Tak Lulus, Ya Ulang Lagi

Oleh Jeffri Novrizal Torade Sianturi

Dilema demi tingkatkan mutu pendidikan Bahasa Inggris di UR

Gedung UP2B UR

Gedung UP2B UR

BANYAK mahasiswa berkumpul didepan gedung berhalaman luas ini. Menggunakan kemeja putih dengan bawahan hitam, sebagian berdiri di depan pintu masuk. Sebagian lagi di dekat papan pengumuman. Melihat-lihat nama dan poin yang mereka peroleh dari tes sebelumnya.

Setelah dipersilakan masuk, mahasiswa meletakkan tas dan memilih tempat duduk. Di atas meja tulis merangkap meja komputer telah tersedia buku soal serta kertas isian jawaban. Buku soal diberi nomor, begitu juga dengan kertas isian yang nantinya akan diperiksa dengan sistem komputerisasi.

Mahasiswa melaksanakan Test Of English as a Foreign Language (TOEFL) di Unit Pelayanan dan Pengembangan Bahasa (UP2B) Universitas Riau (UR). Ini merupakan ujian tahap ketiga di akhir semester. Kesempatan terakhir ujian di semester ini. Jika tak lulus, maka harus mengulang lagi di semester depan.

TOEFL, test uji kemampuan Bahasa Inggris yang harus diikuti  mahasiswa UR sebagai syarat peroleh gelar sarjana. Hal ini didasarkan pada putusan Rektor UR nomor 68/J19/AK/2004. Rektor menyatakan hal ini diwajibkan untuk tingkatkan mutu pendidikan khususnya Bahasa Inggris. Terlebih lagi untuk adakan perubahan dan pembaharuan kurikulum bagi mahasiswa.

Test ini dikelola oleh UP2B selaku pusat pengembangan berbagai bahasa. Tujuan didirikannya UP2B sebagai tempat pelayanan pendidikan bahasa bagi dosen yang akan melanjutkan ke luar negeri, mahasiswa ataupun masyarakat umum.

Tak hanya Bahasa Inggris, di UP2B juga bisa belajar Bahasa Jepang, Mandarin dan lainnya. Test TOEFL dilakukan dengan menjawab soal-soal yang diberikan. Test terbagi dalam beberapa kelompok diantaranya listening dan reading.

Mahasiswa dapat dinyatakan lulus jika telah peroleh score minimal 450. Hal ini didasarkan putusan Senat UR tanggal 7 Mei 2003. Dinyatakan mahasiswa jenjang Strata satu (S1) baik regular maupun non regular di lingkungan UR, pada masa akhir studinya wajib peroleh nilai TOEFL minimal 450. Kecuali jurusan Bahasa Inggris pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tidak diwajibkan untuk mengikuti TOEFL.

Dalam satu semester mahasiswa mengikuti tiga kali tes. Yaitu diawal semester, pada masa Ujian Tengah Semester (UTS) dan akhir semester. Jika setelah ikuti tes hingga akhir semester, mahasiswa tak juga berhasil raih score 450, maka ia harus mengulang semester selanjutnya.

Jika telah mencapai score 450, maka nilai B akan diperoleh mahasiswa dan di input dalam Kartu Hasil Studi (KHS) pada mata kuliah Bahasa Inggris. Jika score mencapai lebih atau sama dengan 500, maka diberi nilai A.

KETIKA mahasiswa mendaftar ikuti tes TOEFL, ia dikenakan biaya sebesar Rp 150 ribu. Ia bisa ikuti test sebanyak tiga kali, mendapat buku panduan, soal latihan serta mengikuti kelas belajar Bahasa Inggris selama satu semester.

“Kita membuka kelas belajar ini untuk membantu mahasiswa, tapi yang mau berpartisipasi tidak banyak,” ujar Raida Johar, Kepala UP2B. ia juga menambahkan, jika mahasiswa mau mengikuti terus pembelajaran yang diberikan sesuai prosedur kelulusan bisa diperoleh. “UP2B yang menjamin,” tegasnya.

Sayangnya, mahasiswa kebanyakan hanya mengikuti tes TOEFL saja. Tak banyak yang ikut kelas belajar. Terlebih karena fasilitas penunjang pembelajaran Bahasa Inggris ini tak memadai.

Untuk menunjang proses pembelajaran, dibutuhkan berbagai sarana. Seperti komputer, headphone, ruang kelas yang kondusif serta akses internet. Namun fasilitas tersebut belum  bisa terwujud. Terlebih lagi komputer sebagai media pembelajaran yang lebih efektif tak bisa digunakan karena rusak. Lebih dari 70 komputer tersedia di UP2B, tapi beberapa dalam kondisi tak baik.

“Pernah diperbaiki, tapi hanya bertahan tujuh bulan. Maklumlah banyak tanggan yang menggunakan,” ujar Raida.

Terkait fasilitas yang tersedia, Raida selaku pengelola pun merasa kurang puas dengan pelayanan yang ada. Ia berencana untuk atasi masalah komputer yang tak bisa digunakan, setiap mahasiswa membawa laptop masing-masing. “UP2B menyediakan jaringan WiFi, sehingga mahasiswa dapat belajar dengan kondusif,” tambahnya.

