Berakhir 27 September

Oleh Giovani Gabreli

Gedung Pasca Sarjana FISIP dan Sekre Kopma terbakar. Tak bersisa.

SABTU, minggu keempat September 2010. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Koperasi Mahasiswa (Kopma) Universitas Riau (UR) adakan rapat anggota. Mereka bahas rencana Kopma buka butik, jual aksesoris, dan usaha laundry. “Sekalian susun arsip dari tahun 1990 hingga 2009,” kata Muhammad Faisal, Ketua Kopma. Itu hari pertama mereka kumpul usai libur Lebaran.

Bulan Ramadhan lalu, mereka sibuk renovasi kantin. Ruangan diubah layaknya kafe. Meja dibeli baru. Meja usang dicat ulang. Lantai diberi keramik. Barang-barang jualan pun ditambah.

Dua hari usai rapat anggota Kopma. Pukul 03.00 dini hari. Bunyi sirine pemadam kebakaran memecah kesunyian. Hujan rintik-rintik. Suara sirine masih meraung. Semakin lama semakin ramai terdengar.

Suasana saat kebakaran

Api besar membumbung dari area Kampus UR Gobah. Tepat di atas Gedung Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Puluhan orang berlari menuju gedung yang—dengan cepat—dilahap si jago merah.

Tim pemadam kebakaran sibuk menyemprot air dengan slangnya dari berbagai sisi gedung. Depan, belakang, samping kiri-kanan. Mobil pemadam silih berganti datang dan pergi. Mobil yang kehabisan air pergi. Datang mobil lainnya. Begitu seterusnya.

Angin yang berhembus kencang membuat api semakin besar dan menyebar. Tim pemadam masih terus bekerja, menyemprot air ke arah api. Ada pula yang melempari kaca jendela dengan batu, agar air lebih mudah masuk.

Beberapa saat kemudian, hujan turun. Warga yang menyaksikan kejadian agak lega. Namun ternyata hujan tak cukup membantu. Api terus menyebar. Sekitar tiga warga membantu tim pemadam. Walau hanya meluruskan slang yang bergulung.

Puluhan warga lainnya berdiri di beranda gedung DIII Fakultas Ekonomi, persis di depan gedung yang terbakar. Mereka bergerombol melihat api yang terus membakar gedung serta kesibukan tim pemadam kebakaran memadamkan api. “Tak ada yang membantu,” ujar Maksum, Satpam Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK). Gedung PSIK berada di belakang gedung FISIP yang terbakar.

Di belakang gedung juga banyak warga. Mereka keluarkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Ada lemari, kipas angin, dispenser, komputer. Namun satpam tetap mengawasi. “Takut terjadi penjarahan,” kata Maksum.

Pukul 02.30. Maksum duduk di ruangannya sambil menonton televisi. Sedang asyik menonton, tiba-tiba ia mendengar bunyi letupan. “Berulang kali.” Saat itu juga ia beranjak dari ruangan, mencari tahu apa yang terjadi.

Tak hanya Maksum. Suryadi, penjaga gedung Pasca Sarjana FISIP, juga mendengar sesuatu. “Seperti suara ranting patah.” Ia cari tahu dari mana sumber bunyi itu. “Saya pikir ada maling.” Namun setelah diselidiki, Suryadi tak menemukan apa-apa. Ia masuk lagi ke ruangan dan merebahkan diri.

Sementara Maksum masih penasaran dengan bunyi letupan tadi. Ia lalu menguak tirai jendela dan melihat ke gedung belakang. Dari dalam ruangan gedung itu, terlihat sekilas warna merah. “Tapi tak terlalu jelas, terhalang oleh pohon mangga yang rindang.”

Maksum sontak kaget begitu menyadari warna merah itu adalah api. Ia langsung lari menuju ruangan yang terbakar itu, menggedor jendelanya sekuat tenaga. “Sampai rusak grendel jendelanya.”

“In… In…” Maksum memanggil Irwansyah, salah seorang penjaga gedung. Ada dua penjaga di gedung itu. Irwansyah dan Suryadi. Suryadi keluar. Ia melihat api membakar ruang ekstensi.

