Serbuk Putih Tanah Jantan

Oleh Aang AS

Warga desa Banglas, Kecamatan Tebing Tinggi, Kepulauan Meranti

Industri rumahan pengolahan serbuk putih (sagu) masih jadi mata pencaharian sebagian masyarakat. Harapan yang tak kunjung berkembang.

Pukul 14.25, gerimis pagi masih turun di jalan Banglas di hari ke-12 bulan Ramadhan. Tak banyak kendaraan lalu-lalang. Suasana pun hening. Di tepi jalan, ada tempat pangkas rambut. Seorang pemuda menunjuk sebuah rumah. “Itu rumah yang mengolah sagu jadi bahan makanan.”

Jalan Banglas terletak Di desa Alah Air, Kecematan Tebing Tinggi, Kepulauan Meranti. Pulau berjulukan Tanah Jantan ini, resmi terbentuk usai penanda tanganan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2009 oleh Presiden Republik Indonesia.

Sejak lama, Meranti dikenal dengan potensi sagu. Data Bappeda Riau tahun 2008, dari 110.359 hektar areal perkebunan di Meranti, 60.042 hektar adalah lahan sagu. Total produksi sagu Meranti mencapai 87.720,38 ton dengan jumlah petani 5.335 kepala keluarga.

Areal terbesar ada di Kecamatan Tebing Tinggi, meliputi areal sagu rakyat dan swasta. Hingga 2008, luas areal sagu swasta di Kecamatan Tebing Tinggi dan Tebing Tinggi Barat mencapai 23.000 hektar.

Dari Pekanbaru ke Meranti ditempuh dengan kendaraan laut. Saya bersama dua kru Bahana, 19 Agustus 2010, menumpang spead boat Porti Ekspress di Pelabuhan Tanjung Rhu. Sejam melaju, Porti berhenti di pelabuhan Perawang. Perjalanan dilanjutkan dengan bus. Di pelabuhan Tanjung Button Siak, kembali Porti yang mengantar kami menuju kabupaten termuda di Propinsi Riau itu. Hamparan kebun sagu mulai tampak sejak Porti memasuki Meranti. Total perjalanan sekitar enam jam.

Kembali ke suasana siang di Jalan Banglas. Saya bergerak ke arah telunjuk pemuda di tempat pangkas tadi. Kedai harian berukuran 4 x 5 meter sepi. Tak lama, pria pemilik kedai datang. Ia pakai sarung. “Kebetulan hari ini saya tak buat mie sagu,” katanya.

Ia Sufri, 38 tahun. Salah satu pelaku industri rumahan pengolahan sagu. Ia mengolahnya jadi mie. Sagu basah, bahan pembuat mie sagu, dibelinya dari kilang sagu. “Bukan kita yang jemput ke kilang, ada orang yang bawa ke sini,” kata Sufri. Per kilonya dibeli seharga Rp 1.400. “Satu bulan bisa habis satu ton sagu basah.”

Per hari, Sufri bisa hasilkan seratus kilogram mie sagu. “Kalau dipaksa, saya bisa hasilkan 150 kilo. Tapi kadang saya hanya buat 10 kilo, tergantung pesanan,” aku Sufri. “Kalau mau lebaran banyak yang pesan. Saya jual per kilo Rp 2000.”

Sekitar 15 menit bercakap-cakap, Sufri melihatkan tempat kerjanya. Tempatnya di belakang rumah Sufri. Di sana ada ruang khusus pengolahan sagu. Bermacam alat pembuat mie sagu tersedia. Lima baskom masing-masing berdiamater setengah meter dan tinggi satu meter. “Ini tempat merendam sagu basah yang dibeli dari kilang,” kata Sufri. Sebelahnya dua tungku batu untuk merebus sagu. Ada pula mesin pengaduk adonan. Meja tempat buat lempeng sagu sebelum dicetak. Di sampingnya berjejer kayu tempat pengeringan lempengan adonan sagu.  Ada juga mesin pencetak mie sagu.

