Achiever University

Oleh Prof Firdaus LN

Kontemplasi Sempena Dies Natalis ke-48 Universitas Riau

Fidaus LN. Guru Besar FKIP Universitas Riau

ALHAMDULILLAH, Universitas Riau (UR) masih tetap eksis sampai di usianya yang ke-48; 1 Oktober 2010. Sebab itu patutlah kita semua—Civitas Academika mensyukuri atas semua limpahan rahmat dan karunia-Nya ini. Seberapa dahsyat kecemerlangan akademik yang telah dicapai oleh UR sampai di tapak kehidupan 48? Jawabannya bisa Anda simak dalam publikasi khusus Edisi Lux versi Rektor bertajuk “Wajah Cerah Universitas Riau: Periode I (2006-2010)” yang telah dibagikan kepada semua anggota senat dalam Rapat Senat UR Rabu, 28 September 2010.

Memaknai sebuah pencapaian ini, saya jadi teringat dengan ungkapan Paul Arden, “It is not how good you are, It is how good you want to be!”; yang penting bukanlah seberapa ‘baik’ capaian Anda, namun seberapa baik Anda hendak ‘menjadi’! Inilah agaknya yang patut dijadikan rujukan kontemplasi kita bersama untuk mengembangkan diri meraih kecemerlangan sebagai never ending goals—sebuah pencapaian yang tidak mengenal akhir.

Soal seberapa baik kita hendak ‘menjadi’ adalah sebuah pertanyaan fundamental yang berkaitan dengan karakter atau potret diri kita yang sesungguhnya. Setiap universitas memiliki karakter dan dia menggambarkan diri universitas yang sebenarnya bukan semu (Pseudo-University), apakah baik atau buruk. Yang pasti adalah sebuah pencapaian tanpa karakter tidak akan bertahan lama. Ralph E. Emerson menan­daskan bahwa “Kemampuan bisa dapat mengantarkanmu ke puncak, tapi dibutuhkan karakter untuk menjagamu bertahan di sana”. Pencapaian sejati adalah meraih impian dan sekaligus memper­tahankan karakter Anda. Orang bijak berkata, “When character is lost, Everything is lost”; hilang karakter, hilanglah semuanya.

Kecemerlangan Achiever University mestilah ditentukan oleh keunggulan sejumlah karakter penggapai (achiever) para civitas academica unversitas tersebut, antara lain:

Pertama, kejujuran (honesty). “Tidak ada satu pun harta di dunia ini yang begitu kaya selain kejujuran”, ujar William Shakespeare. Achiever University sebagai penjana ilmu pengetahuan berteraskan metode keilmuan sudah sepatutnya menempatkan kejujuran akademik (academic honesty) sebagai fondasi Menara Gading yang hendak ditegakkan dalam taman akademis. Tanpa Menara Gading niscaya tak bermaya, kusam dan lapuk ditelan masa. Jujur merupakan suatu keselarasan antara pikiran, perkataan, dan tindakan yang menunjukkan kebenaran. Kejujuran berarti menjadi asli apa adanya diri Anda tanpa ada kepalsuan.

Kalau bisa berbohong, berbohonglah demi jabatan dan kekuasaan. Harga sebuah kejujuran saat ini sangatlah murah dibandingkan dengan kebohongan.

Namun perilaku anak bangsa (termasuk sebagian besar akademisi) saat ini penuh paradoks. Kalau bisa berbohong, berbohonglah demi jabatan dan kekuasaan. Harga sebuah kejujuran saat ini sangatlah murah dibandingkan dengan kebohongan. Maka tidak heran ramai akademisi yang melakukan bunuh diri profesi alias meng­gadaikan kejujuran akade­miknya untuk meraih kenyamanan.

Kedua, keberanian (courage). Untuk meraih kecemerlangan akademik, Achiever University mestilah berani bermimpi besar, berani berpikir dan tampil beda, berani untuk melakukan penemuan, berani menemukan sesuatu yang dikatakan tidak mungkin, berani mengambil resiko, dan berani pula untuk sukses dalam menjalankan semua misi akademik. Tanpa itu, universitas akan miskin terobosan (break through). Jadilah dia universitas rata-rata alias biasa-biasa saja yang mempraktikkan bussiness as usual.