Tanpa buang waktu, Maksum ambil racun api 5 kilogram. Sementara Suryadi masuk ke dalam ruangan, membangunkan Iin—panggilan Irwansyah. “In, bangun! Ada kebakaran,” teriak Suryadi. “Saya langsung berdiri mengambil racun api,” ujar Iin. “Saking paniknya, saya pecahkan kaca jendela dengan kerikil, padahal ada kayu di sana,” kenangnya. Berdua—Maksum dan Iin—menyemprotkan racun api.

Maksum sempat bingung cara menggunakan racun api. “Baru pertama kali.” Setelah bisa, ia langsung semprotkan racun itu ke arah api. “Baru sebentar sudah habis,” tambah Maksum. Sementara Iin terus menyemprot racun api yang dipegangnya.

Api mulai mengecil. Setelah racun habis, Iin berlari ambil air ke kamar mandi. “Baru siram dua ember, api membesar lagi.” Iin lalu coba mendobrak pintu ruang depan. “Tiga kali saya dobrak, sampai mental saya,” ceritanya.

Tak berhasil mendobrak pintu ruang depan, Iin kembali ke ruangannya. Plafon ruangannya sudah mengkilat. Asap menghitam. “Saya meraba lantai, dapat kunci dan handphone. Langsung buru-buru keluar. Sampai kepala saya terjedot daun pintu,” lanjutnya.

Api makin menyebar dan tak terkendali. Iin buka pintu ruang depan, berlari ke ruang akademis. “Saya berusaha selamatkan apa yang saya bisa,” katanya. Tiga unit CPU, dua UPS, satu monitor, satu genset, dan satu motor berhasil dikeluarkan.

Suryadi menghubungi pemadam kebakaran. Ditekan 113 dari handphone. Tapi si penerima telepon menyahut, “Bukan ini nomornya, Pak. Ada lagi digit di belakangnya,” katanya meniru jawaban si penerima telepon. “Saya tak mau tahu, tolong hubungi pemadam kebakaran sekarang,” jawab Suryadi.

Sementara itu, Maksum memanggil satpam yang berjaga di pos depan kampus UR Gobah. Ia langsung menggas motornya. “Saya hanya pakai singlet. Tak terasa lagi dingin.”

Iin menghubungi Perusahaan Listrik Negara (PLN). “Tolong matikan listrik di Ronggowarsito sekarang Pak, ada kebakaran,” kata Iin. Jawaban si penerima telepon—”Maaf Pak, ada masalah?”—membuat Iin jengkel. “Cepat Pak, api sudah semakin membesar,” sahut Iin.

Selang 20 menit, mobil pemadam kebakaran datang. Awalnya dua mobil. Lalu menyusul belasan mobil secara bergantian.

Sekitar pukul 05.00, api berhasil dipadamkan. Sebanyak 27 ruangan habis terbakar. Yang tersisa hanya puing-puing. Semua hangus dan berantakan. Atap seng runtuh. Sebagian tembok roboh. Bau asap masih kental tercium.

Sekretariat Kopma adalah satu dari 27 ruangan yang terbakar. Faisal, Ketua Kopma mengaku, baru dikabari soal kebakaran pukul 06.30. “Begitu saya tiba, semua sudah habis, termasuk semua arsip dan kantin yang baru direnovasi.”

Rencana selanjutnya, kata Faisal, sekretariat Kopma dipindahkan ke kampus Panam. Pembantu Rektor III sudah menjanjikan tempat di Stadion UR. “Soal kerugian, akan ditanggung pihak universitas,” kata Faisal. Untuk kantin, rencananya akan dibuka di rumah kos salah seorang pengurus Kopma.

Sama dengan Kopma, segala kegiatan perkuliahan di Pasca Sarjana FISIP juga pindah ke kampus Panam. “Untuk sementara terpaksa bersempit-sempit dulu,” kata Ali Yusri, Dekan FISIP.

Gedung itu kini telah ludes dilahap api. “Tentu saja banyak kenangan di sana,” kata Iin lirih. “Berakhir di 27 September,” tutupnya. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s