Sufri cerita, buat mie sagu butuh waktu sehari semalam. Awalnya, kata Sufri, sagu basah diendap (direndam) dengan air bersih. “Kami pakai air hujan. Air bawah tanah kotor. Di sini memang susah air.”

Pengendapan dilakukan dua kali. “Setelah pengendapan pertama sekitar tiga jam, diendap lagi. Supaya kotorannya betul-betul terangkat,” ujar Sufri. Usai diendap, sagu dimasukkan ke goni. “Biar kering. Goninya harus berpori,” lanjut Sufri.

Usai itu, sagu dibentuk bulat sebesar bola takraw. Lalu direbus. “Barulah dibuat adonan dan diampai (dijemur). Esoknya dicetak jadi mie,” kata Sufri. “Untuk per bulan bisalah menutupi kebutuhan hidup dan untuk anak sekolah.”

Selain air, pemasaran mie merupakan kendala lainnya. “Masyarakat kurang mengenal mie sagu, hanya suku Melayu asli yang kenal. Jadi susah juga,” keluh Sufri. Sedangkan untuk pengembangan industri, “Banyak yang bisa dikembangkan. Selain makanan, bisa juga kosmetik, bahkan obat. Penderita kencing manis sebaiknya makan sagu.”

Nuraini, tetangga Sufri, juga pegiat industri rumahan sagu. Ia pembuat sagu rendang. Sekali buat, sagu basah yang terpakai sekitar 60 kilogram. “Sagu rendang dibuat bulat-bulat kecil. Ada ayakan khusus,” cerita Nuraini.

Sejak usia 15 tahun, Nuraini sudah bikin sagu rendang. “Turun temurun dari ibu saya. Sayang anak-anak saya tak mau buat. Capek katanya.” Butuh waktu tiga hari mengolah sagu basah jadi sagu rendang. “Nyuci sagunya satu hari, buat bulat-bulat satu hari, gongseng satu hari.”

Menurut Sufri, di Alah Air, hanya ada empat Kepala Keluarga (KK) yang bergiat di industri rumahan sagu. “Tiga sagu rendang, saya sendiri yang mie sagu. Memang sagu banyak diekspor keluar, saya juga tak tahu kenapa.”

Kurang berkembangnya industri hilir di Meranti, kata Fachri Yasin, Dosen Pasca Sarjana Manajemen Agribisnis Universitas Islam Riau, karena permintaan konsumen terbatas.  Selain itu, promosi jadi faktor lainnya. “Serta keragaman produk sedikit.”

Karena itu, menurut Fachri, peranan pengusaha besar dan pemerintah daerah sangat penting dalam meningkatkan kemampuan masyarakat berwirausaha komoditas sagu. “Ini bukan kerja mudah. Perlu waktu pembinaan.”

Dalam mengolah sagu, teknologi penjernihan air rawa, kata Fachri, sangat dibutuhkan. “Sehingga dapat menghasilkan olahan lebih bermutu.” Prof. Aslim Rasyad, guru besar asal Fakultas Pertanian UR mengatakan, penelitian ke arah teknologi penjernihan air sudah pernah dilakukan beberapa dosen Faperta UR. “Tapi belum bisa diaplikasikan ke masyarakat. Rumit dan kemampuan ekonomi industri rumahan sagu terbatas.”

Mengenai masuknya PT. Sampoerna Agro yang telah menguasai kebun sagu sekitar 20.000 hektar, bagi Fachri, harus ada kerjasama saling menguntungkan antara pemerintah daerah, masyarakat, dengan perusahaan itu. “Terutama menyangkut kesejah­teraan masyarakat.”

Sufri juga tahu perihal masuknya PT. Sampoerna Agro ke Meranti. “Bagus asal bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jangan malah mematikan industri kecil rumahan seperti saya,” ujar Sufri. “Selagi masih hidup, saya akan tetap usaha ini.” (lovina)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s