Idealisme Zamzami

Oleh Lovina

Tekadnya berjihad di lingkungan. Idealisme membawanya pada posisi itu.

Zamzami

TANGGAL 23 September 2010. Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan terbang di atas hutan Riau. Ia mengaku miris lihat kondisi hutan yang terbakar, rusak, dan hancur. Zulkifli cerita soal negeri Ginseng Korea yang pandai memelihara lingkungan dan negeri Kanguru Australia yang beri denda bila masyarakatnya mematahkan ranting pohon.

Selama Zulkifli bicara, pikiran Zamzami melayang. Ingatannya tertuju pada 17 izin penebangan hutan kaya karbon dan bernilai tinggi konservasi yang dikeluarkan Zulkifli Maret silam. Zamzami berontak, meski hanya dalam hati. “Apa gunanya Anda bicara soal penanaman sementara Anda memberi izin penebangan hutan?”

Akhirnya Zamzami ambil kesimpulan, cerita Zulkifli hanya pepesan kosong. “Ibarat tangan kanan menanam, tapi tangan kiri menebang,” tulisnya di situs kompasiana.com.

Tamat pesantren Darunnajah tahun 1999. Zamzami masuk Universitas Riau (UR) Fakultas Ekonomi (FE) Jurusan Manajemen. “Saya bukan tak mau sekolah agama. Itu pilihan kedua.” Pilihan masuk perguruan tinggi negeri termotivasi perkataan Kiai pondok tempat ia sekolah. “Di jidat kalian masih tertempel Darunnajah. Bertebaranlah kalian ke seluruh penjuru dunia,” ujarnya menirukan perkataan kiai itu.

Sejak semester satu, Zamzami sudah sering ikut aksi. Ia pernah aksi soal tempat maksiat. Saat itu terjadi bentrok dengan aparat keamanan. “Saya kena tangkap. Celana jins robek. Difoto-foto sama polisi,” katanya.

Organisasi pertama yang ia kenal BKIM (Badan Kerohanian Islam Mahasiswa) FE. Namun ia tak masuk BKIM. Zamzami masuk HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Empat tahun di sana, ia putuskan keluar dari keanggotaan HMI. “Biasanya orang lain kalau keluar dari kepengurusan, saya langsung dari keanggotaan.” Alasannya, tak sesuai dengan beberapa cara pendekatan organisasi.

Selama berproses di HMI, ilmu organisasi Zamzami makin terasah. Ia sering berdiskusi dengan siapa saja. Selain diskusi, ia belajar berorganisasi dengan membaca buku. Terutama buku-buku para pemikir luar negeri. “Hebatnya, apa yang ada di pikiran mereka sekarang, betul-betul terjadi di masa depan.”

Tak hanya aksi, selama kuliah, Zamzami juga aktif bikin kelompok studi. “Walaupun isinya cuma tiga orang.” Mereka bikin newsletter Suara Koma. Mereka kritisi berbagai ketimpangan di FE. Mereka pernah protes soal kampus yang tiap ujian sarjana mewajibkan mahasiswa beli makanan dari Vanhollano.

Protesnya, mengapa mesti beli di Vanhollano? Mengapa tidak beli dari masyarakat kecil yang memang butuh perputaran modal? “Fakultas Ekonomi yang di luar berbicara tentang ekonomi kerakyatan, mestinya juga bisa mengimplementasikannya,” tulis mereka di newsletter itu.

Sejak semester dua, ia aktif menulis. Tulisannya sering dimuat di Riau Pos. “Itu jadi nilai tambah buat kita,” terang Zamzami. Saat jabat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FE, BEM berhasil mengelola beasiswa sendiri. “Lembaga mahasiswa jauh lebih tahu siapa saja yang lebih membutuhkan beasiswa,” ujarnya dihadapan Edyanus Herman Halim—saat itu Pembantu Dekan III dan Kennedy—saat itu menjabat Dekan FE. “Edyanus dan Kennedy setuju,” kata Zamzami.

Januari 2007. Niatnya daftar yudisium. “Itu yudisium terakhir. Harus daftar. Kalau tidak, DO,” ceritanya. “Mau ngapain, Zam,” tanya orang biro. “Daftar yudisium, Kak,” jawabnya. “Apalah kau ni, itu yudisium udah selesai tadi pagi,” balas orang biro. “Haa???” Zamzami kaget. Ia panik. Langsung pergi ke ruang dekan, melapor. Setelah diurus sana-sini, “Alhamdulillah, akhirnya bisa juga yudisium, walaupun sendirian di ruang dekan.” Baginya, semua itu ada hubungannya dengan aktif di organisasi kampus.

Tahun 2004. Zamzami masih kuliah. Ia bekerja jadi news anchor di radio Smart FM. Ia juga sempat kerja di Tribun Pekanbaru. “Perbanyak pengalaman kerja,” katanya.

“Lingkungan yang paling dikerdilkan itu masyarakat kecil. Mereka tak punya kekuatan untuk berontak, menyampaikan aspirasi. Tugas kitalah menyambungnya.”

Zamzami senang jadi jurnalis. Banyak pengalaman berharga selama di Tribun ia dapat. Awal masuk, masih pelatihan, dikirim meliput gempa di Solok, Sumatera Barat. Lalu bertugas di Duri selama setahun. Tahun 2008, dipromosikan ke Tribun Pontianak. Dari sana diopor ke Singkawang. Kemudian diangkat jadi redaktur. Saat dipromosikan itulah, ia pilih keluar. “Ada masalah internal. Saya putuskan resign.”