Untuk tenaga pengajar di UP2B, rata-rata merupakan dosen Bahasa Inggris di FKIP ataupun dari fakultas lain. Dengan pertimbangan dosen tersebut memenuhi kriteria seperti berpengalaman mengajar Bahasa Inggris. Sampai saat ini tenaga pengajar yang tersedia di UP2B ada 25 orang.

SUARA  percakapan terdengar dari speaker yang berada di sudut atas ruangan. Mahasiswa mendengarkan percakapan tersebut sembari membaca soal. Sedangkan pengawas berkeliling untuk memastikan tak ada yang mencontek.

Ujian Toelf di UP2B UR

Ujian Toelf di UP2B UR

Tak jarang mahasiswa membawa contekan saat tes. Contekan diperoleh dari mahasiswa yang membawa soal pulang dan menyebarkan jawabannya. “untuk meminimalisir hal ini, kami selalu mengadakan pengeditan ulang soal sekali setahun,” jelas Raida.

Pengawasan pun ditingkatkan. Raida jelaskan jika ada yang kedapatan membawa contekan, ia akan diberi sanksi berupa diskualifikasi tak bisa ikuti tes. “Sebelum ujian dimulai, pengawas akan berikan pengarahan dan peringatan ke peserta agar tak lakukan perbuatan curang.”

Himbauan terkait menyelesaikan target TOEFL pun disampaikan oleh Pembantu Rektor I, Aras Mulyadi. “Lebih baik ambil diawal semester agar lebih mudah,” ujarnya. Ia pun menambahkan, ikuti tes TOEFL ini bukan hanya untuk mengejar nilai, tapi juga untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris.

Hal itu disampaikan karena terkadang mahasiswa setelah tak lulus tes semester pertama, baru kembali ikuti tes saat semester akhir jelang wisuda. Akhirnya malah terbebani karena sudah mepet waktu.

“Selama mengikuti prosedur yang ada, UP2B bisa menjamin mahasiswa pasti lulus,” ujar Raida. Setiap melakukan tes awal, sekitar 10 hingga 15 persen mahasiswa dapat lulus. Sisanya baru mengulang pada tes selanjutnya.

Jika mahasiswa terus mencoba dari semester satu hingga tiga secara intensif tapi tak juga lulus, UP2B beri kemudahan. “Kita bebaskan dari biaya pendaftaran saat mendaftar di semester empat,” ujar Raida.

UP2B juga beri kemudahan dalam penilaian hasil tes. Nilai tertinggi yang dapat diperoleh adalah 677, sedangkan nilai terendah 217. Sehingga, saat jawaban mahasiswa banyak yang tidak tepat, ia tetap mendapat poin minimum yaitu 217.

Nantinya nilai tersebut akan dicantumkan dalam sertifikat TOEFL. Sertifikat ini diserahkan bersama berkas-berkas untuk melengkapi persyaratan wisuda.

MELIHAT persoalan TOEFL di UR, kru Bahana News adakan jajak pedapat berupa kuisioner. Sebanyak 355 angket disebarkan kepada mahasiswa berbagai fakultas di UR. Jajak pendapat dilaksanakan dari 14 hingga 16 Januari 2013. Angket yang dikembalikan sebanyak 284 lembar ini tak dimaksudkan untuk mewakili pendapat seluruh mahasiswa.

Dari hasil jajak pendapat terkait kelulusan saat tes, diperoleh bahwa 74 persen mahasiswa baru bisa lulus setelah ikut tes lebih dari satu kali. Sedangkan 24 persen lainnya lulus pada tes pertama. Dari 75 mahasiswa yang lulus saat tes pertama, 67 orang meraih score antara 450 hingga 500. Sedangkan delapan orang lainnya meraih score lebih dari 500.

Mereka yang lulus pada tes kedua dan tiga ada sekitar 56 persen. Lulus setelah ikuti tes sampai empat hingga enam kali sekitar 32 persen, sedangkan 12 persen lagi lulus setelah ikuti tes sebanyak tujuh kali.

Terkait harapan dari responden tentang fasilitas di UP2B, hal yang mendominasi adalah peningkatan fasilitas komputer dan earphone saat listening. “Jika tidak, pengeras suara yang digunakan bisa lebih baik dan jelas suaranya,” tulis salah satu responden.

Selain itu tempat penitipan tas mahasiswa yang lebih layak dapat diperhatikan pengelola UP2B. Sebagai salah satu cara peningkatan fasilitas yang ada. Memang telah tersedia lemari tempat penitipan tas, namun tempat yang tersedia tak cukup sehingga tas tersebut akhirnya diletakkan begitu saja di lantai. Begitu ujian selesai tak jarang tas tersebut terinjak-injak.

Kejelasan informasi tentang tes TOEFL juga diharapkan sampai ke fakultas lain di luar kampus Panam. Hal itu karena terkadang terlambatnya mahasiswa tahu informasi tentang pembelajaran atau tes TOEFL di kampus mereka. Seperti Fakultas Kedokteran di daerah Hangtuah, Fakultas Hukum dan Jurusan PSIK di Gobah, Jurusan PGSD di Sudirman serta Jurusan Penjaskes dan Kepelatihan di Rumbai.

Pelayanan yang ramah dari staff UP2B juga diharapkan para responden. Soal sertifikat yang diberikan sebagai syarat kelulusan dari UP2B, responden mengharapkan lebih berkualitas. Tidak hanya berlaku sebagai syarat kelulusan, tapi juga berlaku skala nasional ataupun internasional.#

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s