Belajar dari Kanada

Oleh Trinata Pardede

1301080549137779782

Ryanda Adiguna

RASA tak percaya diri hinggapi Ryanda. Bagaimana kalau orang-orang Kanada ini lebih pintar? pikirnya. Namun setelah ia jalani dan sering berinteraksi dengan mahasiswa Kanada, ia tahu. Asumsinya tak seperti yang ia duga.

“Orang Indonesia banyak yang pintar, tapi lebih banyak takutnya. Beda dengan mereka.”

RYANDA Adiguna, mahasiswa Hubungan Internasional FISIP angkatan 2007. Masuk Universitas Riau melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Daerah. Sebelumnya dari jenjang sekolah dasar hingga menengah atas ia jalani pendidikan di Cendana Rumbai.

Ryanda salah satu peserta Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada (PPIK) pada 2010. Pertukaran pemuda antar Negara. Pria kelahiran 17 September 1989 ini terpilih pada April 2010. “Ini jadi momen yang selalu saya ingat,” ujar Ryanda.

Sebelumnya ia pernah dua kali mencoba mendaftar. Pertama, ia tak mengembalikan formulir yang telah diisinya ke panitia. “Belum percaya diri,” ujar Ryanda. Tahun berikutnya ia mendaftar dan hanya masuk 6 besar.

Pada 2010 ia kembali mencoba ikut seleksi pertukaran pemuda dengan pilihan Negara Kanada, Australia dan Jepang. “Negara tujuan itu direkomendasikan senior, yang tahu cocoknya kita dimana,” jelas Ryanda. Setiap tahun tujuan Negara pertukaran pemuda bisa berubah-ubah. Sebelumnya pilihannya adalah Australia, Malaysia, Singapura, Korea dan Kanada.

Untuk mendaftar kegiatan ini, peserta mendaftar ke Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dispora) dan nantinya akan diseleksi. “Tidak mudah prosesnya,” ujar pria yang suka ekonomi, politik dan hukum ini. Tes yang dilalui meliputi psikotes, bahasa Inggris, seni dan lainnya.

Tiap Negara memiliki program, waktu pelaksanaan dan ketentuan yang berbeda. Di Australia, pertukaran pemuda berlangsung selama 3 bulan dan umur peserta maksimal yang ikut adalah 21 tahun. Sedangkan di Kanada, maksimal umur yang mendaftar adalah 23 dan lama program hingga 6 bulan.

Tiga hari setelah Idul Fitri, Ryanda berangkat ke Jakarta untuk ikuti pelatihan. Peserta dari Indonesia dan Kanada masing-masing 27 orang. Dipandu oleh supervisor, mereka akan merencanakan program selama tiga bulan di Kanada dan di Indonesia.

Pelatihan yang diberikan seperti tata cara makan di Kanada, table manner, pengetahuan umum tentang Kanada dan kondisi penduduknya. Aturan-aturan yang berlaku di Kanada juga diberitahu. Seperti jika ada dua orang lelaki saling berangkulan, di Kanada hal itu termasuk harassment, pelecehan seksual. “Jadi harus hati-hati,” ujar Ryanda.

TIGA bulan di Kanada, Ryanda tinggal dengan orang tua angkat. Ia menetap di kediaman keluarga Dan Brown. Keluarga ini miliki empat orang anak kandung, serta empat orang anak angkat dari program pertukaran pemuda. Diantaranya, satu dari Jepang, Korea, Kanada dan Ryanda sendiri.

Ryanda tinggal di Truro, Kota Novaskotsia. Di daerah yang miliki dua musim ini—panas dan dingin—di setiap rumahnya disediakan pemanas ruangan. Saat Ryanda ke Kanada, musim dingin bersalju sedang berlangsung. Sehingga aktivitas diluar ruangan sangat jarang dilakukan. “Palingan ada yang kumpul di taman, tempat skateboard dan lainnya,” jelas Ryanda. Tapi ia menambahkan bahwa pemandangan tersebut bagus untuk diabadikan dalam lensa kamera.

Di daerah tersebut Ryanda hanya menemukan orang Indonesia dari teman-teman sekelompok yang ikuti program. Kebanyakan masyarakat gunakan bahasa Inggris dan Perancis untuk berkomunikasi. Aturan di Kanada pun sangat ketat. “Bisa jadi karena hal sepele, seperti kita di rangkul atau dipukul, kita berhak melapor kepolisi,” jelas Ryanda. Begitu juga dengan aturan lalu lintas.

Selama di Kanada Ryanda harus mengikuti kebiasaan seperti sarapan roti serta makan malam bersama. “Kadang makan malamnya pizza, jadi belum puas kalau nggak ketemu nasi,” ujar Ryanda. Namun karena ada masalah dengan Canter Part, pasangannya dari Kanada, Ryanda memilih untuk pindah rumah.

