (rata-rata) dari keseluruhan pendapatan negara (APBN), atau sekitar 70-80 triliun rupiah.

Nilai tersebut tak ada artinya jika dibandingkan keuntungan sebesar 170 triliun rupiah per tahun yang akan diraih Exxon ke depannya dari blok Cepu saja. Besarnya kekayaan migas yang ‘dirampok’ perusahaan asing bisa dilihat dari sekitar 137 perusahaan migas yang kini beroperasi di Indonesia, dan hanya 20 di antaranya yang merupakan perusahaan nasional. Itu pun berjalan terseok-seok dan hampir bangkrut.

Semuanya menjadi lengkap setelah disahkan UU migas yang sangat pro imperialis (negara kapitalis)—UU Migas No. 22 tahun 2001. UU yang akan semakin mempermudah MNC-MNC Migas dunia, seperti Shell, Petronas, Total, Chevron, dan Texaco menjelajahi ranah usaha yang sama sekali baru namun cukup menggiurkan bagi mereka—sektor hilir migas.

UU yang jadi salah satu pra syarat pencairan pinjaman lembaga-lembaga keuangan dunia, telah memuluskan liberalisasi sektor hilir migas seperti pengilangan, pengangkutan, sampai pemasaran. Sangat logis bila agenda pengurangan subsidi BBM dilakukan ‘serius’ sekali oleh rezim SBY-Boediono. Persaingan di sektor hilir harus dibuat ‘seadil-adilnya’ untuk tamu-tamu asing tersebut. Sungguh menyedihkan bila melihat Pertamina yang korup dan hampir bangkrut dipaksa bersaing dengan MNC-MNC bermodal besar dan teknologi tinggi, sampai akhirnya dapat dipastikan akan tersingkir sama sekali jika tak ada perubahan yang radikal di dalam tubuhnya.

Jumlah seluruh utang luar negeri kita mencapai US$ 185,3 milyar. Bila dirupiahkan dengan kurs Rp 9000/ US dollar, maka utang negara kita mencapai Rp 1.667,70 triliun. Jika dibagi jumlah penduduk Indonesia 237,556  juta jiwa berdasarkan hasil sensus penduduk 2010, maka setiap penduduk Indonesia memikul utang negara sebesar Rp 7 juta.

Dalam sepuluh tahun terakhir, utang pemerintah berkembang pesat dari US$122,42 milyar pada tahun 2001 menjadi US$185,3 milyar pada tahun 2010. Selama periode tersebut utang negara bertambah US$ 61,88 milyar atau setara Rp 556,92 triliun.

Miskin Bukan Kultur
Orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin miskin. Itu kalimat yang sering saya dengar dari mulut masyarakat miskin. Mereka mencoba mengerti dengan kondisi yang mereka alami, lalu pasrah dan tak mampu berbuat banyak selain menyambung hidup.

Bagi saya, miskin harus dipandang sebagai rangkaian proses tersistematis. Ia hadir tidak dengan sendirinya, melainkan dari sebuah kondisi yang tidak dapat dihindari oleh kekuatan yang ada pada dirinya. Kemiskinan harus dikaji secara utuh penyebabnya, misal tingkat pendidikan, informasi, kesehatan, lingkungan sosial, ruang ekspresi, kesempatan bekerja dan sebagainya yang mempengaruhi karakter si miskin.

Seperti Indonesia, kita bisa lihat bagaimana kekayaan negara yang menguasai hajad hidup orang banyak dikuasai asing, ditambah jeratan utang luar negeri yang bikin negara makin miskin, begitu pula rakyatnya. Kemiskinan begitu terpelihara karena mencakup wilayah vital yang tak dapat dipenuhi oleh negara, seperti lapangan pekerjaan dengan upah layak, pendidikan gratis dan bermutu, fasilitas kesehatan gratis. Jadi miskin tak akan pernah pergi tanpa melalui perjuangan yang tersistematis. Kemiskinan tak dapat dipandang sebagai kultur! ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s