Pekanbaru Miskin Struktural

Kue kemiskinan kemiskinan banyak dinikmati kaum minoritas. Distribusi pendapatan tak berjalan.

Prof Muchtar Ahmad. Mantan Rektor Universitas Riau.

RAKYAT dibagi tiga bagian seperti piramid. Kelompok paling atas piramid, berjumlah 20 persen. Biasanya meliputi pengusaha dan konglomerat. Ada kelompok di tengah, biasanya meliputi pengusaha kecil, berjumlah 40 persen. Dan masyarakat paling bawah, berjumlah 40 persen.

Menurut Prof Muchtar Ahmad, ada ketidakm-erataan distribusi kue ekonomi. “Golongan yang 20 persen paling atas memakan kue ekonomi 80 persen, tinggallah 20 persen untuk dibagi-bagi dengan golongan tengah dan bawah. Ini tak adil.”

Bagaimana Prof Muchtar Ahmad melihat persoalan kemiskinan di Pekanbaru? Pert-engahan Januari 2011, kru Bahana Aang Ananda Suherman bercakap-cakap di-rumahnya, sambil ngemil goreng ubi.

Bagaimana Anda melihat kemiskinan di Kota Pekanbaru?
Sekarang, permasalahannya, orang tidak tahu, berapa sebenarnya anggaran diperlukan untuk kemiskinan  itu. Misal angka kemi-skinan kita 9 persen, kita mau turunkan 7 persen, berapa pemerintah harus meng-uluarkan dana untuk menurunkan itu. Ndak ada orang yang tahu. Saya pernah sampaikan, untuk menurunkan kemiskinan, selama tiga tahun dibutuhkan 15 persen dana dari anggaran APBD. Lalu, untuk menghapus kemiskinan, kita harus tahu sebab-sebab kemiskinan.

Jadi?
Menurut teorinya, dalam buku Jhon K Galbride, professor Harvard, hasil penelitian dia di India. Itu ada tiga kemiskinan, pertama kultural. Miskin karena budaya mereka miskin. Artinya miskin itu suatu kemuliaan. Misal, agama yang melatih orang untuk mengemis.

Kedua, kemiskinan struktural, kemi-skinan yang disebabkan pemerintah. Peme-rintah membuat rakyatnya miskin, jadi program yang dibuat, membuat rakyat itu miskin. Contoh, ada tanah masyarakat digusur, dan diganti dengan pengusaha. Tanah diganti rugi, dan dudukkan pengusaha di situ. Lalu kemiskinan yang disebabkan karena birokrasi itu bodoh. Atau disebut juga moral hazard. Korupsi dan lain-lain. Semua itu ada sem-bilan, tapi dikelompokan tiga. Kalau di Riau, kecilnya Pekanbaru, kebijakan ekonomi yang dilakukan pemerintah, yang membuat rakyatnya miskin.

Bagaimana melihat bantuan untuk peng-entasan kemiskinan di Pekanbaru?
Kebanyakan pemerintah memberikan bantuan itu merata kepada tiap desa. Justru rata itu tidak boleh. Misal desa itu banyak masyarakat miskin, kemudian dibagikan duit Rp 500 juta. Mau desa itu 100 ribu pendu-duknya, mau berapapun, tak peduli. Padahal kebutuhan penduduknya belum jelas, jumlah penduduknya tidak jelas. Lalu, kita mem-berantas kemiskinan ini dengan membagi-bagikan duit. Kan begitu dilakukan. BLT dan segalanya. Seolah-olah pemerintah mengangap kemiskinan ini disebabkan finansial. Belum tentu kan?

Jalan keluarnya?
Nah, jadi bagaimana cara memutuskan itu, kalau kemiskinan struktural, satu-satu jalannya umumnya yang bisa menyebabkan orang keluar dari kemiskinan ini adalah pendidikan. Pendidikan yang bisa melahirkan orang itu bekerja. Jadi pemerintah, kalau mau menolong orang miskin, latih anak-anak punya keterampilan.

Kedua, usaha kecil itu kan umumnya miskin, nah buat orang ini punya akses ke pasar. Dan di tempat strategis dudukkan mereka. Jangan karena dia tak punya akses kekuasaan, tak punya akses politik, di pasar diletakkan di tempat yang tidak mungkin di kunjungi orang. Kalau orang yang usahanya sudah bagus, diletakkan di belakang pasti dikejar orang, setidaknya melalui orang ini dulu kan. Hanya persoalan malas dipikirkan, tidak peduli aja.

Kebijakan Mahathir Moehamad di Malaysia, semua orang Melayu digusur ke kota, kita kan dibalikkan. Tiap pasar baru, 20 persen untuk orang  melayu. Sekarang ini, kita buat proyek untuk dibagi-bagi, dianggarkan terus, contoh kebun K2I. Mana kebun itu, anggaran sudah habis 1,8 triliun untuk karet K2I. seharusnya sudah ada 100 ribu hektar. Itu contohnya kebijakan pemerintah yang menyebabkan kemiskinan.

Pekanbaru struktural atau apa?
Pekanbaru kemiskinan struktural. Kota umumnya struktural, karena peluang-peluang untuk orang miskin di kota untuk bekerja itu digusur. PKL digusur, pedagang jagung digusur. Ya orang miskin digusur ya semakin miskinlah.  Tidak pernah terpikirkan bagai-mana untuk, sederhana menurut saya, mengumpulkan mereka, apa keinginan mereka dan itu harus dipenuhi, untuk tetap mereka dapat kahidupan yang layak.

Kalau itu tidak dilakukan, namanya struktural. Kekuasaan yang membuat kemis-kinkan.

Yang kedua itu ada namanya Prof  De Soto, ekonom dari Peru, dia pernah menyam-paikan cara menyelamatkan orang miskin di daerah kumuh di perkotaan. Biasanya kan di daerah pinggiran.

Dia bilang tanah yang diduduki kaum miskin kota, yang jelas diduduki, tapi tak jelas siapa pemiliknya, kasih saja tanah itu, dan berikan surat tanah, artinya mereka sudah ada akses ke bank. Kalau itu cara pemerintah menyelamatkan mereka, kan tinggal di-hubungi siapa pemilik tanah yang mereka tempati. Keluarkan dulu dana kemiskinan, beli tanah itu. Nanti semacam sewa bagi orang miskin. Dan pengembaliannya, seberapa mampu saja, kalau pendapatan sehari Rp 70 ribu, ya dikasih nyicil Rp 5 ribu, kan tak berat.

Misal di Tenayan Raya, kalau pemerintah mau menyelamatkan penduduk miskin di sana, pemerintah tinggal hubungi pemilik tanah yang dipakai untuk bertani disana, dibeli pakai dana kemiskinan, dan masyarakat utang sama pemeritah, dan setiap tahun berapa bisa mereka nyicil.

Seperti apa pola kemiskinan di kota?
Jadi, umumnya seluruh kemiskinan di kota itu ada di daerah pinggiran. Sebab, pemerintah kota tidak terlalu mengatur daerah-daeah pinggiran. Orang miskin paling bisa masuk di tempat yang tak teratur. Contohnya tanah di daerah pinggiran tak ada yang mengatur.

Untuk kasus ini, apa solusinya?
Jadi memang harus jemput bola lah pemerintah. Datangi mereka, urus tanah itu, diganti rugi dulu dengan dana pemerintah. Baru secara perlahan kemiskinan bisa dientas-kan. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s