Selama dua bulan sisa program, ia menetap di kediaman keluarga Benny Bart Lett, yang berprofesi sebagai guru. Ryandapun melihat-lihat universitas di Novaskotsia. Lingkungannya tertata rapi dan bersih. Ia pun belajar bahwa interaksi jadi komponen penting disini. “Ya berbaur dengan tetangga, tukaran email dan kartu nama,” ujar Ryanda.

Selama di Truro, Ryanda jadi relawan di tempat perawatan masyarakat yang miliki keterbatasan fisik. Ia menjaga toko barang bekas, barang-barang yang telah terjual nantinya akan didonasikan untuk tempat perawatan tersebut.

Kejadian paling menarik menurut Ryanda ketika berkomunikasi dengan pasien tempat perawatan tersebut. Karena cara bicara yang kurang jelas, nama Ryanda berubah menjadi Rayen ketika disebut. Ia pun sempat membawa kamus kemana-mana supaya ia bisa mencari kata-kata yang ia tak ketahui artinya. “Kalau lawan bicaranya ngomong cepat, itu bikin bingung,” ujarnya.

Ryanda juga banyak belajar tentang bagaimana rasa kebersamaan ditanamkan dari tingkat keluarga. Mulai dari makan bersama, setelah makan, juga bersama-sama membereskan tempat makan dan piring kotor, serta menjaga kebersihan. “Dalam satu rumah itu bisa jadi ada tiga sampai empat tempat sampah,” ujar Ryanda. Jenis sampahpun dipisahkan antara anorganik dan organik. “Ketika berkunjung kekantor ataupun tempat-tempat umum, pasti semuanya tersedia tempat sampah,” ujarnya.

Orangtua angkat Ryanda sering bercerita tentang kedisiplinan siswa disekolah. Jika ada sampah yang berserakan, guru akan bertanya siapa yang membuang sampah sembarangan. Murid tersebut akan disuruh mengambil sampah dan membuang pada tempatnya. Nilai tersebut ditanamkan sejak dini.

KETIKA bencana Gunung Merapi meletus, Ryanda dan teman-teman membuat acara Culture Show, pertunjukan senibudaya. Tujuannya untuk menggalang dana bagi korban bencana alam. Merekapun persiapkan segalanya. Mulai dari undangan, konsep acara dan penyebaran tiket. Mereka tampilkan kesenian dari daerah masing-masing.

Ryanda dan teman-temannya tampilkan tarian Rentak Bulian, dari Riau. Setelah latihan selama dua hari, mereka siap tampil. Kemenyan dan pakaian adat yang seharusnya digunakan, mereka ganti dengan air dan seragam hitam. “Berhubung di Kanada, perlengkapan itu tidak ada, jadi disesuaikan saja,” ujarnya.

Para pengunjung menyaksikan penampilan dari mahasiswa Indonesia tersebut. Walaupun tak mengerti makna yang disampaikan, mereka tetap menyaksikan. “Kadang mereka malah bertanya dimana Indonesia,” ujar Ryanda meniru pertanyaan yang diutarakan. Seringnya Ryanda menjelaskan Indonesia berdekatan dengan Australia, barulah mereka mengerti.

Momen Sumpah Pemudapun dilewati Ryanda dan teman-temannya di Kanada. Mereka tetap melaksanakan upacara seadanya. “Cari tiang kayu, lalu upacara seperti biasanya,” ujar Ryanda. Saat lagu Padamu Negeri, rasa rindu akan Indonesia Ryanda rasakan sampai merinding. “Kangen rumah,” ujar Ryanda.

SETELAH tiga bulan di Kanada, program berlanjut di Indonesia. Tempat yang dipilih adalah Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Secara umum kegiatan yang dilakukan sama saja. “Yang beda tentu suasana dan kebiasaan disini,” ujar Ryanda. Jika di Kanada toilet dan tempat mandinya bagus, di Indonesia mereka harus puas dengan mandi di sungai.

“Intinya pertukaran ya itu, sama-sama merasakan,” tutur pria yang jadi Bujang Dara Pekanbaru pada Maret 2012 lalu ini. Keluhan tetap selalu ada. Mulai dari permasalahan dengan teman sekelompok, dengan masyarakat atau cuaca yang panas.

Di Palangkaraya mereka mengajar di SD hingga SMA. Terkadang juga berkunjung ke Lembaga Swadaya Masyarakat dan membantu di kebun. Untuk masalah kebiasaan dan makanan, Ryanda tak alami masalah.

SEPULANG dari kegiatan PPIK, Ryanda termotivasi untuk ikut kegiatan yang positif. Ia jadi semakin berani daripada sebelumnya. “Selagi masih muda, gunakan waktu dengan baik,” ujar pria yang aktif di Korps Mahasiswa Hubungan Internasional dan Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP ini.

Hal yang paling ia ingat, pemuda Indonesia juga banyak yang pintar. tapi karena system kita yang menerapkan budaya menghafal, membuat daya berpikir dan kreatifnya tak terasah. Sehingga ada yang jadi takut untuk mengemukakan pendapat.

“Kalau di Kanada, walaupun mereka tak terlalu pintar, tapi mereka diajarkan untuk aktif dan tak takut,” jelas Ryanda. #

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s