Sastra Multikultur

Oleh Erliana

KAMIS (14/10). Di Ruang Pertemuan Balai Bahasa depan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau (UR) digelar sosialisasi dan diskusi sastra Satelite Event of Ubud Writters & Readers Festival 2010. Temanya Sastra Multikultur. Duduk di atas kursi dengan posisi melingkar berhadapan, dua sastrawan asal Amerika dan Australia serta seorang penerjemah asal Bali. Chris seorang novelis, Ezra seorang pemilik club teater dan penulis puisi, serta Zun koordinator Ubud.

Chris dan Ezra punya cara berbeda dalam menulis. “Buat novel pasti ingin cepat selesai,” kata Chris. Sedangkan Ezra cenderung menuangkan semua kejadian atau perjalanan dalam bentuk puisi.

Timbul pertanyaan dari peserta. Mulai menulis biasanya sulit. Kalau sudah macet menulis, apa yang dilakukan? “Ngapain dilakukan kalau sulit,” jawab Chris. “Masuk lebih dalam lagi ke dalamnya,” tambahnya.

Menurut Chris, kalau karya ingin bagus harus mau dikritik. Setiap penulis harus punya teman dekat yang bisa mengoreksi hasil karya. “Saya sendiri punya lima teman dekat. Setelah selesai nulis, langsung minta pendapat mereka.”

Chris juga beri trik bagaimana menemukan karakter dalam diri tokoh yang ditulis. “Manusia akan terlihat karakternya jika gembira, sedih, atau sedang membutuhkan.”

Bagi Amy, anggota komunitas Paragraf, acaranya menarik. “Tapi karena tak terlalu ngerti bahasa Inggris jadi kurang paham.” Namun setidaknya ia tahu perbandingan budaya antara dalam dan luar negeri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s