Lobi-Lobi Profesor

Oleh Giovani Gabreli

Hasil pemilihan Dekan Faperika sempat draw. Lobi-lobi jabatan jadi solusi.

HARI kedua puluh bulan Januari. Pagi sebelum berangkat ke kampus, Thamrin menghubungi Rifardi via telepon. “Kalau pemilihan nanti hasilnya draw, situ kemana larinya? Seandainya saya draw dengan incumbent, saya minta tolong lah dipilih,” pinta Thamrin. “Ok,” jawab Rifardi.

Kiri-Kanan; Prof Dewita, Prof Thamrin, dan Prof Bustari

Thamrin sudah bisa menebak jumlah suara yang akan didapatnya nanti. Satu hari sebelum pemilihan, ia sudah lihat peta kekuatan. “Saya akan dapat 11 suara. Suara yang akan berubah suara incumbent. Suara saya tak akan berubah,” kata Thamrin.

Tak hanya Thamrin, Aprizal Tanjung, pendukung Dewita Bukhari, juga sudah memperkirakan suara Dewita. Sebelum berangkat ke kampus untuk memberikan hak suara, semua sudah diperkirakannya. “Suara setelah pemilihan 11-11-8. Bustari dan Thamrin imbang, Dewita 8 suara,” ujarnya.

Di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (Faperika) Universitas Riau (UR). Pukul 09.00, semua anggota senat Faperika sudah berkumpul di ruang Atlantik, Gedung Dekanat Lantai Dua. Jumlahnya pas 30 orang. Di ruang itu akan diadakan rapat senat terbuka dalam rangka pemilihan dekan Faperika periode 2010-2014. Tiga orang maju;  Bustari Hasan, Thamrin, dan Dewita Bukhari.

Para anggota senat duduk sesuai nomor urut yang telah disediakan. Guru besar di deretan terdepan. Ketiga panitia pemilihan dekan; Ridwan Manda Putra (ketua), Jasril (sekretaris), dan Syahrul (anggota) duduk berhadapan dengan guru besar deretan terdepan itu. Di depan sebelah kanan, duduk Ketua Senat, Bustari Hasan.

Aprizal Tanjung, anggota senat dari wakil dosen Ilmu Kelautan duduk bersebelahan dengan Usman Tang. “Kalian menang,” bisik Tanjung di telinga Usman. “Masak iya?” tanya Usman tak percaya. “Iya, tapi berdua sama incumbent. Suaranya 11-11-8.”

Ridwan Manda mengawali proses pemilihan dengan membacakan tata tertib pemilihan. Kotak suara dikosongkan dan diletakkan ke depan ruangan. Lembar suara berada di atas meja. Satu per satu anggota senat mulai maju setelah dipanggil panitia. Bustari mengawali pencontrengan. Disusul Ridwan Manda, Sekretaris Senat. Berikutnya Pembantu Dekan (PD) I, II, III, dan IV. Dilanjutkan para guru besar. Terakhir giliran anggota senat utusan mahasiswa.

Setelah semua selesai mencon­treng, acara berlanjut ke penghitungan suara. Jasril menuliskan hasilnya di papan tulis. Ia memberi turus di setiap nama yang keluar dari surat suara. Ridwan Manda membuka dan mem­ba­cakan nama yang dicontreng pada surat suara. Sambil membaca, surat suara diangkat dan dilihatkan ke seluruh hadirin. Ada pula dua orang yang jadi saksi jalannya penghitungan suara.

Sekitar pukul 11.00, suara selesai dihitung. Hasilnya, 11 suara untuk Bustari, 11 suara untuk Thamrin, dan 8 suara untuk Dewita—sesuai prediksi Tanjung. Usai itu, Ridwan Manda langsung ambil alih forum. Ia tawarkan jeda 15 menit sembari menyiapkan kertas suara baru. Namun muncul usulan jeda satu jam. Banyak suara lain beri usulan sama. Belum sempat diputuskan, mereka sudah membubarkan diri. “Ok ya, satu jam,” kata mereka serempak sembari berjalan keluar ruangan.

“Maksud saya jeda di dalam ruangan saja sembari panitia siapkan surat suara,” kata Ridwan Manda. “Memang saya tak tegas di situ. Saya berada pada posisi sulit,” akunya.

Sekitar pukul 13.00, ketua panitia panggil para anggota senat kembali ke ruangan pemilihan. Segala keperluan pemilihan sudah disiapkan. Kertas suara baru sudah ada, terpampang dua calon, Bustari Hasan dan Thamrin.           Pemilihan putaran kedua dila­kukan. Diawali dari utusan mahasiswa, terus berlanjut hingga ketua senat. Setelah semua sudah dapat giliran memilih, dilakukan penghitungan suara. Bustari berhasil ungguli Thamrin. Selisihnya 4 suara; Bustari Hasan 17 suara dan Thamrin 13 suara.