Ketiga, Kedisiplinan (discipline). Disiplin adalah kemampuan mengarahkan diri sendiri untuk melakukan apa yang seharusnya dan bukan hanya pada apa yang ingin dilakukan. Disiplin adalah syarat mutlak untuk mencapai kehidupan yang diimpikan.

Tanpa budaya disiplin, tak ada masa depan, tak ada respek, dan tak ada kemajuan. Tanpa budaya disiplin, tak ada myelin, apalagi intangibles yang dapat dimobilisasi untuk merakit perubahan. Tak ada rencana besar yang dapat terwujud tanpa disiplin. Disiplin adalah latihan yang mengha­silkan pola perilaku yang diinginkan, kebiasaan yang diharapkan, dan sikap atau karakter yang membawa kepada kesuk­sesan dalam kehidupan. Jadi, disiplin adalah sesuatu yang kita butu­hkan untuk mem­bawa kita sampai pada tujuan.

Keempat, kebaikan (kindness). Kebaikan adalah suatu kualitas sikap dan tindakan yang menunjukkan kepedulian besar kepada orang lain dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri. Ketika Anda melakukan kebaikan kepada seseorang, Anda telah berbuat baik pada diri Anda sendiri. Hidup itu seperti bumerang, apa pun yang Anda lepaskan akan kembali pada Anda sendiri. Itu bisa berupa pikiran, perkataan, ataupun perilaku. Cepat atau lambat semua akan kembali kepada Anda. Kebaikan selalu memiliki jalan untuk kembali.

Kelima, ketekunan (persistent). Tidak ada satu pun yang bisa diraih tanpa ketekunan. Ketekunan adalah suatu upaya terus menerus untuk mencapai tujuan tertentu tanpa mudah menyerah hingga meraih keberhasilan. Tekun bukan sekedar sabar, pasif, apatis, pasrah, dan bertahan. Tekun adalah tekad yang mengandung sikap antusias, gigih, tegar, proaktif, dan pantang menyerah. Perjalanan untuk menjadi Achiever University tidaklah mudah karena harus menghadapi berbagai rintangan dan kesulitan. Ini yang membedakannya dengan Mediocre University; Universitas Gampangan bermental menerabas yang mengembangkan budaya akademik jalan pintas ( short-cut academic culture).

Keenam, kegigihan (perseverence). Kegigihan adalah kekuatan untuk bertahan menghadapi berbagai tekanan, situasi sulit dan tantangan masalah. Kegigihan merupakan sebuah kekuatan jiwa seseorang, khususnya dalam menghadapi berbagai penderitaan hidup akibat keterpurukan, kekalahan, kerugian, kehilangan, atau tantangan kehidupan lainnya.

Kegigihan dalam diri seseorang akan menjadikan orang itu tidak mudah menyerah dan tahan banting. Menemukan berbagai cara yang baik dan benar untuk mencapai sesuatu merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam sebuah pencapaian yang memiliki integritas.

Ketujuh, kerendahan hati (humility). Kerendahan hati adalah suatu sikap yang tidak membanggakan diri sendiri, melainkan menyadari bahwa semua pencapaian adalah hasil pertolongan Tuhan. Kerendahan hati tidaklah sama dengan rendah diri atau rasa minder. Rendah diri merupakan kelemahan, sedangkan rendah hati merupakan kekuatan. Salah satu ciri dari orang rendah hati adalah mereka tidak meman­dang rendah orang lain. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.

Demikianlah sejumlah karakter yang patut kita bentuk dan kembangkan untuk menjadi Universitas Penggapai (Achiever University). Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan di Indonesia. Selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter diharapkan mampu menjadi fondasi utama dalam meraih kejayaan Indonesia Emas 2025.

Kemajuan dalam Riset dan Pengembangan Biologi sebagai sains masa depan terus memberikan kontribusi dalam pemahaman tentang bagaimana  membangun kekuatan intangibles untuk meraih keunggulan dalam kompetisi di dunia yang semakin memper­taruhkan talenta. Karakter apa yang telah kita bentuk dan kembangkan di taman akademos hingga di usia kita yang mencapai empat puluh delapan ini? Wallahualam bil sawaf! ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s