Meliput tempat persembunyian Nurdin M Toop di Rokan Hilir. Itu pengalaman paling menarik Zamzami selama jadi jurnalis. Saat itu ia bertugas di Duri. “Perginya nekad, betul-betul tanpa persiapan.” Ia hanya bawa uang Rp 25 ribu. Tak tahu menginap di mana. Untung narasumbernya jumpa dan pulang dengan selamat. Tulisannya pun dimuat di halaman pertama Tribun. Ia bangga.

Sampai akhirnya memilih keluar dari Tribun, ia tak menyesal. “Beri saya waktu setidaknya enam bulan untuk tidak bekerja,” ujar Zamzami pada kedua orang tuanya. Namun satu hal yang diyakininya, “Anda beker­jalah maksimal. Fokus maksimal. Sibuklah dengan pekerjaan. Jangan sibuk dengan konflik di lingkungan kantor. Kalau Anda bersinar dan kalau kantor tidak melihat sinar Anda. Maka yakinlah sinar itu akan menembus kantor. Menembus keluar.” Itu kata-kata dari seorang narasumber yang diingat Zamzami hingga sekarang.

Zamzami merasa kata-kata itu terbukti kebenarannya. Tak sampai 24 jam ia keluar dari Tribun, tiga tawaran kerja menghampiri. Ketiganya datang dari media. Akhirnya ia pilih tawaran ketiga. “Itu di radio tempat dulu saya bekerja, posisinya juga sama.” Hanya empat bulan ia di sana. Lalu dapat tawaran—melalui seorang temannya—bekerja di Greenpeace.

Awalnya Zamzami sempat ragu. Ragu karena Greenpeace menerapkan sistem kontrak. “Banyak orang tak nyaman dengan kontrak.” Setelah diskusi dengan kawan-kawan, ia pun terima tawaran itu. “Walaupun awalnya saya tak tahu sama sekali Greenpeace itu apaan.” Sejak April 2009, Zamzami pun resmi aktif di Greenpeace. Jabatannya, media campaigner Riau Greenpeace Asia Tenggara. Fokusnya mengkampanyekan soal kerusakan hutan dan lingkungan.

Zamzami lahir di Padang, 4 Januari 1981. Enam tahun sekolah dasar dilaluinya di empat sekolah berbeda. Kelas 1 di Padang, kelas 2 pindah ke Batu Sangkar, kelas 3 dan 4 kembali ke Padang tapi di sekolah yang beda dari yang lama. Kelas 5 dan 6 pindah ke Jakarta.

Selain sibuk sekolah, Zamzami habiskan sisa waktunya untuk berjualan. Menjajakan gorengan keliling kampung. Walau temannya sering menyindir, “Woi, goreng goreng goreng,” namun ia tak malu. “Malah senang, dapat duit.”

SMP dan SMA dilaluinya di Pesantren Darunnajah Jakarta. “Waktu itu kami teman satu geng di SD sama-sama sepakat masuk pesantren. Ujung-ujungnya cuma saya yang pesantren,” akunya. Namun Zamzami senang sekolah di pondok. “Dalam bayangan saya, kalau di pesantren, sebelum tidur pasti ada ngobrol dulu.” Zamzami sangat suka ngobrol, diskusi, dan cerita.

Selama sekolah, cukup banyak aktifitas kesenian ditekuninya. Tari daerah, puisi, pidato. Yang paling berkesan, “Waktu SD juara 2 lomba pidato se-kecamatan, karena pesertanya cuma dua orang,” kata Zamzami seraya tertawa. Menulis puisi masih dilakoninya hingga sekarang, bila ada waktu senggang.

Tepat setahun lalu. Greenpeace turun ke Semenanjung Kampar. Mereka kampanye. Mendesak pemerintah Indonesia komitmen menurunkan pemanasan global, menyoroti tingginya laju deforestasi hutan, mempertahankan sumberdaya kehidupan masyarakat di kawasan gambut yang hancur akibat rusaknya hutan.

Zamzami turut kampanye. Ia juga membangun dam. Pekerjaan bikin dam dilakukan tiga minggu. “Kita buat dua dam di kanal yang sama.” Dam pertama menghambat ombak bono masuk ke kanal. Dam kedua untuk menghambat aliran air gambut ke sungai.

Total 40 hari Zamzami di camp Greenpeace, empat hari dalam seminggu. “Kebagian piket jaga malam, piket nyapu-nyapu camp, dan sebagainya,” ceritanya. Itu merupakan pengalaman paling menarik selama bergabung di Greenpeace.

“Lingkungan yang paling dikerdilkan itu masyarakat kecil. Mereka tak punya kekuatan untuk berontak, menyampaikan aspirasi. Tugas kitalah menyambungnya,” pesannya.

Idealisme selama berkecimpung di bidang lingkungan dibandingkan saat mahasiswa dan jurnalis, menurutnya, tak jauh beda. “Sama saja. Sama-sama bela rakyat kecil. Itu yang saya suka.”

Ia komitmen berjihad di bidang lingkungan. Meski orang tua selalu bilang, “Kalau ada pekerjaan yang lebih baik, resikonya lebih kecil, gajinya cukup, meski tak sebesar yang sekarang, lebih baik pindah.” ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s