Sidang senat terbuka dalam rangka pemilihan dekan usai. Bustari menutup sidang. Dalam pidatonya, ia katakan agar yang menang dan yang kalah saling mendukung.

Saat jeda. Di depan ruang Atlantik, Thamrin berpapasan dengan Rifardi. Ia kembali minta dukungan. “Kami akan bantu sampean,” jawab Rifardi.
Masing-masing tim pendukung calon berkumpul. Tim Dewita berkumpul di ruangan Jurusan Pengelolaan Sumberdaya Perairan (PSP). Tim Thamrin berkumpul di ruangan Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan (SEP). Tim Bustari Hasan berkumpul di ruangan dekan.

Proses lobi dimulai. Diawali oleh Aprizal Tanjung dan Rifardi—pendukung Dewita. Mereka menda­tangi Bustari di ruangan dekan. Mereka bernegosiasi di sana. Tanjung dan Rifardi beri syarat bila Bustari ingin mereka pilih. Syaratnya, kalau Bustari menang, semua pembantu dekan (PD) harus dari tim Dewita. Bustari minta waktu berpikir dan berunding dengan timnya.

Sembari menunggu, Tanjung dan Rifardi mendatangi Thamrin di ruangan SEP. Mereka bernegosiasi pula. Tanjung dan Rifardi ajukan syarat yang sama. Bila Thamrin menang, semua PD harus dari kelompok Dewita. Beda dengan Bustari yang pikir-pikir dulu, Thamrin langsung menolak. “Kami sudah punya kabinet,” kata Thamrin.

Karena ditolak, Tanjung dan Rifardi kembali ke ruangan dekan, menjumpai Bustari. Tawaran kedua tim Dewita ini sama, semua jabatan PD dari kelompok mereka. Akhirnya Bustari minta satu jabatan PD saja untuknya, PD IV. Mendapat tawaran itu, Tanjung dan Rifardi kembali ke ruang PSP, berembuk bersama timnya.

Sedang asyik berembuk, Thamrin datang ke ruang PSP. Thamrin ajukan syarat berbeda. Dua PD dari kelom­pok dia dan dua PD lagi dari kelom­pok Dewita, namun dia yang memilih. Kelompok Dewita kebe­ratan. Setelah Thamrin pergi, Bustari datang ke ruang PSP. Ia menanyakan jawaban dari syarat yang diajukannya. Tim Dewita akhirnya sepakat dengan tawaran Bustari, tiga PD dari timnya dan satu PD dari tim Bustari. Usai didapat kesepakatan, Bustari keluar dari ruangan PSP.

Sementara di samping gedung dekanat Faperika, terpampang baliho berukuran besar. Di sana dipajang wajah Thamrin sebagai Dekan Faperika, Sofyan Husin Siregar sebagai PD I, Firman Nugroho sebagai PD II, Ridwan Manda Putra sebagai PD III, dan Pareng Rengi sebagai PD IV.

Semua calon dipilih berdasar kapasitasnya masing-masing. Thamrin mengaku sudah melihat kompetensi calon-calon yang diusungnya. Sofyan berhasil membawa Jurusan Ilmu Kelautan meraih predikat jurusan terbaik se-Indonesia. Firman berhasil membuat Jurusan SEP berakreditasi A. Ridwan Manda sudah terbukti kualitasnya dengan berpuluh tahun membantu Lembaga Pengabdian Masyarakat UR. Sedang­kan Pareng Rengi, keaktifannya di bidang kerjasama tak diragukan lagi. “Saya yakin saat mengusung mereka,” kata Thamrin. “Baliho itu hanya ingin menunjukkan konsistensi kami,” tegas Sofyan.

Kembali ke tim pendukung Dewita. Mereka berjalan beriringan dari ruang SEP, kembali ke ruang pemilihan. Tanjung berjalan di posisi depan. Tanjung mengaku, saat itu banyak tim-nya ke Thamrin. “Kalian tak pikirkan aku,” kata Tanjung. Semua kaget mendengar ucapan Tanjung.

Mereka berembuk kembali dan sepakat pilih Bustari. Untuk meyakinkan Bustari akan pakai calon yang mereka usung, mereka sepakat bikin surat perjanjian. Isinya, bila Bustari terpilih, ia akan pakai tiga calon PD dari tim Dewita. Surat ditanda tangani Bustari, Deni Elfizon sebagai saksi pihak Bustari, dan Soeardi Loekman, saksi Dewita. Sedangkan Dewita tak ada tanda tangan. “Saya saja tak pernah lihat suratnya, bagaimana mau tanda tangan,” ujarnya. Akhirnya dari 8 suara Dewita, 6 suara pilih Bustari dan 2 suara pilih Thamrin. lovina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s